Prasetya Online

>

Berita UB

Amien Rais: Pemberantasan Korupsi Masih Tebang Pilih

Dikirim oleh prasetya1 pada 23 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2123

M. Amien Rais
M. Amien Rais
M. Amien Rais, mantan Ketua MPR, dalam Seminar dan Lokakarya Nasional “Membangun Sinergitas Gerakan Pemberantasan Korupsi di Indonesia,” Kamis (23/2) di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, turut menyumbangkan gagasan.
Dalam pemberantasan korupsi, menurut Amien, ada lima usaha yang dapat dilakukan, yakni: root map of corruption (rapat maraton semua elemen yang masuk ke LSM), menata katagori dari korupsi, mencoba berantas dalam skala besar, pemetaan korupsi pun segera dilakukan dan harus dijadikan milik publik (disiarkan melalui media massa), dan bidik korupsi yang besar-besar.
Pemberantasan korupsi hanya akan menjadi sebuah wacana jika tidak ada action langsung dari pemerintah (presiden). Amien mengatakan pemberantasan korupsi yang terjadi masih "tebang pilih kasih". Beberapa kasus korupsi yang menyangkut Istana, Cendana, bisnis senjata, dan "pengusaha naga", sampai saat ini belum tersentuh. Kalau pun tersentuh, tidak akan sampai ke pengadilan.
Gurubesar ilmu politik UGM ini bercerita bahwa ia suatu saat pernah menemukan kasus korupsi yang menimpa salah satu pengusaha naga. Pengusaha naga itu dipanggil oleh jaksa agung karena telah melakukan tindakan kriminal. Tapi kasus tersebut tidak sampai tuntas diselesaikan. Hal ini, menurut Amien, membuktikan bahwa penanganan kasus korupsi memang belum sampai menyentuh korupsi tingkat tinggi. [vty]
Kebebasan Pers
Sementara itu Bambang Harymurti, pimpinan redaksi TEMPO, di depan seminar dan lokakarya nasional itu memandang upaya pemberantasan korupsi tidak lepas dari peran media massa yang didukung oleh kebebasan pers. Kasus pencemaran nama baik yang sering mengancam media dari sisi pemberitaan sering digunakan untuk mengancam media massa. Jurnalisme investigasi yang sering digunakan media massa untuk membuktikan suatu kasus korupsi sering terjerat menjadi momok tersendiri bagi wartawan. Kasus pencemaran nama baik masih dijerat dengan hukum pidana.
Menurut Bambang Harymurti, kebebasan pers akan sangat membantu jika pemerintah mempunyai kesigapan dalam pemberitaan. Ia memberi contoh kasus di India dan Cina. Kebebasan pers dan pemerintahan India yang baik serta peka terhadap kemiskinan masyarakat, tidak sampai mengakibatkan bencana kelaparan. Sementara itu di Cina bencana kelaparan berkali-kali terjadi di wilayah itu.
Kebebasan pers juga akan membangun perekonomian negara yang lebih baik. Bambang memaparkan dalam data statistik bahwa korelasi antara kebebasan pers dengan pertumbuhan ekonomi di suatu negara berbanding lurus. Negara kaya seperti Amerika Serikat pasti didukung dengan kebebasan pers yang baik. Menurut penilaiannya, tahun 2001, pada masa pemerintahan mantan Presiden Habibie, kebebasan pers di Indonesia paling bagus. Hal itu kemudian terus-menerus mengalami penurunan yang drastis sampai pada tahun 2005 yang menduduki posisi 105 dari 167 negara. “Kalau ada orang yang mengatakan bahwa pers di Indonesia keblabasan itu karena dibandingkan pada zaman Soeharto. Akan berbeda kalau dibandingkan dengan negara lain”, tukas Bambang Harymurti. [vty]

Semiloknas Pemberantasan Korupsi di Indonesia 

Dikirim oleh prasetya1 pada 23 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1793

Membangun Sinergitas Gerakan Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Membangun Sinergitas Gerakan Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencatat bahwa generasi muda (mahasiswa) selalu berperan sebagai pelopor. Hal ini terjadi karena mahasiswa memiliki potensi dalam berbagai dimensi, di antaranya mahasiswa sebagai peserta didik yang dipilih melalui seleksi, memiliki potensi sebagai pemikir, tenaga ahli dan tenaga profesional, sekaligus sebagai penopang pembangunan masyarakat bangsa dan negara. Demikian ungkap Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno, pada awal sambutan pembukaan seminar dan lokakarya nasional “Membangun Sinergitas Gerakan Pemberantasan Korupsi di Indonesia,” Kamis (23/2) di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya.
Rektor mengatakan, pemerintahan saat ini mempunyai komitmen memberantas korupsi, namun kegiatan pemberantasan korupsi hingga saat ini belum seperti yang diharapkan masyarakat. “Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sangat sistemik, karena hampir semua infra dan supra struktur politik serta sistem ketatanegaraan, sudah terkena penyakit korupsi. Agenda pemberantasan korupsi hanya dijadikan sebagai komoditas politik bagi elit politik,” tambahnya.
Semiloknas yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya ini diikuti oleh ratusan peserta se-Indonesia. Hadir sebagai pemateri mantan ketua MPR RI Amin Rais yang menyampaikan materi “Strategi pemberantasan korupsi di Indonesia”, Wakil KPU Sjahrudin Rasul dengan materi “Menilai komitmen pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi”, dan mantan auditor BPK Khairiansyah Salman yang mengulas materi “Bersama memberantas korupsi”. Selain itu turut hadir anggota Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo dengan materi “Membongkar Konspirasi Korupsi”, pakar hukum UGM Deny Indrayana menyampaikan “Menciptakan Sistem dan Tata Peradilan Bersih di Indonesia”, serta pimpinan redaksi TEMPO Bambang Harymurti dengan ulasan mengenai “Peran Pers dalam Usaha Pemberantasan Korupsi”. Kwik Kian Gie yang sedianya hadir ternyata berhalangan.

LKTM Hukum dan HAM 

Dikirim oleh prasetya1 pada 22 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2846

Berangkat dari upaya menyuarakan aspirasi arus bawah, Forum Kajian Hukum (FKH) Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) Hukum dan HAM. Selain misi itu, kegiatan ini juga khusus didedikasikan kepada almarhum Munir yang menjadi ikon pembela HAM di Indonesia sampai saat ini.
Kegiatan LKTI ini diikuti oleh beberapa universitas di antaranya UI, UNS, Universitas Jember, Unair, Universitas Mulawarman, Universitas Jambi, Universitas Samarinda, Universitas Lampung serta Universitas Mataram. Beberapa juri yang dihadirkan dalam kesempatan tersebut adalah kepala PP Hukum dan HAM, LSM (LBH Surabaya pos Malang) dan Imparsial Jakarta.
Disampaikan oleh M. Insan Maulana (mahasiswa semester VI FH) selaku Ketua Pelaksana, puncak kegiatan ini akan diselenggarakan Kamis (23/2) di gedung PPI Universitas Brawijaya pukul 19.00 WIB, berupa pengumuman pemenang LKTI dan diskusi publik dengan tema “Pendesakan Percepatan Persidangan Kasus HAM Munir” dengan menghadirkan Suciwati (istri almarhun Munir) selaku perwakilan TIFA Foundation, Kontras, Imparsial, Marsudi Hanafi (Kepala TPF Munir) dan BEM se-Malang Raya. “Pada acara ini akan diselenggarakan pula sounding declaration serta penyikapan berbagai kasus HAM yang akan diusahakan untuk diteruskan ke Kapolri dan Presiden” ungkap Maulana. [nok]

Meninggal Dunia: Drs Lukman Syamsuddin MA 

Dikirim oleh prasetya1 pada 22 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2244

Drs. Lukman Syamsuddin MA
Drs. Lukman Syamsuddin MA
Drs. Lukman Syamsuddin MA (53 tahun), dosen senior dan mantan Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Selasa (21/2) siang sekitar pukul 12.40 WIB meninggal dunia di RSSA setelah beberapa hari dirawat di sana karena stroke. Sebelum ini almarhum telah dua kali mengalami serangan stroke.
Jenazah disemayamkan semalam di rumah duka Jalan Mayjen Panjaitan XI/25 Malang, dan dimakamkan esok harinya, Rabu (22/2) pukul 10.00 WIB di pemakaman umum Samaan, Malang. Acara pemakaman ini dihadiri oleh sanak keluarga, dan kolega almarhum, termasuk Rektor Unibraw Prof. Bambang Guritno dan Dekan FIA Unibraw Dr. Suhadak MEc.
Almarhum adalah putra kelahiran Sumbawa (NTB) 1 Juni 1952, mengabdikan diri sebagai dosen sejak 1979 dengan jabatan asisten ahli madya golongan III/a, hingga lektor kepala IV/c, pernah menjabat Dekan FIA (1998-2002). [Far]

Seminar dan Lokakarya Bioinformatika 

Dikirim oleh prasetya1 pada 21 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2338

seminar dan lokakarya bioinformatika
seminar dan lokakarya bioinformatika
Teknologi informasi saat ini telah merambah biologi dan dunia kedokteran. Merespon kecenderungan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) menyelenggarakan seminar dan lokakarya bioinformatika selama 2 hari (21-22 Februari 2006). Salah seorang panitia, Dr. dr. Loeky Enggar Fitri MKes SpParK mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk lebih mengembangkan teknologi di laboratorium Biomedik Universitas Brawijaya, di samping untuk peningkatan kemampuan staf edukatif.
"Di luar dugaan, ternyata kegiatan ini diikuti oleh 65 peserta, bahkan ada yang dari luar FKUB seperti FT (Elektro) Unibraw, Fapet Unibraw, USU, Politeknik Gizi Mataram, UGM, VEDC, dan Universitas Jember”, ungkapnya. Dalam seminar tersebut, hadir sebagai narasumber Dra. Fatchiyah MKes PhD, Diana Lyrawati Apt MKes PhD, dan Dr. Arief Budi W. MEng.
Dalam paparannya Diana Lyrawati mengatakan bioinformatika merupakan salah satu jenis aplikasi teknologi informasi untuk biologi yang memuat data (seperti: data metabolisme, data literatur, sequence DNA dan protein), analysis (aplikasi software untuk melihat kesamaan siklus DNA, penterjemahan DNA ke protein, mempelajari interaksi DNA-DNA dan DNA-protein sehingga bisa digunakan untuk deteksi virus melalui pendekatan molekuler, metabolisme dan network), serta prediksi-prediksi melalui simulasi. Disampaikan pula bahwa ilmu ini merupakan pengembangan dari ilmu yang semula bernama biologi komputasi yang mengolaborasikan antara ilmu biologi dan ilmu komputer. “Melalui bioinformatika ini, kita bisa melakukan perbandingan antara kondisi normal dengan subyek penyakit yang sangat bermanfaat untuk proses diagnosa, pencegahan dan manajemen penyakit”, ungkap doktor dari alumni Monash University itu. Ditambahkannya, teknologi ini telah dimanfaatkan di banyak rumah sakit di Jakarta, contoh dalam  pengobatan penyakit Koriokarsino, yang banyak diderita ibu hamil dengan menggunakan genescan dan mycro satelite marker. [nok]