Prasetya Online

>

Berita UB

Multiculture Dinner 

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2614

Multiculture (International Dinner)
Multiculture (International Dinner)
Empat kebudayaan yang dipelajari di Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya digabung di meja makan. Budaya bangsa Inggris, Jepang, Mandarin, dan Perancis menyatu jadi satu di perjamuan makan malam yang diadakan pada Kamis (6/4) di Gedung Widyaloka Lantai 1. Tamu undangan yang datang disambut senyum manis gadis penyambut tamu lengkap berpakaian yukata, pakaian khas Jepang. Acara bertajuk “Multiculture (International Dinner)” ini digelar masih dalam rangkaian kegiatan Pekan Budaya III.
Tata cara makan 4 kebudayaan masyarakat luar negeri ini didukung dengan menu masakannya masing-masing. Rike Febrianti SPd, dosen bahasa Jepang, menjelaskan beberapa menu masakan, antara lain bangsa Inggris dengan puding dan es lemon tea; Jepang dengan beef teriyaki dan shrim roll; Mandarin dengan soup kim lo; dan Perancis dengan memperkenalkan cokelat perancis. Selain makanan, tamu juga dihibur dengan penampilan kesenian dari 4 kebudayaan tersebut, tari buyo tarian khas Jepang, nyanyian berbahasa Mandarin, Perancis, dan Inggris diiringi gesekan biola.
“Acara ini kami tujukan untuk mengenalkan kebudayaan bangsa lain", ucap Drs Lalu Merdi MA, Sekretaris Program Bahasa dan Sastra dalam sambutan pengantarnya. Ia menambahkan, dengan mengetahui kebudayaan bangsa lain maka konflik antar bangsa yang terjadi dapat berkurang. [vty]

Korpri Unibraw Salurkan Santunan Kematian Rp 28,25 Juta

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1741

Rukun Kematian Unit Korpri Universitas Brawijaya, selama 1 tahun (April 2005-Maret 2006), telah menyalurkan santunan kematian sebesar Rp 28,25 juta. Santunan ini diberikan kepada 98 keluarga/anggota Korpri Unibraw yang meninggal dunia selama setahun terkahir.
Dalam laporan tahunan yang dikirimkan 6 April 2006 itu, disebutkan saldo terakhir kas Rukun Kematian tercatat sebesar Rp 51,08 juta. Pemasukan dari iuran anggota Kantor Pusat dan fakultas-fakultas selama setahun ini tercatat sebesar Rp 33,2 juta. Demikian laporan yang ditandatangani Ketua Rukun Kematian Unit Korpri Unibraw Drs H Chamid Syarbini, dan Bendahara Hj. Muktiatun. [Far]

Tradisi Minum Teh di Pekan Budaya III 

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1864

Dra. Cicilia Tantri
Dra. Cicilia Tantri
Kebudayaan berbagai negeri dari hampir seluruh penjuru dunia difasilitasi dalam Pekan Budaya III. Contohnya, saat pembukaan acara panitia menampilkan perpaduan antara tradisi Jepang dengan budaya Jawa.
Hari ini, Kamis (6/4), salah satu bentuk kebudayaan masyarakat Jepang yaitu tradisi minum teh pun diperagakan di Student Center Unibraw. Menurut Dra. Cicilia Tantri, dosen sastra Jepang Universitas Dr. Soetomo, budaya minum teh yang dilakukan masyarakat Jepang ini merupakan budaya yang adi luhung. Budaya ini menurutnya berasal dari pendeta Budha. Budaya minum teh pada esensinya berasal perwujudan penenangan diri. Perang saudara yang terjadi pada saat itu membuat masyarakat tegang. Budaya minum teh ternyata dapat membuat suasana hati lebih damai dan tenang.
Spirit lain yang ditimbulkan pada budaya ini adalah penghilangan kasta-kasta yang terbentuk di masyarakat. Orang yang minum teh duduk bersama di satu meja dengan posisi yang sama inilah yang kemudian dijadikan patokannya. Pesta minum teh yang dalam bahasa Jepang disebut dengan “chanoyo” ini biasanya disertai dengan makan-makan kue khas Jepang bernama “waguashi”. Rasa teh yang pahit menurut Cicilia akan saling melengkapi dengan kue waguashi yang manis.
Antusiasme pengunjung Pekan Budaya ternyata cukup menggembirakan. Sekitar 20 peserta turut memeriahkan acara ini. “Kami di sini hanya lebih memperkenalkan tradisi ini dan spiritnya,” ujar Cicilia. Dalam tradisi ini, spirit yang ditimbulkan adalah mampu menenangkan diri dalam suasana yang hiruk pikuk. [vty]

Refleksi dan Proyeksi Ideologi Islam untuk Indonesia yang Bermartabat 

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2063

Majelis Ta’lim Forum Ukhuwah Islamiyah Mahasiswa Peternakan Universitas Brawijaya
Majelis Ta’lim Forum Ukhuwah Islamiyah Mahasiswa Peternakan Universitas Brawijaya
Bekerja sama dengan Forum Kajian Keislaman Kontemporer (FK3) UIN Malang, Majelis Ta’lim Forum Ukhuwah Islamiyah Mahasiswa Peternakan Universitas Brawijaya (MT Funa) menyelenggarakan seminar nasional. Seminar bertajuk “Refleksi dan Proyeksi Ideologi Islam untuk Indonesia yang Bermartabat” ini digelar di gedung PPI Universitas Brawijaya, Kamis (5/4). Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini Djoko Susilo (anggota Komisi I DPR RI) dan Ustadz Muhammad Ismail Yunanto (juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia).
Ketua Pelaksana, Wisnu Sapto Adji (mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi FPt 2004), dalam pengantarnya mengatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap adanya dominasi asing terhadap Indonesia yang bahkan mampu mengikis keberadaan nilai-nilai lokal. Melalui seminar ini diharapkan mampu memberikan alternatif solusi paradigmatik terhadap kondisi tersebut melalui implementasi ideologi Islam sebenar-benarnya.
Melalui materi bertajuk Islam dan Identitas Indonesia, Djoko Susilo memaparkan kasus ketegangan hubungan antara Indonesia dengan Australia dari kacamata identitas Indonesia, yang mayoritas juga merupakan masyarakat Muslim. Menurutnya, tindakan sepihak Australia terhadap Indonesia dalam beberapa masa belakangan ini patut dicermati. Hal tersebut menurutnya, lebih parah lagi disulut dengan ketidaktegasan pemerintah Indonesia dalam menjalin hubungan diplomatik dengan Negeri Kanguru ini. Dalam paparannya, Djoko menyebut beberapa kasus yang menampakkan sikap negatif dan tidak konstruktif dari Australia, seperti kasus Asylum Visa yang diberikan kepada 42 warga Papua, kecaman Australia atas ketidakpuasannya terhadap pidana yang dijatuhkan kepada Abu Bakar Baasyir, serta kasus kemarahan luar biasa warga Australia terhadap Stephanie Corby yang dipenjara 20 tahun dalam kasus penyelundupan narkoba.
Sementara itu, dalam materi dengan tajuk “Menuju Indonesia Kuat dan Bermartabat", Ustadz Muhammad Ismail Yusanto mempresentasikan Islam sebagai solusi dalam berbagai keadaan tidak ideal seperti kemiskinan dan problematika sosial, kerusakan moral serta KKN. Menurutnya, untuk menuju Indonesia yang lebih baik diperlukan perbaikan sistemik baik melalui perjuangan kultural maupun struktural guna menuju Indonesia yang benar-benar merdeka dalam semua aspek, merdeka dari tekanan negara adidaya, merdeka dalam mengelola SDA, serta merdeka dari penghambaan kepada sistem dan ideologi manusia menuju penghambaan kepada Tuhannya Manusia. [nok]

Monolog Putu Wijaya 

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3104

Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw
Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw
Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw, Rabu (5/4) malam, berlangsung sangat meriah. Sebagai rangkaian acara Pekan Budaya III, karya terbaru Putu Wijaya bertajuk “Surat Kepada Setan” ini untuk pertama kalinya digelar di Malang.
Tampil ke atas panggung dengan pakaian serba hitam berpeci, Putu Wijaya memulai pentasnya dengan bercerita seolah dia menjadi seorang guru yang membicarakan mengenai perburuan akademik untuk pencerdasan bangsa.
Pria yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya dalam monolognya mengambil tema besar mengenai pendidikan. Pendidikan di Indonesia selalu dalam situasi berusaha untuk mendidik bangsa yang lebih kompetitif. “Saya kurang setuju dengan konsep seperti itu,” ujarnya. Menurutnya hal itu hanya untuk merespon globalisasi agar lebih beradab, beriman, dan lebih mempunyai kemampuan. Cara pendidikan di Indonesia ini sangat mengagungkan guru.
Pada babak pertama, dia berperan sebagai guru. Dikatakan bahwa semua ini bukan kesalahan dari pemerintah semata. “Sudah saatnya rakyat juga ikut bertanggung jawab,” tambah sastrawan yang biasa dikenali dengan topi pet putihnya.
Budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Multikultur Indonesia, menurut Putu, sebenarnya sangat potensial. “Bhinneka tunggal ika yang kita miliki, membikin iri bangsa lain”, katanya. Jika kondisi seperti ini terjadi, maka menurut seniman yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum UGM ini, maka kembali ke kearifan lokal pun layak dilakukan.
Karya terbaru ini nantinya akan dipentaskan secara lengkap di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 17-18 Juni 2006 mendatang, dengan judul “Setan.” Setan ia pakai sebagai sebuah perumpamaan, karena kondisi masyarakat yang terjadi ialah ketika ada masalah orang selalu mencari kambing hitam. Dalam monolog yang dipentaskan selama 2 jam ini, setan selalu disalahkan dalam setiap kasus yang terjadi. [vty]