Prasetya Online

>

Berita UB

Kekerasan Perempuan, Karena Faktor Kultural dan Struktural

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 19929

Kekerasan terhadap perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang cukup variatif. Kekerasan terhadap perempuan ini tidak lagi memandang korban dari satu dimensi saja. Namun, banyak dimenasi. Seperti usia, jenis kelamin, status sosial, dan sebagainya. Tapi, tindak kekerasan masih menempatkan perempuan sebagai objek korban. Kekerasan terhadap kaum hawa ini dapat dikatagorikan ke dalam beberapa hal antara lain penyelundupan, kekerasan rumah tangga, penyekapan, pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, pembunuhan, dan trafiking atau perdagangan perempuan dan anak-anak. Hal itu dikatakan Sri Wahyuningsih  SH MPd, pakar jender dan hukum Universitas Brawijaya dalam seminar Kiat-kiat Menuju Keluarga Harmonis dan Sejahtera dalam rangka Dies Natalis  Unibraw ke-42 di Gedung Widyaloka  Sabtu (29/1) lalu.
Sri Wahyuningsih mengatakan kasus penyelundupan bayi ini sudah bergeser menjadi tata niaga bayi yang tidak lagi manusiawi. Penyelundupan ini dilakukan dengan modus adopsi sampai penjualan organ-organ tubuh korban. Perdagangan ilegal bayi ini akan sangat rawan terjadi melalui daerah-daerah perbatasan, seperti Kalimantan Barat. Daerah ini menajdi daerah paling strategis untuk praktik penyelundupan bayi ke negeri Jiran Malaysia dan menjadi pemesanan pengantin perempuan bagi pria-pria veteran dari Taiwan. "Pola trafiking lainnya adalah aksi prostitusi, praktik pengemisan, TKW, pembantu rumah tangga dipekerjakan sebagai jermal dan perkebunan, serta eksploitasi seksual lainnya, seperti phedophilia. Termasuk, penyekapan gadis-gadis ABG dalam penantian panjang pemberangkat-an menuju luar negeri sebagai TKW terselubung, , "ujarnya.

Adendum Kontrak Dipertanyakan, LPM Unibraw Diperiksa Lagi, Sujud Tidak Kaget

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2537

Tim Kimbun Gate (KG) Kejari Kabupaten Malang kemarin kembali memeriksa Ketua LPM Unibraw Prof Dr Ir Syamsul Bahri. Pemeriksaan kali kedua ini difokuskan pada materi munculnya adendum kontrak antara Pemkab Malang dengan LPM Unibraw. Sebab, dana proyek kawasan industri perkebunan (Kimbun) senilai Rp 3 miliar itu salah satunya untuk pembayaran proyek adendum.
"LPM kami periksa untuk mengetahui apakah muncul adendum, padahal proyek Kigumas sudah selesai," kata Kasi Intel Kejari Abdul Qohar di kantornya kemarin. Pemeriksaan terhadap Syamsul ini, sambung dia, untuk mengungkap adendum 05/2003 dan adendum 06/2003 senilai Rp 645 juta. Sebab, anggaran untuk adendum itu diambilkan dari proyek Kimbun. Pemeriksaan Syamsul itu juga untuk mengetahui apa isi rapat kerja delapan instansi di ruang Kertanegara, Pemkab Malang, pada 5 Febuari 2004 lalu. Sebab, salah satu peserta rapat adalah LPM Unibraw. Saat itu, mantan Sekkab Malang Achmad Santoso memerintahkan pengalihan dana Kimbun ke Kigumas. "Kami menganggap pertemuan itu sangat penting karena keputusan pengalihan dana Kimbun ke Kigumas terjadi saat itu," kata Qohar. Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa pejabat pemkab diperiksa tim Kimbun-gate kejari. Dari hasil pemeriksaan sementara tim Kimbun-gate, diperkirakan ada empat calon tersangka. Dua di antaranya mengarah pada pejabat setingkat kadis.

Prof. Sofyan Aman: Make Your House A Home

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2410

Berangkat dengan berpedoman pada ajaran Tuhan YME dan belajar dari pengalaman orang lain merupakan salah satu kunci dalam membina keluarga. Menjalankan proses adaptasi dengan saling pengertian yang diliputi moralitas kebersamaan, sangat penting dilakukan oleh dua orang manusia yang dipersatukan oleh Tuhan dalam ikatan tali pernikahan. Prof. Drs. H. Sofyan Aman SH menuturkan hal itu ketika menjadi pembicara dalam seminar bertajuk "Kiat-kiat menuju Keluarga Harmonis dan Sejahtera", di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Sabtu (29/1) lalu.
Sofyan Aman yang telah membina rumah tangga dengan Hj. Uswah Sacheh selama 48 tahun dan dikarunai empat orang anak ini menuturkan bahwa ungkapan "Make Your House a Home" seperti menciptakan rumah tangga yang penuh dengan rasa persaudaraan, kebersamaan, tidak kaku, ketauladanan, pendidikan, keluarga yang sehat jasmani dan rohani, ataupun menyimpan salah satu peristiwa terindah yang dapat dikenang sampai akhir hayat, merupakan salah upaya dalam membina keluarga harmonis dan sejahtera. [li]

Pameran Bunga Artifisial

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2920

Dharma Wanita Universitas Brawijaya menyelenggarakan pameran rangkaian bunga artifisial, 28-29 Januari 2005, di gedung Widyaloka. Pameran dalam rangka peringatan Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-42 ini, menampilkan 37 rangkaian bunga seperti 'Ijo royo-royo', Fatamorgana, Kemesraan atau Bunga di Cakrawala ini dimotori oleh Ny. Rien Bambang Guritno. Bunga yang dirangkai menggunakan bahan-bahan dari limbah rumah tangga seperti pelepah jagung, ranting pohon, biji-bijian, kulit tumbuhan dan sebagainya. Menurut Rien Guritno, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan minat dan kecintaan merangkai bunga. [li]

Perjanjian Kontrak Kerja LPM Salah

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2583

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menemukan kesalahan pada perjanjian kontak kerja yang dibuat Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Brawijaya (Unibraw) dengan Pemkab Malang terkait pengerjaan Pabrik Gula (PG) Kigumas di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi.
Itu ditemukan pada perjanjian kontrak kerja No 5 dan 6 tertanggal 9 Agustus 2003. Dalam hal ini LPM yang semestinya selaku konsultan Kigumas ternyata merangkap pengawas dan perencanaan mesin yang akan dipakai Kigumas. "Ini berarti LPM melakukan tugas rangkap, selain sebagai konsultan, juga sebagai perencanaan mesin," kata penyidik Kejari Kabupaten Malang, Timbul Tamba SH M Hum, dikonfirmasi usai memeriksa Ketua LPM Unibraw Malang, Prof Dr Ir Syamsul Bahri, Jumat (28/1).
Menurutnya, kalau ada dua kegiatan berbeda di Kigumas, semestinya LPM harus membuat perjanjian baru, terkait tugas yang akan dilakukan, bukan langsung merangkap jabatan seperti itu. "Namun hal itu akhirnya diakui salah oleh Ketua LPM Unibraw," ujar Timbul Tamba. (fiq) http://www.surya.co.id/flashnews/20050128/213349.phtml