DIKST UB Gelar Climate Talk, Hadirkan Pakar Emisi Karbon

Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains & Teknologi Universitas Brawijaya (DIKST UB) bersama dengan Mission E gelar seminar Climate Talk 2024 dengan tema “Toward Zero Emission: Strategy and Innovation in Overcoming the Carbon Crisis” pada Gedung F Lantai 7 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) (29/02). Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan civitas akademika UB tentang isu lingkungan dan energi saat ini.
Perwakilan Mission E, Muhammad Aidil Fardhinata mengungkapkan kegiatan ini digelar sebagai wadah untuk berbagi informasi, pengalaman, dan solusi yang dapat membantu kita dalam mengatasi tantangan-tantangan climate crisis yang akan datang.
“Dalam kegiatan ini akan ada tiga narasumber yang ahli dalam bidang ini sehingga nanti dapat berdiskusi secara langsung,” sampainya.
Direktur DIKST, Mohammad Iqbal, S.Sos., M.IB.,DBA., dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasih terhadap Mission E telah berkolaborasi dengan UB.
“Saya ucapkan terima kasih telah menginisiasi kegiatan yang bermanfaat ini,” ucapnya.
Menurutnya, topik yang diangkat dalam seminar ini adalah topik yang serius untuk diketahui karena menyangkut mengenai sustainability. Sebagai mahasiswa yang nantinya akan terjun dalam dunia usaha dan dunia industri (DUDI) perlu memperhatikan dampak lingkungan dari proses produksi.
“Saya melihat acara ini merupakan kegiatan yang progresif dan jika dilihat dari topik yang diangkat maka ini merupakan masalah yang serius,” tekannya.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Riza Suarga Chairman Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA), Adi Putra Wawang Darmawan Manager Government Relations PT Pertamina Hulu Rokan, dan Rochman Hidayat Human Capital, Fasilities, and Community Manager PT Paiton Operation Maintenance Indonesia.
Chairman Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA), Riza Suarga memberikan penjelasan mengenai carbon credit sebagai upaya penurunan emisi karbon melalui mekanisme pasar. Menurutnya, carbon credit selain untuk penyerapan emisi karbon juga dapat dimonetisasi dalam pasar perdagangan karbon. Mengingat demand yang masih tinggi, sehingga masih terbuka lebar peluang untuk memperdagangkan credit carbon.
“Emisi karbon masih sangat tinggi hingga 160 kali lipat dibanding dengan penyerapan karbon,” ungkapnya.
Rochman Hidayat Human Capital, Fasilities, and Community Manager PT Paiton Operation Maintenance Indonesia menjelaskan pentingnya sebuah perusahaan dalam mengatasi masalah emisi karbon. Selain untuk menjaga lingkungan, alasan seperti regulasi juga dapat dipengaruhi dari keberhasilan mengatasi emisi karbon.
“Jika berhasil maka perusahaan akan mendapatkan izin untuk extend operasional usaha,” jelasnya.
Adi Putra Wawang Darmawan Manager Government Relations PT Pertamina Hulu Rokan memberikan contoh dekarbonasi yang telah dilakukan selama ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan penggunaan gas turbin.
“Upaya tersebut berkontribusi menurunkan 24% emisi karbon yang dihasilkan perusahaan,” ungkapnya. (FHN/OKY/Humas UB)