Prasetya Online

>

Berita UB

Tahun Baru Hijriyah dan Silaturrahim Haji Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 Februari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2061

Tahun Baru 1426 Hijriyah, diperingati warga Universitas Brawijaya. Acara yang digelar di Widyaloka, Senin 28/2 pagi, dihadiri segenap pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa Unibraw, serta para undangan lainnya. Acara ini dirangkum dengan acara silaturrahim jamaah haji Universitas Brawijaya yang baru saja usai melaksanakan rukun Islam kelima itu bulan Desember-Januari silam.
Diawali dengan pembacaan tilawatil Qur'an; QS Al Baqarah 197 dan QS At Taubah 36 oleh Nurlaila Azizah, pemenang MTQ Tingkat Universitas Brawijaya 2004, Dr. Muhammad Yudhi Batubara SH MH, salah seorang anggota jamaah haji dari KBIH Unibraw menyampaikan pesan dan kesannya selama menunaikan ibadah suci tersebut. Ia merasa bangga  menjadi jamaah haji KBIH Unibraw, karena Unibraw adalah satu-satunya PTN di Indonesia yang memiliki KBIH.  Menurutnya hal ini relevan dengan misi tridharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Di akhir pesan dan kesannya, secara simbolis, Dr. Batubara atas nama jamaah haji KBIH Unibraw menyerahkan sumbangan sebesar 300 riyal yang dikumpulkan oleh para jamaah haji Unibraw tahun 2005 sebagai ungkapan rasa syukur dan dukungan kepada KBIH Unibraw.

Diskusi Nasional Pendidikan Terbuka-Jarak Jauh

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 Februari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2743

Empat dosen Universitas Brawijaya, masing-masing Prof. Dr. Soekarlawi (Fakultas Perlanian), Prof. Dr. Hendrawan Soetanto (LP3), If. Harry Soekotjo Dachlan MSc, dan Achmad Basuki ST (Pusat Pengembangan E-Learning) diundang untuk mengikuti diskusi nasional tentang pendidikan terbuka dan jarak jauh (PT-JJ) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas dan SEAMEO Regional Open Learning Canter (SEAMOLEC) di Jakarta Senin 28/1. Seminar berlangsung di ruang sidang Dikti Depdiknas Senayan Jakarta, dibuka oleh Dirjen Dikti Prof. Dr. Satrio S. Brodjonegoro, diikuti oleh sekitar 50 orang dart perguruan tinggi seluruh Indonesia dan lembaga psndidikan terkait.
Dirjen Dikti mengatakan bahwa lambat atau cepat kita akan mempraktekkan PT-JJ untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Kenyataan menunjukkan bahwa Depdiknas juga telah merintis PT-JJ sejak tahun 1950-an dengan llama kursus guru tertulis kemudian terus berkembang menjadi SMP Terbuka, SMA Terbuka, dan Universitas Terbuka. Walaupun segi positif dari PT-JJ tidak diragukan, namun sisi kelemahan harus terus diperbaiki. Demikian diungkapkan oleh Prof. Satrio. Kelemahan yang paling meninjol dari pelaksanaan PT-JJ adalah di sisi penyelenggaraan, khususnya di aspek proses belajar mengajamya.

Terapkan TI, Tak Perlu Buku Pelajaran

Dikirim oleh prasetya1 pada 27 Februari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2404

Pemerintah sebenarnya tidak usah menyediakan lagi buku-buku pelajaran tingkat SD (sekolah dasar) sampai SLTA (sekolah lanjutan tingkat atas). Itu, jika pemerintah benar-benar mau menerapkan TI (teknologi informasi). Lontaran itu diungkapkan Richard Mengko, staf Menristek bidang TI, sesaat sebelum menyampaikan materinya di seminar nasional Basic Science oleh FMIPA di gedung Widyaloka Unibraw kemarin.
Dalam seminar bertajuk 'Peran Basic Science dalam Pembangunan yang Berkelanjutan' itu, Richard membawakan materi 'Jembatan Perguruan Tinggi dan Industri dalam Era Kultur Digital'. Selain Richard, hadir sebagai pembicara lainnya, ahli biologi molekuler dari Korea Dr Jeohn Gwang Ho dan dosen matematika FMIPA Unibraw Dr Agus Suryanto.
Pernyataan di atas, menurut Richard, bukan tanpa alasan. Mahal dan sering bergantinya buku panduan belajar siswa tingkat SD-SLTA membuatnya cukup prihatin. Kondisi itu, menurut dia, tidak hanya membuat siswa, terutama siswa kurang mampu, merasa berat. Karena itulah, dia mengimbau, hendaknya pemerintah mulai menyetop penyediaan buku-buku pelajaran tersebut.
Solusinya? "Cukup mendown-load semua materi ke internet. Nantinya, terserah pada lembaga masing-masing. Mau di-print (cetak) atau distensilkan," ucapnya. Langkah itu, kata dia, bukan saja langkah penghematan, tapi juga optimalisasi TI. "Dengan begini, semua orang bisa mengambilnya. Bukan hanya orang-orang tertentu," tambah dia.

Seminar dan Diskusi Publik Legislasi Kesehatan

Dikirim oleh prasetya1 pada 27 Februari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2952

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Minggu pagi 27/2, menggelar Seminar dan Diskusi Publik dengan topik "Legislasi Kesehatan". Acara di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya ini diikuti oleh 100 peserta dari berbagai kalangan. Di antaranya, para praktisi kesehatan, perwakilan dari ILMIKI, ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) serta perwakilan mahasiswa kedokteran dari beberapa universitas, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Jember, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Hang Tuah Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Brawijaya.
Dari seminar dan diskusi ini terungkap bahwa Undang-undang Kedokteran dan RUU Keperawatan merupakan  suatu hal yang mutlak bagi profesi dokter dan perawat. Sementara itu berbagai upaya legislasi sistem kesehatan yang dilakukan sejak diundangkannya UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan masih memiliki dampak yang belum bisa diselesaikan, demikian pula dengan pengesahan RUU Praktek Kedokteran 15 September 2004 yang masih menuntut perbaikan.

Wayang Jedong di Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 26 Februari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 3784

pertunjukkan Wayang Jedong
pertunjukkan Wayang Jedong
Eksekutif mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Sabtu, 26/2, menggelar pertunjukkan Wayang Jedong di halaman Rektorat Universitas Brawijaya. Kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan melestarikan seni budaya Jawa ini patut diacungi jempol mengingat pertunjukan wayang, tidak pernah diminati oleh kaum muda. Kegiatan dibuka oleh Kepala Jurusan Ilmu Ekonomi Sosial Pembangunan Dr. Maryunani SE MS. Tampak undangan yang hadir malam itu, Kepala Biro Administrasi dan Akademik Drs. Achmad Said, Kabag Kemahasiswaan Drs. Umar Usman, wakil dari Dinas Pariwisata Kota Malang Sri Marsiningsih, penulis terkemuka kota Malang Ratna Indraswari dan seniman senior Mbah Karimun.
Wayang jedong (jed-dong) merupakan wayang khas wetanan (Jawa Timur). Berbeda dari wayang Jawa Tengah, ciri dari wayang ini terletak pada durasinya yang lebih pendek (empat jam) dan alunan musik yang rancak. Utamanya ketika terjadi pertempuran dalam suatu lakon dengan dominan suara kecrek (jed) dan gong (dong). Dalang Ki M. Supangi SH dari Pakis, Tumpang, Malang, membawakan cerita Wahyu Makutho Romo.
Cerita diawali oleh ketidaksukaan Prabu Duryudono pemimpin Negeri Ngastina, atas berdirinya Padepokan Kut Kuto Runggu yang dipimpin oleh Begawan Kisowo Sidi yang tak lain adalah jelmaan Batara Wisnu. Keduanya kemudian bertarung. Duryodono yang diwakili oleh Kurawa berhasil dikalahkan oleh sang Begawan. Kisah kemudian bergulir saat Kunto Wibisono dari Padepokan Senggolo Puro, melakukan perjalanan mencari pendeta yang luhur. Dalam perjalanannya tersebut Wibisono bertemu dengan Begawan Kisowo Sidi. Wibisono lalu menjelaskan bahwa kedatangannya ke padepokan Kuto Runggu adalah untuk menyerahkan kitab Iniloduni/Laduni sebagai pakem Barata Yudha, Kurawa, Pandawa, dan Topeng Kencana atau Mahkota milik Prabu Rama Wijaya ke sang Begawan.
Keduanya terlibat dalam suatu pembicaraan Piwulang Hasto Broto. Bahwa jika seseorang meninggal dunia, maka surga atau neraka tempat mereka kelak ditempatkan, tergantung kepada diri sendiri. Seseorang dapat masuk surga apabila mampu menghilangkan empat kemurkaan yaitu Mutmainah, Amarah, Supiah, dan Aluamah. Yang dimaksud Wahyu Makutho Romo adalah Dia-Nya ada tapi tak berwujud. Sedangkan maksud Piwulang Hasto Broto adalah delapan kehendak yang diajarkan, yaitu bumi, air, angin, samudra, candra, surya, api, dan bintang. Bumi melambangkan watak rata, angin melambangkan keadilan, samudra adalah watak lebar dan sabar, candra yaitu menunjung tinggi harkat dan martabat, surya adalah watak untuk menyinari manusia dan samudra, api melambangkan watak untuk menghidupi kehidupan manusia, sementara bintang melambangkan bahwa seseorang akan semakin terang jika diterpa angin dan akan menyinari umat manusia. [nik]