Prasetya Online

>

Berita UB

Rektor: Menurun, Minat Memilih Jurusan Perikanan 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 4557

Indonesia adalah negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan. Namun, tidak banyak masyarakat kita yang bekerja di sektor perikanan dan kelautan. Hal ini juga dapat dilihat dari menurunnya jumlah siswa yang memilih jurusan perikanan dari tahun ke tahun. Demikian diungkapkan Rektor Prof. Dr. Bambang Guritno dalam sambutan ketika membuka Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian di Bidang Perikanan dan Kelautan, Senin 20/2, di gedung PPI Universitas Brawijaya.
Keprihatinan Rektor ini dilandasi kenyataan, banyak faktor yang menyebabkan kurangnya minat seseorang untuk menekuni bidang perikanan, di antaranya adalah kurangnya pemahaman baik dari orang tua, guru, dan siswa. Selain itu, bidang perikanan masih dianggap sebagai bidang yang tidak menghasilkan banyak uang, sehingga dalam hal ini peran pengusaha perikanan dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, serta perguruan tinggi sebagai penyedia pendidikan sangat diperlukan. Untuk itu rektor mengharapkan agar pertemuan yang melibatkan banyak pelaku di bidang perikanan ini juga membicarakan tentang bagaimana solusi terbaik dalam meningkatkan jumlah mahasiswa bidang perikanan dan kelautan. Rektor sempat mencetuskan pendapat mengenai kemungkinan mengganti nama Fakultas Perikanan dengan nama lain yang lebih memiliki nilai jual.
Seminar nasional ini dilatarbelakangi bahwa penelitian yang bermutu dan relevan terhadap pengembangan keilmuan dan kebutuhan pembangunan, perlu disebarluaskan kepada para peneliti lain maupun masyarakat yang dapat langsung memanfaatkannya. Demikian pula halnya dengan perkembangan ilmu/teknologi perikanan dan kelautan yang pesat. Dalam rangka menginventarisasi hasil penelitian perikanan dan kelautan, serta untuk mengetahui status perkembangan hasil penelitian perikanan dan kelautan.

Ir. Yahya MP Temukan Asap Cair untuk Pengawet 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 6700

Ir. Yahya MP
Ir. Yahya MP
Kasus pemakaian bahan pengawet formalin pada bahan makanan sekarang ini masih marak diperbincangkan publik. Hal ini tidak membuat Ir. Yahya MP heran, karena ia telah menemukan kasus semacam sejak lama dan bahkan membuat bahan penggantinya dengan asap cair. Yahya yang juga seorang dosen Fakultas Perikanan ini pada tahun 1996 telah membuat asap cair yang dapat digunakan untuk mengawetkan ikan. Asap cair itu juga digunakan untuk mengawetkan ikan, pindang, otak-otak, presto, ikan kering/asin, bakso, nugget dan ikan segar.
Asap cair tersebut menurutnya diperoleh dari hasil dari kondensasi asap hasil pembakaran  kayu. Hasil pembakaran mengandung komponen-komponen selulosa, hemiselulosa dan lignin mengalami pirolisa yang menghasilkan asap dengan komposisi yang sangat kompleks. Komponen yang dihasilkan itulah (kabornil, asam asetat dan fenol) mampu mencegah pembentukan spora dan pertumbuhan bakteri dan jamur, serta menghambat kehidupan virus. Sehingga dengan sifat tersebut asap cair dapat berperan dalam pengawetan makanan.
Hasil asap cair tersebut berwarna coklat tua cemerlang dan akan berubah coklat kekuningan apabila disimpan. Cara penggunaan asap cair tersebut hanya dengan mencampurkan ke bahan makanan yang akan dibuat. Misalnya untuk mengawetkan bandeng presto asap cair 10 ml ditambah dengan rebusan pada alat presto, kemudian kukus 1 jam dengan tekanan 1,5-2 bar.
Asap cair tersebut telah digunakan di beberapa daerah seperti Muncar-Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo dan Prigi-Trenggalek sejak tahun 1999-2006. Asap cair tersebut ia jual dengan harga Rp 15.000 untuk 500 ml dan Rp 5.000 untuk 250 ml. Untuk memproduksinya ia bekerjasama dengan tim Iptekda LIPI. [vty]

Seminar Nasional Penelitian Perikanan dan Kelautan 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2957

seminar nasional hasil-hasil penelitian di bidang perikanan dan kelautan
seminar nasional hasil-hasil penelitian di bidang perikanan dan kelautan
Dalam rangka dies natalis ke-43 Universitas Brawijaya, Fakultas Perikanan menggelar seminar nasional hasil-hasil penelitian di bidang perikanan dan kelautan. Seminar berlangsung di lantai gedung PPI, 20-21 Februari 2006.
Seminar ini dilandasi pemikiran bahwa menghasilkan penelitian yang relevan terhadap pengembangan keilmuan dan kebutuhan pembangunan merupakan salah satu peran perguruan tinggi. Perkembangan ilmu/teknologi perikanan dan kelautan yang sedemikian pesat, perlu diimbangi dengan penyediaan sumber informasi/pustaka bagi pemerhati dan peneliti, baik dari instansi pemerintah maupun swasta di bidang perikanan dan kelautan, sehingga tren dan manfaat yang optimal dari ilmu/teknologi pada bidang ini bisa diapresiasikan secara tepat dan berkesinambungan.
Salah satu bagian dari kegiatan seminar nasional ini adalah diadakannya telekonferens dengan pemateri dari Jepang dengan tujuan untuk menambah wawasan Iptek bagi peserta seminar.
Tujuan kegiatan ini adalah inventarisasi hasil penelitian perikanan dan kelautan, serta untuk mengetahui status perkembangan hasil penelitian perikanan dan kelautan. Sasaran yang ingin dicapai adalah peningkatan mutu dan kesinambungan perolehan akreditasi jurnal penelitian perikanan, serta informasi dan peluang pengembangan penelitian perikanan dan kelautan.
Diharapkan hadir sebagai peserta adalah para pemimpin redaksi jurnal ilmiah perikanan dan kelautan, pengusaha perikanan, dosen/peneliti, staf balai penelitian serta dinas perikanan dan kelautan se-Indonesia. [Far]

Biofertilizer: Pemanfaatan Mikroorganisme sebagai Pupuk 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3746

Prof. Ivan Robert Kennedy
Prof. Ivan Robert Kennedy
Berbicara sebagai narasumber workshop “Development of Biofertilizers for Application in Rice and Other Crops in Indonesia” di Fakultas Pertanian Unibraw, Prof. Ivan Robert Kennedy menguraikan definisi biofertilizers sebagai mikrobiologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi nutrisi makanan yang digunakan oleh tanaman padi-padian. Lebih lanjut, guru besar dalam bidang pertanian dan kimia lingkungan di Sydney University, mengatakan pupuk jenis ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya mengurangi kehilangan, menambah tingkat panen, ramah lingkungan, gas yang dihasilkan pada efek rumah kaca sedikit, serta kandungan kimia yang rendah. “Teknologi ini telah berhasil diaplikasikan di Vietnam, sementara untuk Australia dan Indonesia, pada saat ini masih dalam tahap penelitian”, ungkapnya. “Penelitian ini dilaksanakan bertahap mulai dari skala laboratorium, penelitian lapang, hingga proses lebih lanjut yang akan memakan waktu kurang lebih 5 tahun”, tambahnya.
Dr. Ir. Setyo Yudho Tyasmoro MS, koordinator pelaksana workshop, menjelaskan kerjasama antara Sydney University dan Universitas Brawijaya ini kembali berlangsung setelah sempat terhenti karena kasus Timor Timur. Joint research antara Universitas Brawijaya dengan Sydney University ini dimoderatori oleh ACIAR, bermula dari penelitian Setyono di Laboratorium Agrochemical dengan memanfaatkan Azolla. “Contoh biofertilizers yang dapat kita pelajari adalah di Vietnam, yang diberi nama Biogro, memanfaatkan tiga macam mikroorganisme dengan media gambut”, ungkapnya. [nok]

Djoko Winarso Meninggal Dunia 

Dikirim oleh prasetya1 pada 19 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2036

Drs. Djoko Winarso MSi
Drs. Djoko Winarso MSi
Drs. Djoko Winarso MSi, dosen senior Fakultas Ilmu Administrasi, meninggal dunia hari Sabtu 18/2 malam karena serangan jantung. Jenazah dimakamkan esok harinya, Minggu 19/2 di pemakaman Ngelo Desa Tlogomas diiringi oleh ratusan karib kerabat dan teman sejawat. Pria kelahiran Banyuwangi 1 September 1957 ini meninggal dalam usia 48 tahun. Almarhum adalah alumnus Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) Unibraw jurusan Administrasi Niaga tahun 1982. Magister sains Administrasi Niaga (1997) dari Pascasarjana Unibraw, mengabdikan diri sebagai dosen dengan jabatan asisten ahli madya (golongan III/a) pada Fakultas Ilmu Administrasi Unibraw sejak 1983, hingga lektor kepala (golongan IV/c) terhitung mulai tanggal 9-10-2001. Hasil perkawinannya dengan Chusniyah, seorang guru, Djoko Winarso dikaruniai 1 putri dan 2 putra. Semasa hidup, selain sebagai tenaga pengajar aktif dalam berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. [Far]