Prasetya Online

>

Berita UB

Pemberian Kolkhisin untuk Peningkatan Kualitas Semangka

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2369


Salah satu sifat dari materi pemuliaan tanaman adalah adanya keragaman genetik tinggi. Perubahan jumlah kromosom dapat terjadi pada tanaman dan merupakan sumber keragaman genetik, hal tersebut dapat berupa pemindahan, pembalikan, penghapusan maupun penggandaan kromosom. Perlakuan kimia yang dapat mempengaruhi perubahan jumlah kromosom adalah menggunakan bahan kimia kolkhisin. Salah satu jenis tanaman hortikultura yang dapat ditingkatkan nilai ekonominya apabila diperlakukan kolkhisin adalah semangka (Citrullus vulgaris Schrad).
Demikian Sumarji SP MP, dalam disertasi berjudul ”Efektivitas Pemberian Kolkhisin terhadap Ploidissi Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard)”. Ujian terbuka disertasi Sumarji digelar Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Kamis 14/9. Bertindak sebagai promotor Dr Ir Nur Basuki, dan kopromotor Prof Dr H Saubari M Mimbar MAgr serta Dr Ir Lita Soetopo. Sementara tim dosen penguji terdiri dari Prof Dr Ir Tatik Wardiati MS, Prof Dr Ir Sumeru Ashari MAgr, Dr Ir Kuswanto MS, dan Prof (R) Dr Ir Sudarmadi Purnomo MS. Turut hadir menyaksikan ujian terbuka ini mantan Menteri Kehakiman dan Menteri Pertahanan, Prof Dr H Mahfud MD SH SU, yang kini menjabat Rektor Universitas Islam Kadiri, Kediri.
Sumarji mengatakan, budidaya tanaman semangka di Indonesia masih terbatas untuk memenuhi pasar dalam negeri. Padahal, tidak tertutup kemungkinan semangka Indonesia untuk bersaing di pasar internasional. Meski memiliki prospek cerah, jaminan kontinuitas, kuantitas dan kualitas semangka yang dihasilkan masih menjadi kendala.
Sumarji mengadakan tiga penelitian dalam penyusunan disertasinya. Pertama, berupa perlakuan kolkhisin pada biji semangka homozigot (galur murni hasil penggaluran). Kedua, berupa evaluasi tanaman termutasi (poliploid). Dan ketiga, berupa evaluasi tanaman hibrida poliploid. Penelitian tersebut dilaksanakan dalam tiga periode, masing-masing April-Juni 2005, Juni-September 2005, dan September-November 2005, di Desa Kampung Baru, Kecamatan Tanjunganom (Kabupaten Nganjuk), laboratorium biologi molekuler FMIPA, dan laboratorium fisiologi tumbuhan FP Unibraw, serta laboratorium kedokteran UMM.
Dari penelitian yang dilakukan Sumarji diketahui bahwa perlakuan kolkhisin memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tanaman termutasi. Semakin tinggi konsentrasi kolkhisin yang diberikan, semakin besar presentase tanaman termutasi, dengan banyak bagian tanaman yang menunjukkan gejala perubahan fenotipe. Hal ini dikarenakan pada tanaman termutasi telah mengalami penggandaan kromosom yang mengakibatkan pertambahan jumlah sel dan gen yang menyebabkan DNA meningkat sehingga diikuti pertambahan RNA yang mengkode protein.
Sumarji menyatakan, untuk menghasilkan tanaman semangka tetraploid yang efektif dapat digunakan metode perendaman benih dan taraf konsentrasi kolkhisin 0,2 persen.
Pada akhir ujian, Sumarji dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor dalam bidang imu pertanian (minat pemuliaan tanaman) dengan predikat cumlaude (IPK 3,93).
Dr Sumarji SP MP (35 tahun) adalah sarjana pertanian lulusan Universitas Muhammadiyah Malang, dan magister di bidang ilmu tanaman dari Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Ayah dua orang putri ini dosen (dipekerjakan Depdiknas Kopertis Wilayah VII Jawa Timur) pada Fakultas Pertanian Universitas Kadiri, Kediri, menjabat sebagai Asisten Direktur II Program Pascasarjana Universitas Islam Kadiri Kediri, di samping sebagai Ketua Yayasan Gema Aulia Bakti Pertiwi, dan direktur utama pada dua perusahaan agribisnis. [nik]

Industrialisasi Energi Alternatif

Dikirim oleh prasetya1 pada 13 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2290


Titik kritis pengadaan bahan bakar akhir-akhir ini membutuhkan inovasi dan kreativitas dalam upaya mencukupi konsumsi yang semakin meningkat. Keseriusan pengolahan bahan bakar alternatif yang telah dikampanyekan pemerintah membutuhkan penanganan serius dan dituntut mampu mencukupi kebutuhan komersial dengan skala industri. Tetapi sejauh mana kemampuan dan kesiapan Indonesia dalam menyongsong pemakaian energi alternatif dari hulu sampai hilir dengan ketangguhan peranan riset dan teknologi dimilikinya?.
Alasan inilah yang melatarbelakangi Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya menggelar seminar nasional  “Peranan Riset dan Teknologi pada Industri Manufaktur dalam Rangka Penyediaan Energi Alternatif” di gedung Widyaloka Unibraw, Kamis 13/9. Kegiatan yang diikuti ratusan peserta ini merupakan serangkaian kegiatan Kreativitas Mesin Brawijaya (KMB) sebagai agenda tahunan HMM.
Terbagi dalam sidang pleno dan sidang komisi, seminar nasional ini menghadirkan beberapa pemateri, yaitu Dr Ir Unggul Priyanto MSc (Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT) dengan topik “Prospek Penggunaan Energi Alternatif di Indonesia”, Dr. Ir. Gembong Baskoro ME (dosen PPS UB) dengan topiki “Competitive Manufacturing Strategy” serta Subekti Soerodiwiryo MBA (Director of General Engineering and Maintenance).
Dalam presentasinya, Unggul Priyanto memprediksikan sisa waktu pemanfaatan berbagai bahan bakar fosil yang saat ini banyak dimanfaatkan di masyarakat. Untuk bahan bakar yang paling banyak digunakan yaitu minyak, menurutnya akan segera habis 32 tahun mendatang sedang bahan bakar gas, yang banyak dihasilkan Sumatera dan Kalimantan, menurutnya akan habis 62 tahun mendatang dan yang paling lama adalah batubara, 146 tahun mendatang. Menghadapi kenyataan ini, Seperti telah banyak dikampanyekan selama ini, Unggul memaparkan berbagai bahan bakar energi alternatif non fosil yang potensial meliputi tenaga air, panas bumi, mini/microhydro, biomass, tenaga surya, tenaga angin, dan uranium (nuklir).
Biofuel, menurut Unggul, prospektif digunakan sebagai sumber energi alternatif di Indonesia. Banyak kelebihan biofuel dibandingkan sumber energi konvensional, di antaranya pro-job, pro-poor, pro-growth dan pro-planet (ramah lingkungan). Dalam kesempatan itu dipresentasikan berbagai biofuel: biodiesel, bioetanol dan PPO.
Masih banyak hal yang harus dibenahi menuju industrialisasi dan komersialisasi bahan bakar alternatif, di antaranya regulasi pemerintah. Beberapa regulasi pemerintah yang disinggung dalam kesempatan tersebut adalah permasalahan pembatasan lahan bagi investor maksimal 100 ha yang menurutnya merugikan. “Kebanyakan investor menginginkan investasi lahan jutaan hektare khususnya untuk kelapa sawit dan jarak pagar”, ungkapnya. Selain itu, beberapa pihak menurutnya juga mengeluhkan pemungutan pajak PPH yang merugikan investor, utamanya yang tertarik untuk mendirikan industrialisasi biofuel.
Untuk aspek manufakturing, Gembong Baskoro menyatakan bahwa biofuel sebagai suatu produk hendaknya bisa lebih pro konsumen dengan produksi yang tahan lama serta konsisten.
Dalam acara diskusi, beberapa peserta menanyakan tentang kekhawatiran pemanfaatan beberapa bahan pangan di antaranya ketela, jagung dan tebu yang dikhawatirkan akan mengganggu ketersediaan pangan. Unggul menanggapi dengan mengutip pernyataan SBY bahwa diversifikasi energi jangan sampai mengganggu kenaikan harga pangan, seperti gula, sehingga dibutuhkan pula ekstensifikasi lahan, di antaranya untuk tebu. Selain itu, ada pula peserta yang mengkhawatirkan keberlanjutan dukungan pemerintah terhadap biofuel. ”Jangan sampai kabijakan ini bersifat angin-anginan tanpa komitmen dan konsistensi”, ujar salah seorang penanya dari Unibraw. Siang harinya, kegiatan seminar dilanjutkan dengan sidang komisi yang terbagi menjadi tiga komisi dengan 19 makalah dari UNS, UGM, UB, ITATS, UMS, Universitas Jember, UII dan UI. [nok]

Mencari Kandidat Vaksin (Oral) Tuberkulosis

Dikirim oleh prasetya1 pada 13 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3472

Penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M tuberculosis), M bovis dan M africanum. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di dunia setelah India dan Cina dalam kasus tuberkulosis. Kematian akibat tuberkulosis di Indonesia menunjukkan angka yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, karenanya diperlukan penanggulangan tuberkulosis secara lebih maksimal antara lain menemukan kasus sedini mungkin, pengobatan yang memadai dan vaksinisasi.

Demikian Sugiharta Tandya pada ujian terbuka disertasi yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Brawijaya, Rabu 13/9. Disertasi Sugiharta Tandya berjudul ”Peran Protein Adhesin Mycobacterium tuberculosis dalam Menginduksi Secretory Immunoglobulin A Mukosa Usus dan Bronkhiolus Mencit Balb/c (Upaya Memperoleh Bahan Dasar Vaksin Oral Tuberkulosis)”. Promotor Sugiharta adalah Prof Dr dr H Handono Kalim SpPD (KR), dengan kopromotor Prof Dr dr H Harijono Achmad SpPD (KGEH), dan Prof Dr dr H Sumarno DMM SpMK. Tim dosen penguji terdiri dari Dr dr JF Palilingan SpP(K), Prof Dr dr H Sanarto Santoso SpMK, Dr dr Irwan Setiabudi SpPK (K), dan Prof dr Amin Soebandrio PhD SpMK.
Menurut Sugiharta, vaksin tuberkulosis yang sering dan telah lama digunakan adalah Bacille Calmette Guerin (BCG), namun demikian keefektifannya masih diragukan. Belakangan ditemukan adanya pengembangan vaksin berdasar pada molekul adhesi dari bakteri. Adhesin bakterial merupakan protein yang menjanjikan untuk vaksin mukosal. Antibodi mukosal terhadap antigen ini menghambat kemampuan patogen dalam penetrasi barrier mukosal.
Penelitian disertasi Sugiharta dilakukan dalam dua tahap, yaitu in vitro dan in vivo. Dari penelitian yang dilakukan, Sugiharta menyimpulkan: (1) protein hemaglutinin BM 38 kDa M tuberculosis merupakan protein adhesin pada enterosit mencit, (2) pemberian protein adhesin hemaglutinin BM 38 kDa M tuberculosis per oral pada mencit BALB/c dapat menginduksi sekresi S-IgA ke dalam lumen usus dan lumen bronkhiolus, (3) kloroform 96 persen dapat digunakan untuk memisahkan bakteri M tuberculosis dari bentuk menggerombol dan (4) adhesin bakteri M tuberculosis pada enterosit mencit menunjukkan gambar yang khas, yaitu posisi menungging pada salah satu bagian ujung bakteri.
Upaya karakterisasi protein adhesin dalam penelitan Sugiharta memberikan harapan akan diperolehnya antigen yang merangsang produkdi S-IgA spesifik ke dalam lumen saluran cerna dan nafas, untuk mencegah perlekatan dengan protein reseptor.
Pada akhir ujian terbuka ini, Sugiharta dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan berhak mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran dengan minat biomedik.
Dr dr Sugiharta Tandya SpPK (59 tahun), purnatugas dari PNS TNI Angkatan Darat (sejak 2003), lulusan Sekolah Tinggi Kedokteran Malang (1970), dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang (1976), dan mendapatkan pendidikan tambahan Program Pendidikan Dokter Spesialis-I pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya di bidang patologi klinik (1988), isolasi DNA dan kultur adiposit (2004), serta pelatihan alat-alat laboratorium klinik, faal, hemostatis dan urinalisis (2005).
Sugiharta pernah menjabat sebagai kepala Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit dr Soepraoen Malang, dan pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang Malang (1994-1997 dan 1988-2003), di samping aktif dalam beberapa organisasi profesi dan kemasyarakatan, di antaranya, Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik, Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia, Himpunan Kimia Klinik Indonesia, dan Lions Club Malang Brawijaya. [nik]

FH Unibraw Usut Gambar Lambang PKI dan Nazi

Dikirim oleh prasetya1 pada 12 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2944

Malang - Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH Unibraw) Malang membentuk tim investigasi untuk mengusut gambar lambang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Nazi di tembok gedung kampus pada 7 September lalu.
Dekan FH Unibraw Malang, Warkum Sumitro mengaku telah mengantongi sejumlah nama yang diindikasikan sebagai pelaku. "kasus ini akan diusut sampai tuntas. Pelakunya akan diberikan sanksi yang keras," katanya, Selasa (12/9/2006).
Saat ini tim investigasi terus bergerak untuk menentukan pelaku yang sebenarnya. Hingga saat ini, Warkum tidak melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian, dengan alasan untuk menjaga netralitas dan menolak intervensi pihak luar atas masalah ini.
"Bila, pelaku sudah tertangkap dan ternyata menyangkut ideologi tertentu, maka akan kita serahkan kepada polisi," terangnya.
Lambang PKI dan Nazi ini terpampang di tembok gedung Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Di sebelahnya juga ada tulisan yang meminta kembali uang pendataan mahasiswa baru yang dilakukan oleh Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) FH Unibraw. [bj4] Reporter: Eko Widianto http://www.beritajatim.com/#

Situasi Pasar Modal Sangat Dipengaruhi Faktor Fundamental Perusahaan

Dikirim oleh prasetya1 pada 12 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3566


Masa krisis keuangan di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 berdampak besar terhadap investasi di Bursa Efek, khususnya Bursa Efek Jakarta. Krisis keuangan di Indonesia meningkatkan ketidakpastian dalam berinvestasi yang mempengaruhi keuntungan bagi investor, sehingga investor harus mempertimbangkan ketidakpastian ini sebagai risiko dalam melakukan investasi.
Demikian pernyataan Ir Muninghar MM dalam disertasi berjudul “Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan terhadap Return Ekspektasi Saham pada Perusahaan Terbuka (Tbk) di Pasar Modal Indonesia (BEJ dan BES)”. Ujian terbuka disertasi Muninghar berlangsung di Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Selasa 12/9.
Promotor Muninghar adalah Prof Dra SM Kiptiyah MSc, dan Prof Dr M Harry Susanto SE SU serta Dr Munawar Ismail SE DEA sebagai kopromotor. Dosen penguji terdiri dari Prof Dr H Armanu Thoyib SE MSc, Prof Dr Hj Setyaningsih SE, Dr Ir Solimun MS dan Prof Dr Arsono Laksmana SE Ak.
Muninghar menambahkan, investor selalu hanya memperhitungkan besarnya risiko pasar atau risiko sistematis, sebagai variabel penentu tingkat pengembalian saham yang diharapkan (expected return). Padahal, menurut Muninghar, ada variabel lain yang juga mempengaruhi tingkat pengembalian saham selain faktor internal dan eksternal perusahaan, yaitu likuiditas saham.
Penelitian dilakukan Muninghar terhadap 102 dari 334 perusahaan go public yang terdaftar di bursa (BEJ dan BES selama 4 tahun), untuk membuktikan secara empiris hubungan langsung dan tak langsung antara faktor internal dan eksternal perusahaan terhadap risiko sistematis dan terhadap return ekspektasi, pengaruh faktor eksternal perusahaan terhadap likuiditas saham, dan pengaruh likuiditas saham terhadap return ekspektasi, serta pengaruh risiko sitematis terhadap return ekspektasi pada perusahaan terbuka di BEJ dan BES.
Dari analisis hasil penelitian ini, Muninghar menemukan faktor internal lebih kuat berperan sebagai alat prediksi terhadap risiko sistematis (risiko pasar) daripada faktor eksternal perusahaan. Tidak ditemukannya hubungan signifikan risiko sitematis terhadap return ekspektasi, menurut Muninghar, kemungkinan disebabkan oleh: volume perdagangan pasar modal masih kecil (thin market); terjadi perdagangan yang tak sinkron (non-synchronous trading) pada thin market; harga saham lebih banyak ditentukan oleh sentimen pasar akibat terjadinya informasi yang tidak simetris, situasi pasar sangat dipengaruhi faktor fundamental perusahaan sehingga harga saham berfluktuasi tajam; fluktuasi harga saham sangat tajam karena pergerakan harga saham di pasar modal Indonesia lebih banyak ditentukan oleh aspek psikologi, ketidakstabilan emosi para pemodal, menyebabkan risiko tinggi belum tentu memberikan return ekspektasi yang tinggi pula..
Berdasarkan hasil penelitian ini, Muninghar menyarankan perlunya dikembangkan model pengaruh faktor internal perusahaan terhadap risiko pasar, dan keuntungan yang diharapkan, tidak hanya devident payout, growth leverage, liquidity, assets size, variability of earning, return of investment, return of equity dan total asset turn over, serta price earning ratio, tetapi juga dengan indikator faktor internal perusahaan yang lain. Juga disarankan penelitian lebih lanjut tidak hanya menggunakan variabel-varibel inflasi, suku bunga, GDP, serta politik, tetapi juga diperluas dengan variabel-variabel pajak, nilai tukar, ketenagakerjaan, dan faktor-faktor eksternal lain.
Pada yudisium, Muninghar dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor ilmu ekonomi (minat manajemen) dengan predikat memuaskan.
Dr Ir Muninghar MM (51 tahun) adalah dosen Universitas Wijaya Putra Surabaya, sarjana pertanian dari UPN Veteran Surabaya (1981), dan magister manajemen dari STIE IPWI Jakarta (1996). [nik]