Dampingi Guru-guru di Kediri dan Malang, Dosen FIB Ulas Tema Personal Branding

Seminar Pendidikan Personal Branding
Seminar Pendidikan Personal Branding

Ada dua jenis kegiatan dosen di luar kampus. Ada yang dirancang dari kampus sebagai bentuk kegiatan penelitian dan pengabdian, tetapi juga ada kegiatan yang terjadi karena undangan masyarakat atas dasar kepakaran atau keahlian dosen. Hal itu dialami oleh dosen PS Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel, M.Hum., yang selama ini menekuni bidang Antropologi Pendidikan sebagai salah satu bidang kepakarannya.

Ketua Departemen Seni dan Antropologi Budaya FIB UB ini diundang untuk berbicara tentang tema Personal Branding di SMPK Mardi Wiyata Kediri dan SMPK Mardi Wiyata (SMPK Frateran Celaket 21) Malang. Di SMPK Mardi Wiyata Kediri, acara dilangsungkan pada Jumat (1/12/2023) sedangkan di SMPK Mardi Wiyata Malang dilangsungkan Jumat (8/12/2023).

Di Kediri, seminar diikuti oleh semua guru dan pegawai. Di Malang, pesertanya selain seluruh guru dan pegawai di kompleks SMPK dan SDK Mardi Wiyata 1, hadir juga kepala sekolah dan perwakilan guru dari beberapa sekolah lain di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata.

“Motivasi diadakannya acara ini karena kebutuhan sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dan pegawai dalam menghadapi persaingan di dunia pendidikan saat ini. Kami butuh pencerahan untuk meningkatkan mutu kerja sekolah kami,” ungkap Kepala SMPK Frateran Celaket 21, Fr. M. Vinsensius, BHK.

Dalam pemaparannya, Dr. Hipo menjelaskan bahwa ada dua sisi personal branding yang dimiliki oleh setiap orang. Ada sisi personal branding yang secara otomatis melekat dalam diri, tetapi ada sisi personal branding yang perlu diupayakan dengan jalan pengolahan diri.

“Sisi personal branding yang melekat secara otomatis itu berkaitan dengan apa yang kita miliki secara fisik. Sedangkan sisi personal branding yang perlu diupayakan berkaitan dengan upaya pengolahan potensi diri yang tidak kelihatan secara kasat mata,” jelasnya.

Dengan demikian, menurut Dosen asal NTT ini, hal-hal yang serius diolah dalam personal branding adalah kapasitas-kapasitas; intelektual, kepribadian, serta bakat, dan minat yang ada dalam diri masing-masing orang.

“Dengan pengolahan kapasitas-kapasitas diri tersebut, setiap orang dimaksimalkan dirinya untuk berkembang sebagai pribadi, tetapi juga untuk lebih berkontribusi pada Lembaga yang menaunginya,” tegas Dr. Hipo.

Lebih lanjut, dosen yang juga bergerak dalam bidang pemberdayaan ini mengatakan bahwa setelah proses pengolahan kapasitas diri tersebut, setiap orang perlu diuji dalam pekerjaanya apakah dia sudah maksimal bekerja atau belum.

“Ada banyak strategi dan alat ukur yang bisa dipakai untuk melihat perkembangan kapasitas seseorang baik secara individu maupun dalam kerja organisasi. Salah satu cara yang umum dipakai adalah membuat rencana kerja dan monitoring terus menerus atas target capaiannya yang jelas dan terukur,” katanya.

Di akhir acara, Kepala SMPK Mardi Wiyata Kediri, Fr. M. Agustinus, BHK mengatakan materi yang diberikan ini tidak sekedar memberi teori sebagai prinsip kerja, tetapi juga menyodorkan langkah-langkah membangun personal branding yang harus berkontribusi pada institutional branding.

“Menurut saya, materi tentang personal branding ini dibawakan dengan sangat baik karena tidak sekedar menghadirkan teori, tetapi menunjukkan jalan bagaimana personal branding itu harus dibangun untuk berkontribusi pada institutional branding,” tutup Fr. Agus. [dts/Humas UB]