Prasetya Online

>

Berita UB

Kampanye Calon Dekan FT Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 08 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1848

Setelah diadakan dialog terbuka dengan para karyawan (Kamis 7/4), maka Jumat (8/4) di Aula Fakultas Teknik diadakan kampanye keenam Calon Dekan (Cadek) FT Unibraw dengan audience mahasiswa dan perwakilan lembaga kemahasiswaan. Dalam acara ini, para calon dekan diberi kesempatan memaparkan visi dan misinya masing-masing, diuji dan dipertanyakan tentang kesiapan seputar pencalonan dan kesediaan tiap-tiap calon untuk maju dalam bursa Cadek kali ini. Pemaparan visi dan misi berlangsung dalam 2 sesi, masing-masing sesi untuk tiga calon dekan.
Pada sesi pertama yang dimoderatori oleh Ketua Jurusan Teknik Elektro Ir. Purwanto MS, tampil cadek Ir Suharto MT, Ir. Unggul Wibawa MSc, dan Ir. Harnen Sulistio MSc PhD. Pada sesi ini  tercatat 3 orang mahasiswa mengajukan pertanyaan. Mereka banyak menyoroti tentang isu status BHMN Unibraw, dan ruwetnya birokrasi tentang pengurusan masalah ijazah untuk alumni, serta masalah-masalah administrasi. Mengenai hal ini ketiga calon dekan mempunyai pandangan yang hampir seragam, yaitu tentang bagaimana memperbaiki manajemen administrasi dan memandang keluhan mahasiswa sebagai salah satu pekerjaan rumah yang harus segera ditindaklanjuti sesegera mungkin setelah Dekan terpilih.
Pada sesi kedua yang dimoderatori Ketua Jurusan Teknik Sipil, Ir. Achmad Wicaksono MEng PhD, tampil calon dekan Ir. Jusuf Thojib MSA, Ir. Djoko Sutikno MEng, dan Ir. Imam Zaky MT. Pada sesi ini ada 5 pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa. Para mahasiswa mempertanyakan tentang pandangan Cadek mengenai kelembagaan mahasiswa dan kedudukannya, latar belakang para kandidat mencalonkan diri menjadi dekan, keluhan minimnya suara mahasiswa pada PilDek, usulan tentang perubahan mekanisme evaluasi tahunan, dan perlunya pemberian standar skill untuk mahasiswa teknik.

Dialog Cadek dengan Karyawan FT Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 07 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2098

Sebagai salah satu rangkaian dari proses pemilihan Dekan FT Unibraw periode tahun 2005-2009, Kamis 7/4, di Aula Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT Unibraw), berlangsung acara Dialog Calon Dekan dengan Karyawan FT Unibraw.
Dalam acara ini cadek diuji untuk memberikan solusi atas beberapa permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari karyawan FT Unibraw. Permasalahan yang sempat diutarakan, antara lain mekanisme pemilihan dekan. Dalam pemilihan ini karyawan hanya diwakili oleh 5 suara, dan hal ini dianggap kurang representatif. Dalam permasalahan ini cadek memiliki solusi yang serupa yaitu akan diusahakan untuk adanya perubahan dalam hal ini tetapi tetap mengacu pada kerangka yang ditetapkan oleh Dikti. Kemudian ada juga yang menanyakan mekanisme rotasi pegawai, kenaikan pangkat, pengurusan status dari honorer menjadi PNS dan beberapa hal yang lainnya menyangkut kesejahteraan karyawan. Dan permasalahan ini pun ditanggapi oleh calon dekan akan adanya perbaikan sistem yang sudah ada. Sistem yang sudah baik akan lebih ditingkatkan, dan sistem yang kurang baik akan dijadikan lebih baik.

Kunjungan Kerja Badan Legislasi DPR-RI ke Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1948

Universitas Brawijaya, Selasa (5/4), menerima kunjungan kerja Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI. Rombongan yang dipimpin AS Hikam ini diterima di ruang sidang lantai VIII gedung Rektorat oleh Tim Kajian RUU Lembaga Kepresidenan (LK) dan RUU BPK-RI dari Universitas Brawijaya, yang terdiri dari Herman Suryokumoro SH MS (koordinator), Tunggul Ansari SH MHum, A. Latief Fariqun SH MHum, Ibnu Tricahyo SH MHum, Prof. Dr. Solichin Abdul Wahab MA, Prof. Dr. M. Irfan Islamy MPA dan Prof. Dr. Moch. Munir SH. Kunjungan kerja tersebut dimaksudkan guna membahas RUU tentang Lembaga Kepresidenan (LK) dan RUU BPK RI.
Sebagaimana disampaikan, kemauan pembentukan Lembaga Kepresidenan (LK) dengan undang-undang tersendiri telah lama diwacanakan. Setidaknya sejak tahun 2001 telah ada dua draf RUU LK yang masing-masing berangkat dari yang paradigma berbeda karena kepentingan atau kemauan yang berbeda pula.

Ujian Disertasi Tulus Haryono

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2391

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sebagai perusahaan publik yang menyediakan kebutuhan hajat hidup orang banyak, harus menyediakan kualitas layanan jasa listrik Indonesia. Perusahaan ini memiliki dua tujuan yaitu efisiensi operasional dan kepuasan pelanggan. Kandidat doktor dari Program Studi Ilmu Ekonomi pada Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Drs. Tulus Haryono MEk, tertarik meneliti perusahaan yang lambat-laun terus merugi ini. Hasilnya berupa disertasi yang berjudul "Analisis Faktor-faktor yang Menentukan Persepsi Kualitas Jasa dan Pengaruhnya terhadap Sikap Pelanggan (Studi pada PT PLN di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)". Ujian terbuka disertasi ini dipromotori oleh Prof. Dr. Djumilah Zain SE, dengan ko-promotor Armanu Thoyib SE MSc PhD, Dr. Ir. Solimun, MS, dan Dr. Agus Suman DEA, dilaksanakan di Program Pascasarjana Unibraw, Senin 4/4.
Penelitian pria kelahiran Boyolali 49 tahun silam ini bertujuan mengidentifikasi dimensi yang dapat digunakan untuk menentukan persepsi kualitas layanan jasa di sektor publik dan bersifat monopoli, serta untuk mengukur dan mengetahui pengaruh persepsi kualitas layanan jasa terhadap sikap pelanggan kepada pemberi jasa. Populasi penelitian adalah semua pelanggan listrik di APJ Kabupaten Tegal dan Kota Solo dengan unit sampel adalah pelanggan listrik dengan daya di atas 900 VA sedangkan respondennya adalah pembayar rekening listrik di loket-loket tempat pembayaran rekening listrik. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara judgement sampling. Dari penelitiannya ditemukan bahwa persepsi kualitas layanan jasa di sektor publik ditentukan oleh tujuh dimensi, yaitu: keterbukaan, bukti fisik, ketanggapan, keandalan, ketepatan waktu, empati, dan sosialisasi kebijakan.

Dialog Lintas Agama di Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 03 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2249

Dialog merupakan salah satu alternatif dalam menciptakan kooperatif global. Indonesia dengan heterogenitasnya dalam suku, agama dan ras, seharusnya telah selesai membicarakan kekayaan heterogenitas tersebut dan tinggal bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai sektor kehidupan selaras dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
Seiring dengan berhembusnya angin demokrasi di satu sisi menambah kesempatan dalam berekspresi dan berimprovisasi tetapi di sisi lain jika kebebasan ini tidak dimaknai sebagai kebebasan dengan menghormati hak dan kewajiban pihak lain, maka akan menghasilkan kesalahpahaman yang bisa meng-akibatkan disintegrasi. Realita di lapangan yang terjadi banyak sekali konflik antaretnis serta antaragama, sehingga dari sini eksistensi dan pemahaman akan Bhinneka Tunggal Ika perlu dikonstruksi kembali.
Atas dasar hal tersebut, bertempat  di Sasana Samanta Krida Universitas Brawijaya, Minggu 3/4, diadakan dialog lintas agama Islam dan Kristen. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Forum Kajian Islam dan Masyarakat (Forkim) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya dengan Arimatea.