Prasetya Online

>

Berita UB

Peringatan Hari Kartini Dharma Wanita Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 30 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 7877

Dharma Wanita sebagai entitas dalam upaya pemberdayaan wanita sepatutnya menghargai jasa para pendahulunya di antaranya adalah RA Kartini. Kegiatan peringatan ini diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan termasuk di antaranya kegiatan-kegiatan yang bercirikan nilai spesifik keperempuanan maupun kegiatan yang bernilai universal.
Hal tersebut dilaksanakan pula oleh Dharma Wanita Persatuan Universitas Brawijaya. Peringatan Hari Kartini di Universitas Brawijaya bertujuan untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan anggota serta meningkatkan peran serta wanita atau anggota dalam mengisi pembangunan.
Kegiatan yang diselenggarakan meliputi Karaoke, Merias Wajah Tanpa Cermin dan Spontanitas Penilaian Keserasian Busana Untuk Tamu Yang Hadir. Puncak acara kegiatan adalah ceramah pola Hidup Sehat oleh Dr. dr. Atie W. Soekandar bertempat di Gedung Biomedik FK UB pada 30 April 2005..
Diwawancarai di ruang kerjanya, Dra. Ristika MM (Kepala TU Fakultas Kedokteran Unibraw) merinci semua hasil pelaksanaan kegiatan perlombaan sebagai berikut: Untuk lomba karaoke, kriteria penilaiannya meliputi vokal, teknik, dan penampilan dengan juri terdiri dari Yuli Kusnu (Pegawai Kotamadya), Fix Wahyutomo (Dosen Unmer), dan Emalia (RRI). Pemenang kegiatan yang diikuti oleh 33 peserta ini adalah: Juara I: Ibu Rose Amelia (FK), juara II: Ibu Sri Hariyati (FK), juara III: Amir Hasan Ramli (Dharma Wanita aktif), Harapan I: Ibu Susi (Politeknik Negeri Malang), dan Harapan II: Ibu Edy Hary (Dharma Wanita aktif Fakultas Teknik).

Prof Djanggan Kembali Direktur PPS Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2024

Melalui pemilihan yang dilakukan oleh Senat Universitas Brawijaya, Jumat 29/4, Prof. Dr. Djanggan Sargowo kembali terpilih menjadi Direktur Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (PPS Unibraw) untuk periode 2005-2009. Dalam proses pemungutan suara tersebut, Prof. Djanggan mendapatkan dukungan 56 suara, sementara calon lainnya Prof. Dr. Ir. Sumeru Ashari MAgr mendapatkan 21 suara, Prof. Dr. Sutiman Bambang Sumitro SU mendapatkan 10 suara, Prof Ir. Budiono Mismail MSEE PhD mendapatkan 6 suara, dan abstain 1 suara. Sebelum proses pemungutan suara, seorang calon Prof. Dr. M. Syafiie Idrus SE MEc menyatakan mengundurkan diri. Prof. Djanggan sebelum ini telah menjabat sebagai Direktur PPS periode 2001-2005. [Far]

Agribisnis Padi Perlu Terobosan

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2634

Padi (beras) merupakan bahan makanan pokok dan karenanya mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah. Bila saja stok beras berkurang maka potensi gejolak sosial pasti akan rnuncul. Karena itulah pamerintah menaruh perhatian yang besar pada peningkatan produksi beras. Sayangnya paningkatan produksi beras selalu lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Sehingga pengadaan beras masih menjadi masalah. Karena itulah kini pemerintah akan mencoba dengan terobosan baru yang dinamakan 'Hybrid Rice Technology'. Cara ini adalah alternatif dari upaya meningkatkan produksi melalui penggunaan padi hibrida. Pemerintah mencanangkan 1 juta ha padi hibrida pada tahun 2009 nanti. Bisa diduga, perdebatan pun terjadi enters yang pro dan kontra.
Suatu seminar digelar untuk membahas soal ini dengan mengambil tema "Commercializing Hybrid Rice Technology: An Option for Indonesia"di Pusst Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Puslitbangtan), Bogor, Kamis 28/4 lalu. Pembicaranya adalah Dr. E. Redona Deputy Director dari PhilRice (Philippines Rice Research Institute) yang diundang khusus untuk bicara soal ini. Prof. Dr. Soekartawi (pakar agribisnis dari Fakultas Pertanian Unibraw) juga diundang khusus dalam seminar itu bertindak sebagai salah satu panelis. Seminar ini merupakan lintas disiplin yang dihadiri sekitar 75 orang dari berbagai instansi. Ada yang dari kalangan pembuat kebijakan, dari ahli agronomi, pemuliaan tanaman, tanah, hama-penyakit, agroekologi, agribisnis atau ekonomi pertanian, dan sebagainya.
Dr. Redone berpendapat bahwa Indonesia berpotensial menjadi negara kelima setelah Cina, India, Vietnam, dan Filipina dalam adopsi padi hibrida di Asia ini. la bahkan meyakinkan bahwa padi hibrida produktivitasnya tinggi, lebih menguntungkan, rasa berasnya enak, dan sebagainya. Selanjutnya dituturkan bahwa di Filipina, selama 5 tahun terakhir, luas lahan padi hibrida sudah mencapai 300 ribu ha.

Terpilih Kembali, Ny. Rien Bambang Guritno Ketua Dharma Wanita Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2021

Berdasarkan musyawarah mufakat, Ny. Rien Samudayanti (isteri Rektor Universitas Brawijaya Prof. Bambang Guritno) kembali terpilih menjadi Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Brawijaya untuk periode 2005-2009. Pemilihan berlangsung di lantai 8 gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Kamis 28/4. Pimpinan sidang, Ir. Ristinah Suroso, mengatakan bahwa kegiatan seperti ini baru pertama kali dilaksanakan di Unibraw, dan akan dibudayakan pada masing-masing fakultas.

Enam Karya Tulis Soekartawi Dimuat Jurnal Internasional

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 3646

Rektor Universitas Brawijaya awal Februari silam mencetuskan enam langkah untuk meningkatkan budaya akademik. Salah satu di antaranya adalah memberikan insentif bagi dosen untuk menuliskan artikel ilmiah di jurnal internasional dan menulis buku yang diterbitkan oleh penerbit level nasional.
Prof. Dr. Soekartawi, guru besar Fakultas Pertanian, selain mendalami ekonomi pertanian juga menekuni bidang pendidikan, termasuk distance learning atau e-learning. Bersama Prof. Suhardjono (FT), alm. Drs. Timotius Hartono MPA (FIA) dan dr. Andi Ansharullah (FK), Soekartawi dikenal gigih memperjuangkan pentingnya pembelajaran yang baik melalui program Pengembangan Ketrampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) dan Applied Approach  (AA).
Ia patut berbangga karena 6 karya tulisnya tentang pendidikan telah dan akan dimuat di jurnal internasional. Menurut Soekartawi, menulis di jurnal internasional (International Refereed Journal) perlu ketekunan, kecermatan, dan kesabaran. Sebab memakan waktu yang lama, kadang-kadang lebih dari setahun, karena naskahnya harus bolak-balik direvisi dan dikembalikan ke referees yang tempatnya berjauhan, ada yang di Jepang, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Filipina, dan sebagainya.