Dosen FP UB Ajak Masyarakat Desa Tulungrejo, Ngantang Bangga sebagai Penjaga Sumberdaya Tanah dan Air

Sabtu, (7/10, Prof Dr. Edzo Velkamp dan Dr. Marife D. Corre dari Universitas Gottingen- Jerman, tamu Departemen Tanah, FP UB bersama tim Pusat Studi Agroforestri Tropis mengunjungi Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang. Desa tersebut merupakan sentral pengembangan kopi pada zaman Belanda, saat ini merupakan salah satu desa tempat penelitian, praktek lapangan mahasiswa dan pengabdian Masyarakat (Pengmas). Kunjungan ini merupakan rangkaian kunjungan tamu sebelumnya pada tanggal 01 September 2023, yaitu Dr. Erika Speelman dan Prof. Meine van Noordwijk  dari Wageningen University and Research, Belanda, Dr. Grace Villamor dari SCION Crown Research Institute, Selandia Baru, Dr. Ajit Singh dari University of Nottingham di Malaysia, dan Dr. Prasit Wangpakapattanawong  dari Chiang Mai University, Thailand.  Datang di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang kesan pertama mereka adalah udaranya segar, pemandangan yang asri dan penduduk desa yang ramah”.  Para tamu tersebut diajak menjelajahi transek lanskap desa untuk mengenali keragaman agroforestri yang ditata dan dijaga masyarakat atas kearifan lokal. Agroforestri di daerah tersebut  dijaga untuk mempertahankan tarik ulur keseimbangan kepentingan ekonomi pemiliknya dengan semangat menjaga layanan lingkungan ekosistemnya. Di lahan hak milik petani, agroforestri umumnya lebih kompleks dan memiliki keanekaragaman tanaman yang tinggi seperti agroforestri berbasis kopi dengan naungan durian, alpukat, jengkol/petai, surian, maupun nangka.

Petani cenderung memilih pohon yang memiliki nilai manfaat ekonomi yang tinggi guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk agroforestri di hutan produksi dibawah manajemen Perum Perhutani umumnya lebih sederhana atau memiliki keanekaragaman tanaman yang lebih rendah seperti agroforestri berbasis pinus dan rumput gajah ataupun pinus dengan kopi. Spirit menjaga ekosistem ini  didasarkan atas pengalaman pahit masa lampau, bahwa lahan-lahan miring di desa Tulungrejo dimanfaatkan untuk pertanaman semusim tanpa menerapkan kaidah konservasi tanah yang benar dan tepat, sehingga desa ini mengalami kebanjiran dan banyak lahan tersebut mengalami kelongsoran.

Tamu asing dari Departemen Tanah, FP UB tersebut juga mengikuti kegiatan Pengmas dosen FP UB sebagai observer. Pada tanggal 01 September 2023, setelah Sholat Jumat, di balai Desa Tulungrejo berdatangan sekitar 30 orang perwakilan tokoh Masyarakat desa, Kepala Desa, Sekretrais Desa dan perangkat desa serta perwakilan desa sekitarnya untuk menghadiri Pengmas dosen Departemen Tanah, FP UB dengan thema “Sambung Rasa Keunggulan Kebun Campuran Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang”.

Pengmas tersebut juga dihadiri oleh Sekretaris Camat Ngantang. Pengmas ini dipandu fasilitator Rizki Maulana Ishaq  MS dan Mila Oktavia Mardiani, SP, MS. Sambung rasa pertama disampaikan oleh Prof Didik Suprayogo dengan mengajak masyakat desa Tulungrejo untuk patut berbangga bahwa” Desa Tulungrejo desa idaman jogotirto”. Jogotirto adalah istilah Jawa yang artinya penjaga air. Masyarakat Desa Tulungrejo dalam jangka panjang dengan kearifan lokalnya mampu menjaga 63% dari total luas desa sebagai tutupan lahan yang dapat berfungsi sebagai fungsi hidrologi hutan. Fungsi hidrologi hutan ini bermakna bahwa bila terjadi hujan deras, maka lebih dari 90% air hujan dapat masuk kedalam tanah memalui proses infiltrasi dan sebagian diserap canopy daun. Kurang dari 10% menjadi limpasan permukaan, sehingga bagi menyehatkan lingkungan dan tidak  menyebabkan banjir didaerah hilirnya. Karena kemampuan penyangga air hujan yang besar oleh tutupan lahan, maka air yang masuk kedalam tanah dapat menjadi masukan sumber-sumber air yang bersih. Hasil pengetesan kualitas air di sumber-sumber air dikawasan penyangga ini kualitasnya juga tidak kalah dengan kualitas air kemasan dengan merk dagang terkenal di Indonesia. Sumber-sumber air tersebut di musim kemarau masih terus mengalir. Kondisi inilah menjadikan Desa Tulungrejo dapat dinyatakan desa idaman jogotirto yang sepatutnya dibanggakan dan mendapatkan apresiasi dalam memberikan jasa lingkungan bagi Masyarakat hilir, dan disisi lain masyarakat desa mendapatkan sumber pendapatan yang berkelanjutan dari sistem agroforestri.

Dr. Syarul Kurniawan mengajak petani Tulungrejo untuk melihat potensi ekonomi agroforestri, terutama penggunaan limbah ternak untuk diolah menjadi pupuk organik sebagai substitusi pupuk buatan yang saat ini semakin mahal dan langka. Hal ini didasarkan pada ketersediaan limbah kotoran sapi sebagai bahan baku pupuk organik yang melimpah karena rata-rata petani di desa Tulungrejo memiliki 2 – 3 ekor sapi. Pak Syahrul memfasilitasi petani dalam memahami fungsi pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah. Disamping itu juga petani diberi petunjuk cara membuat pupuk kompos dari limbah kotoran sapi dan aplikasi pupuk tersebut di lahan petani.

Prof. Kurniatun Hairiah dengan alat peraga peran cacing tanah dalam menggemburkan tanah,  yang telah dipersiapkan sebelumnya, mendemonstrasikan kepada petani bahwa managemen lahan melalui agroforestri yang dilakukan untuk menjaga kesehatan tanah. Campuran tanaman dalam sistem agroforestri dapat memberikan jumlah seresah yang banyak dan beragam. Aneka macam seresah yang terdapat di permukaan tanah tentunya berpengaruh terhadap kecepatan dekomposisi seresah. Seresah di permukaan tanah bermanfaat untuk menutup permukaan tanah sehingga dapat mengurangi air limpasan permukaan dan mencegah terjadinya erosi tanah, disamping bermanfaat untuk sumber pakan bagi cacing tanah dan perbaikan kesuburan tanah. Cacing tanah sebagai indikator kesuburan tanah dapat berkembang dengan baik di sistem agroforestri dan dengan peragakan menggunakan planar cage, cacing tanah dapat memperbaiki pori-pori tanah makro yang dapat berdampak ke infiltrasi tanah yang tinggi sehingga dapat mengurangi air limpasan permukaan dan dapat meningkatkan penyimpanan air dalam sistem tanah. [fpub/didiks/pon]