Prasetya Online

>

Berita UB

Bedah Buku Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar

Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 5643

Sebagai rangkaian acara Pekan Budaya yang diadakan oleh Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya, pada Selasa (15/3) bertempat di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya diselenggarakan acara Bedah Buku Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar. Tujuh jilid buku Syaikh Siti Jenar ini ditulis oleh Agus Sunyoto dengan metode penulisan secara kualitatif, dengan penerbit LKIS. Agus Sunyoto memiliki latar belakang pendidikan sarjana seni rupa dan magister pendidikan sosial. Turut diundang sebagai pembanding dalam bedah buku kali ini adalah Dra. Sugiarti M.Si yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana pada Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember kemudian melanjutkan program magister Sosiologi di UMM. Sugiarti adalah staf pengajar UMM.
Dalam pemaparannya, Agus Sunyoto mengungkapkan bahwa dalam mitos masyarakat Jawa telah tertanam mainstream pemikiran bahwa Syaikh Siti Jenar adalah cacing yang menjelma menjadi manusia mengajarkan ajaran sesat, kemudian diadili oleh Walisongo dan meninggal menjadi anjing. Menurutnya, Syaikh Siti Jenar berasal dari Cirebon yaitu daerah Selatan, tepatnya Lemah Abang. Sehingga dengan latar belakang tersebut ia tidak banyak mengambil rujukan dari babad tanah Jawa melainkan dengan melakukan pendekatan historiografi orang-orang Cirebon terutama Pangeran Wongsokerto. Pendiskreditan Syaikh Siti Jenar menurutnya berasal dari kalangan gusti (keraton) karena Syaikh Siti Jenar pada waktu itu mempelopori perubahan tatanan sosial yang ada di masyarakat. Dalam kesempatan tersebut secara implisit ia mengatakan bahwa tujuan penulisan buku ini adalah rekonstruksi sejarah dengan ilustrasi implementatif menembus dimensi waktu kekinian, sebuah tawaran bahwa Syaikh Siti Jenar adalah pembaharu yang mendobrak dunia patriarkhi pada waktu itu.
Dalam penulisannya ia banyak menggali inspirasi penulisan dari literatur dan pendekatan wawancara sehingga disampikannya bahwa novel ini adalah novel pertama yang dilengkapi dengan kajian pustaka dan diterbitkan langsung 7 jilid. Sementara itu, Dra Sugiarti MSi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa buku ini lebih tepat dikatakan sebagai novel sejarah yang memberikan sebuah tawaran baru bagi masyarakat khususnya generasi muda agar terketuk untuk memiliki semangat sebagai pembaharu dalam peradaban masyarakat. [nok]

Lokakarya Nasional Jejaring Intelijen Pangan

Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2849

Dalam rangka menjadikan Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya sebagai titik sentral riset dan informasi untuk keamanan pangan produk asal hewan se Jawa Timur, dalam program jejaring intelejen pangan yang bekerja sama dengan Badan Pengawaan Obat dan Makanan (POM) dan WHO, Selasa 15/3, di gedung PPI Unversitas Brawijaya digelar Lokakarya Nasional Jejaring Intelijen Pangan. Tema lokakarya ini adalah "Peningkatan Keamanan dan Mutu Susu dan Produk Olahannya".
Dibuka oleh Dr. Ir. Kusmartono, Pembantu Dekan I yang mewakili Dekan Fapet Unibraw, lokakarya menampilkan keynote speaker Prof. Dr. Winiati Pudji Rahayu MS, Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM), yang memaparkan tentang Program Jejaring Intelijen Pangan. Dikemukakannya bahwa penerapan sistem keamanan pangan terpadu di Indonesia telah dicanangkan 13 Mei 2004, di aula Badan POM RI oleh Menko Kesra a.i. Prof. A. Malik Fadjar MSc. Tim Teknis Keamanan Pangan Nasional yang dibentuk akan bekerjasama untuk mewujudkan 3 program yang saling mengkait antar 3 jejaring yang ada, yaitu sistem klasifikasi piagam bintang keamanan pangan (star awards), sistem monitoring keamanan pangan terpadu (food watch), serta tim respon cepat (rapid response).

Perpustakaan Harus Jadi Nutrisi PT

Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2254

Bagi lembaga pendidikan, perpustakaan merupakan sarana mutlak untuk "menyehatkan" sivitas akademikanya. Karena itu perpustakaan harus menyiapkan "nutrisi" yang cukup bagi dosen dan mahasiswa, agar mereka mampu menggali semua pengetahuan. "Kalau perpustakaan hanya menjadi pelengkap dan tidak mampu jadi surganya akademik, maka lulusannya akan begitu-begitu saja mutunya," kata Kepala Perpustakaan Universitas Brawijaya, Dra Welmin Sunyi A MLib. di kantornya, Rabu (16/3).
Karena itulah dia selalu berusaha melakukan pembaruan dan pengembangan perpustakaan. Salah satu langkah itu adalah melakukan hubungan lewat komputer dari perpustakaan pusat ke ruang baca di fakultas-fakultas. "Digital library (digilib) akan memudahkan mahasiswa maupun dosen untuk mengetahui buku apa saja yang ada di perpustakaan pusat maupun di masing-masing jurusan," tambahnya.

Kuliah Tamu PT Medco E&P Indonesia

Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 3167

Kusnio Malibari
Kusnio Malibari
Bekerja sama dengan kalangan perguruan tinggi, PT Medco E&P Indonesia mengembangkan sejenis bakteri yang dapat membersihkan tumpahan minyak. Proses degradasi minyak oleh bakteri ini sangat cepat, sehingga tanah menjadi subur tanpa efek kontaminasi B3 (bahan berbahaya beracun). Demikian antara lain kuliah tamu Kusnio Malibari, Kepala Hubungan Masyarakat PT Medco E&P Indonesia, yang disampaikan di depan para mahasiswa penerima beasiswa PT Medco dan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknik Univer-sitas Brawijaya, di ruang sidang lantai VIII gedung Rektorat Unibraw, Selasa pagi, 15/3.
Menurut Kusnio, PT Medco Indonesia sangat menaruh perhatian pada pengelolaan lingkungan. Beberapa program pengelolaan lingkungan sudah dilaksanakan PT Medco Indonesia, seperti pembuatan fasilitas pembibitan tanaman, revegetasi daerah terbuka rata-rata seluas 100x100 meter persegi setiap sumur minyak, bioremediasi lahan terkontaminasi dengan bakteri, peningkatan fasilitas pengolahan limbah cair, dan injeksi air pada sumur-sumur minyak yang sudah berkurang produksinya.

Serasi, Kolaborasi Jawa-Jepang

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2225

Bagaimana jika budaya Jawa dikolaborasikan dengan budaya Jepang? Hasilnya sungguh menarik. Itulah yang disuguhkan mahasiswa Unibraw dalam pembukaan Pekan Budaya Ke-2 Program Studi Bahasa dan Sastra Unibraw di halaman gedung rektorat kemarin.
Kolaborasi itu antara lain ditunjukkan tari beskalan dan tarian Yosakoi dari Kochi, Jepang. Kedua tari itu disuguhkan untuk menyambut kedatangan tamu pekan budaya yang berlangsung 14 hingga 17 Maret mendatang.
Selain tarian, budaya Jawa juga disampaikan lewat tatanan upacara adat penyambutan tamu. Itu terlihat ketika tim dari FKBJ (Forum Komunikasi Bahasa Jawa) menyambut Pembantu Rektor I Prof Dr Ir Yogi Sugito yang akan membuka acara tersebut di gedung Widyaloka. Budaya khas Jawa itu antara lain, pembakaran dupa, kembar mayang, memecahkan kendi, dan pembasuhan tangan dan kaki Yogi Sugito sebelum berangkat ke Widyaloka.