Prasetya Online

>

Berita UB

Memulai Bisnis Tanpa Uang

Dikirim oleh prasetya1 pada 03 October 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3057


Memulai usaha tanpa mengeluarkan uang sudah menjadi hal yang biasa. Hal itu disampaikan oleh Drs Arif Himawan Kusumanegara dalam Seminar Kewirausahaan yang diadakan Koperasi Mahasiswa Universitas Brawijaya, Selasa, 3/106 di Cafe Maleo. Tapi ternyata pandangan tersebut belum menjadi panutan yang banyak digunakan oleh khalayak. Banyak kalangan masyarakat masih terpatok pada pemikiran bahwa memulai suatu usaha harus mengeluarkan banyak uang untuk modal usaha. Padahal kenyataannya tidak demikian. Salah seorang mahasiswa Unibraw telah membuktikan hal ini, menjadi seorang pengusaha dengan menjual ide. Puji, mahasiswi berumur 19 tahun ini hanya bermodalkan omongan dan ide. Ia menjual ide untuk mengadakan program pendidikan tentang kewirausahaan yang diadakan di sekolah-sekolah.
Ia kemudian dijadikan Arif, penyaji seminar ini, sebagai contoh bahwa memulai bisnis ternyata tidak harus mengeluarkan modal berupa uang. Pendiri Soerabaia Consulting dan Redaktur Majalah Pengusaha Jakarta ini mengatakan, memulai usaha berawal dari ide. Sedangkan ide dapat dicari melalui cara apapun. Misalnya dengan browsing di internet atau melihat peluang dari lingkungan sekitar.
Seminar sehari ini mencoba untuk memfokuskan pada tema “Creating Money Without Money.” Faisal Tri Putra, ketua pelaksana acara ini mengatakan bahwa tujuan dari acara ini adalah melatih mahasiswa untuk bisnis sambil kuliah. Selain itu mereka juga bermaksud untuk menjadi ajang silahturahmi antar lembaga mahasiswa semi otonom yang ada di Unibraw dan bekal untuk menghadapi era globalisasi.
Peserta yang mereka tembak pada umumnya adalah mahasiswa dan juga karyawan. “Peserta dari karyawan kami tujukan untuk meningkatkan mutu mereka,” jelas Faisal. Peserta yang mendaftar sebanyak 29 orang. Faisal mengatakan bahwa untuk menikmati fasilitas ini mereka kemudian ditarik biaya sebesar Rp 10.000 untuk anggota Kopma, dan Rp 15.000 untuk non anggota Kopma. Acara seminar kemudian ditutup dengan buka bersama. [vty]

Jurusan THP Terakreditasi A

Dikirim oleh prasetya1 pada 03 October 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3023


Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Simon Bambang Widjanarko MAppSc mengabarkan, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) dari fakultas yang dipimpinnya mendapatkan akreditasi "A" dengan nilai 388. Hal ini tertuang dalam Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) Nomor 012/BAN-PT/Ak-X/S1/VIII/2006.
Yang menggembirakan, nilai 388 ini menurut Prof Simon adalah yang tertinggi tertinggi di Indonesia, mengungguli Jurusan Teknik Pertanian dan Jurusan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor yang meraih nilai 379.
Fakultas Teknologi Pertanian adalah fakultas kesepuluh dari Universitas Brawijaya, merupakan peningkatan status dari Jurusan Teknologi Pertanian yang semula dalam naungan Fakultas Petanian Unibraw. Diresmikan sebagai fakultas berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 012a/O/1998 tanggal 26 Januari 1998
Fakultas ini memiliki 3 jurusan, yaitu: Teknologi Hasil Pertanian, Teknik Pertanian, dan Teknologi Industri Pertanian, dengan jumlah mahasiswa terdaftar sebanyak 1618 (pada tahun akademik 2005-2006). Selain itu FTP Unibraw juga mengelola program diploma III Teknologi Industri Pertanian. [sbw]

Mahasiswa Unibraw Juara Pertama Peneliti Remaja 2006

Dikirim oleh prasetya1 pada 03 October 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2818


Dua orang mahasiswa Universitas Brawijaya Endah Silfiyanti dan Heri Kristianto berhasil keluar sebagai juara pertama pada ajang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia 2006 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 11 September 2006 ini, penelitian Silvi dan Heri dengan judul “Pengaruh Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia) Dalam Menghambat Pertumbuhan Larva Aedes sp” berhasil menarik perhatian dewan juri, dan mengalahkan empat finalis lainnya.
Ajang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) 2006 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh LIPI guna mencari dan mengembangkan potensi penelitian di kalangan remaja. Tiga bidang yang dipertandingkan meliputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik. Jumlah peserta PPRI kali ini sebanyak 171 dan untuk bidang IPA diikuti oleh 55 peserta. Setelah melalui proses seleksi, terpilih lima peserta yang masuk ke babak final untuk kemudian melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Peserta yang lolos final lainnya berasal dari Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan Universitas Atmajaya Jakarta. Peserta dari Universitas Atmajaya dengan judul “Enzim Keratinase Asal Isolat dari Tanah Belelarang Tangkuban Perahu dan Aplikasinya” berhasil keluar sebagai juara kedua dan peserta dari Universitas Lambung Mangkurat dengan judul “Identifikasi Respon Nyeri Penderita Dismenore (Nyeri Haid) Sebelum dan Sesudah Pemakaian Sepatu Listrik Sebagai Upaya Alternatif Terapi” keluar sebagai juara ketiga.
Penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran dari program studi Ilmu Keperawatan Universitas Brawijaya Malang ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kasus kematian akibat demam berdarah (DBD) oleh nyamuk Aedes sp di Indonesia dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang ada di Departemen Kesehatan pada akhir Pebruari 2004 terdapat 12.482 penderita DBD di 21 provinsi, dan 241 orang diantaranya meninggal. Peningkatan kasus demam berdarah tersebut berhubungan dengan banyaknya populasi nyamuk dewasa dan larva nyamuk Aedes sp yang sering dijumpai di tempat penampungan air.

Insektisida Alami
Menurut Silfi dan Heri, kegiatan yang perlu dilakukan untuk pemberantasan penyakit demam berdarah ditujukan untuk memutuskan rantai transmisi atau penularan pada salah satu atau lebih mata rantai yang meliputi host (manusia), agent (bibit penyakit) dan environmental (lingkungan). Masyarakat saat ini cenderung menggunakan obat kimia sintesis untuk memberantas larva nyamuk Aedes sp. Namun pemberian zat kimia sintetis yang berulang-ulang pada serangga, dapat menyebabkan resistensi pada keturunannya. Solusi yang dapat ditempuh adalah mengurangi penggunaan insektisida sintesis dan beralih pada penggunaan insektisida yang alami dan ramah lingkungan. Daun pare (Momordica charantia) menarik penelitian Silvi dan Heri untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes sp.
Pare (Momodica charantia) merupakan salah satu tanaman yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Manfaat pare dalam dunia kesehatan telah terbukti dapat menurunkan demam, obat cacing, sakit saat haid, terlambat haid, nifas, memperlancar ASI, batuk, bisulan, sembelit, mual, hepatitis, malaria, sifilis, kencing nanah, penurun gula darah pada penderita DM, disentri, rematik, sariawan, obat luka, impotensi dan bahkan kanker. Pare juga dapat dimanfaatkan sebagai insektisida karena mengandung  alkaloid yang pahit yaitu momordicin. Kandungan lain pare seperti saponin, flavonoid, triterpenoid, asam oleat, asam linoleat dan asam stearat berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan, mempunyai daya racun, menghambat sistem respirasi, mempengaruhi sistem saraf, menyebabkan kehilangan koordinasi dan sebagai penolak serangga. Pada penelitiannya Silfi dan Heri merubah daun pare menjadi ekstrak untuk kemudian diberikan kepada larva Aedes sp.
Hasil penelitian Silfi dan Heri menunjukkan, ekstrak daun pare (Momordica charantina) mempunyai efek larvasida terhadap larva Aedes sp. Selain itu terdapat hubungan antara konsentrasi ekstrak daun pare dengan jumlah larva Aedes sp yang mati. Senyawa-senyawa dalam daun pare yang diduga berfungsi sebagai larvasida adalah alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid dan minyak lemak.
***
Endah Silfiyanti adalah putri dari Sunardi dan Kunarti, kelahiran Pati 22 tahun silam. Saat ini Silfi tengah mengikuti studi profesi keperawatan setelah menyelesaikan ujian komprehensifnya di program studi ilmu keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Sementara itu Heri Kristianto lahir di Madiun 23 tahun silam. Putra dari Sujat ini pernah meraih penghargaan sebagai juara kedua bidang IPA peneliti remaja 2005 yang diselenggarakan LIPI dan Piagam Penghargaan dari Royal Australian Chemical Institute (RACI): Australian National Chemistry Quiz tahun 1999 dan 2000. [nik]

Kerjasama FIA Unibraw-Ditjen Otoda

Dikirim oleh prasetya1 pada 02 October 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2292

Fakultas Ilmu Administrasi Univer- sitas Brawijaya menjalin kerjasama dengan Direktorat Jenderal Otonomi Dae-rah Departemen Dalam Negeri Repu-blik Indonesia. Naskah kerjasama itu ditanda-tangani kedua belah pihak pada Senin 2 Oktober 2006. Penandatanganan naskah dilakukan oleh Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito bersama Dirjen Otoda Dr Kausar AS.
Kerjasama  yang dilakukan kedua belah pihak akan diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur baik legislatif maupun eksekutif. Secara teknis peningkatan sumber daya manusia dilakukan melalui orientasi, pembekalan, pelatihan, bimbingan dan penyuluhan, penelitian dan pengembangan bersama antara kedua belah pihak. Termasuk didalamnya adalah penyusunan dan perangkaian kegiatan dalam rangka mendukung implementasi otonomi daerah. [nik]

Buka Bersama dan Tarawih di Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 30 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2186


Rektor Universitas Brawijaya, Prof Yogi Sugito, berbuka puasa bersama seluruh jajaran pimpinan universitas, fakultas,  dan unit-unit kerja serta aktivis mahasiswa di lingkungan Unibraw, Sabtu 30/9.
Acara yang berlangsung di lantai II gedung PPI Unibraw ini diseling dengan shalat maghrib, dan dilanjutkan dengan shalat isya serta tarawih berjamaah. Mubaligh dari Malang, KH Mujayid mengisi acara malam itu dengan ceramah tentang hikmah puasa Ramadan
Dalam ceramah tersebut, KH Mujayid mengatakan, Allah akan mengangkat derajat seseorang melalui dua hal. Yakni: iman dan ilmu. Tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung dari tingkat keimanan dan ilmu yang dimiliki. Seseorang yang memiliki keimanan yang tinggi, meskipun sedikit saja ilmu yang dimilikinya niscaya ia akan tinggi derajatnya. Tetapi apabila tingkat keimanan seseorang itu rendah, maka sebanyak apapun ilmu yang dimilikinya, niscaya akan rendah derajatnya.
Lebih lanjut dikatakan, puasa merupakan langkah bagi seseorang untuk menaikkan derajatnya. Karena dengan berpuasa maka ia belajar menahan diri dari nafsu buruk yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berbuat kerugian. Apabila seseorang telah mampu mengendalikan nafsunya, maka apabila ia berkomunikasi dengan Tuhan niscaya ruhnya akan mampu menembus alam Ketuhanan. [nik]