Prasetya Online

>

Berita UB

Sore Ini Prof Hendrawan Berangkat ke Nairobi

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 November 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2449

Prof Dr Hendrawan Soetanto MRurSc
Prof Dr Hendrawan Soetanto MRurSc
Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya, Prof Dr Hendrawan Soetanto MRurSc, sore ini 4/11, berangkat ke Nairobi, Kenya, untuk selama beberapa hari mengikuti konferensi tentang quality insurance. Konferensi itu merupakan forum pertemuan alumni Unistaff Summerschool tahun 2005 University of Kassel, Jerman. Seperti diketahui, peserta Summerschool 2005 itu  terdiri dari 24 orang. Dari Indonesia, peserta berjumlah 14 orang (Unibraw 2, IPB 5, UGM 5, UI 1, dan UKI 1), dan 10 orang lainnya dari Filipina 2, Iran 2, Mesir 1, Costa Rica 1, El-Salvador 1, Uganda 1, Kenya 1 dan Malawi 1.
Prof. Hendrawan dalam kapasitas sebagai country coordinator memprakarsai proposal kegiatan training di Indonesia bagian timur yang rencananya akan berlangsung pada tahun 2006 ini. Dijelaskannya, ada tiga modul utama yang dipersiapkan: Quality Teaching and Learning, Learning Organization Management, dan Reserach Development and Management.

Yanis Maladi: Kebijakan Pertanahan Kapitalistik Timbulkan Masalah

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 November 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2413

Yanis Maladi SH MH
Yanis Maladi SH MH
Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Sabtu 4/11, menggelar ujian terbuka disertasi Yanis Maladi SH MH dari Program Doktor Ilmu Hukum. Dalam kesempatan itu, dipertahankan disertasi berjudul "Implementasi Pendaftaran Tanah di Kabupaten Lombok Barat". Bertindak sebagai promotor Prof Dr Achmad Sodiki SH, dan kopromotor Prof Dr Moch Munir SH serta Dr I Nyoman Nurjaya SH MH. Tim penguji terdiri dari Prof Dr Made Sadhi Astuti SH, serta 2 penguji dari Universitas Airlangga: Prof Dr Sri Hayati SH MS, dan Dr Haryono SH MCL.
Dalam disertasinya, Yanis Maladi mengatakan, kebijakan pertanahan nasional dengan melakukan pergantian berbagai instrumen program populistik menjadi kapitalistik banyak menimbulkan masalah. Baik masalah pembebasan tanah oleh pemerintah atau oleh swasta. Termasuk di dalamnya untuk keperluan perumahan yang dilakukan oleh real estate untuk kawasan industri ataupun lain-lain kegiatan ekonomi di tengah-tengah masyarakat.
Ketimpangan tersebut berdampak pada pandangan dan sikap serta perilaku hukum masyarakat. Mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi yang terkesan mulai mengusik mereka. Di Lombok Barat, Perda No. 9 Tahun 1989 tentang Penetapan Kawasan Wisata, telah mengubah tanah-tanah milik masyarakat menjadi tempat usaha/kawasan wisata. Demi mendukung keinginan pemerintah tersebut para petani pemilik tanah harus merelakan tanah garapannya kepada pemilik modal. Nilai tawar tanah akan tinggi jika para petani memiliki sertifikat tanah atas nama pemiliknya. Karena itulah kemudian pemilik berlomba-lomba mendaftarkan tanahnya. Mereka tidak berfikir dari sisi kepastian hukumnya, melainkan hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi semata. Pilihan sebagian warga ini menunjukkan kuatnya pengaruh nilai-nilai lokal tradisional dalam menjalankan fungsi kontrolnya melindungi hak tanah.
Yanis Maladi, dalam disertasi itu mencoba menganalisis kelemahan dan kelebihan peraturan undang-undang dalam implementasi pendaftaran tanah pada masyarakat, khususnya di Kabupaten Lombok Barat. Selain itu ia mencoba melihat kekuatan jaminan kepastian hukum dan perlindungan atas tanah yang berasal dari hukum adat, serta menganalisis pandangan dan sikap masyarakat terhadap program pendaftaran tanah yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia menemukan rumusan pengelolaan pendaftaran tanah yang berkeadilan atas dasar dinamika masyarakat Indonesia. Disimpulkan bahwa implementasi pendaftaran tanah nampaknya belum menunjukkan kemajuan ke arah yang lebih baik meskipun terjadi pergantian peraturan. Jumlah pendaftaran tanah baru terlaksana 27% dari jumlah 223.487 bidang tanah yang siap didaftarkan. Masih kuatnya pengaruh hukum adat ternyata mempengaruhi respon masyarakat untuk mendaftarkan tanahnya. Hal lain yang mempengaruhi bahwa warga juga masih asing dengan cara yang berlaku. Mereka pun belum merasakan pentingnya sebuah sertifikat tanah dalam lalulintas hukum. Yanis juga mengungkapkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi pendaftaran tanah disebabkan karena perolehan tanah merupakan warisan. ”Mereka menganggap bahwa milik orang tua yang selama ini dikuasai secara turun termurun tidak akan ada masalah status tanah bersertifikat atau tidak,” katanya.

Meninggal Dunia: Abd Moekti Arsyad SH

Dikirim oleh prasetya1 pada 02 November 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1980

Abdul Moekti Arsyad SH
Abdul Moekti Arsyad SH
Telah meninggal dunia Kamis 2 November 2006 pukul 05.00 WIB, Abdul Moekti Arsyad SH (67 tahun), dosen hukum tatanegara pada Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Almarhum sempat dirawat selama sepekan di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, setelah mengalami stroke sejak hari Jumat 27 Oktober silam.
Menurut Drs Anas Baharuddin, rekan seperjuangan almarhum, Abdul Moekti Arsyad adalah sosok pejuang yang patut diteladani oleh generasi muda saat ini. Semasa pelajar di akhir 1950-an, almarhum aktif menjadi pengurus dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Malang. Sedangkan semasa menjadi mahasiswa juga aktif menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dan setelah lulus pun aktif sebagai pengurus Korps Alumni HMI (KAHMI).
Dengan kemampuan analisis yang tajam, putra kelahiran Palembang 1 Mei 1939 ini dikenal sebagai organisator ulung. Semasa mahasiswa pula, di tahun 1960-an, bersama Mochamad Amien SMHk almarhum merintis berdirinya Sekolah Menengah Islam (SMI) dan menjadi kepala sekolah tersebut selama beberapa tahun. Di bawah kepemimpinannya, SMI dikenal sebagai salah satu sekolah swasta terbaik di Malang.

Kantor Pusat IAAS Indonesia Pindah ke Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 31 October 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 5023


IAAS (International Association of Students in Agricultural Related Science) atau yang lebih akrab dikenal dengan organisasi mahasiswa internasional untuk pangan, beberapa waktu lalu (14-19 Agustus 2006), melangsungkan National Congress (NatCon) XI di Universitas Padjadjaran, Bandung. Tema kongres ini adalah "Plant Protection to Establish Agriculture Productivity". Kegiatan tahunan National Committee (NC) IAAS Indonesia ini diikuti 4 dari 6 local committee (LC) yang ada di Indonesia.
Hadir dalam pertemuan tersebut delegasi dari Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Haluoleo Kendari, dan Universitas Padjadjaran Bandung. Delegasi Unibraw dalam kongres ini terdiri dari Fandi A (Fakultas Peternakan 02, Local Committee Director), Ella (Fakultas Perikanan 04, External Affair Deptarment), Mayang AP (Fakultas Pertanian 03, CCLC), Ibnu SJ (Fakultas Peternakan 04), Putri (Fakultas Pertanian 05), dan Trisna (Fakultas Teknologi Pertanian 05).
IAAS Indonesia adalah salah satu bagian dari IAAS International yang beranggotakan lebih dari 50 negara. IAAS merupakan organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang pangan. Pembentukan organisasi ini dilatarbelakangi krisis pangan yang terjadi beberapa tahun silam. IAAS bersifat non pemerintah, non politik, dan non profit. Atas dasar itu, IAAS menerima seluruh mahasiswa dari berbagai bidang yang terkait dengan pengembangan pangan secara luas (dari sisi teknologi, budidaya, sosial, dan ekonomi).

Hasil kongres
Melalui serangkaian seminar yang cukup melelahkan, NatCon XI akhirnya menghasilkan beberapa pandangan untuk membuat produktivitas tanaman pertanian terlindungi. Sektor pertanian, menurut hasil kongres itu, harus menjadi prioritas utama pembangunan Indonesia, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dan hal ini tidak dapat secara sendiri-sendiri tetapi harus bergerak secara bersama. Dengan tingkat penghidupan masyarakat dalam mengkonsumsi makanan bergizi per kapita per tahun yang rendah, tidak akan tercipta generasi yang cerdas, tidak banyak lapangan kerja yang terbuka, dan dunia pertanian tidak akan berkembang. Ironis sekali dengan negeri yang sesubur ini Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Lebih ironis lagi, kebijakan pemerintah membuat orang menjadi malas, yaitu mengutamakan impor dibanding upaya peningkatan produktivitas di sektor pertanian (tanaman pangan, peternakan, dan perikanan). Namun demikian, pemerintah tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Hal ini terjadi karena masyarakat, termasuk mahasiswa dan praktisi pertanian, juga malas berkontribusi secara langsung dan aktif di bidang pertanian. Oleh karena itu, dengan jumlah penduduk yang semakin banyak, kebutuhan pangan yang murah dan berkualitas juga semakin dibutuhkan, diiringi oleh kebijakan pemerintah yang mendukung pembangunan di bidang pertanian serta tindakan konkret pemerintah. Suatu negara akan kuat apabila sektor pangan di negara itu juga kuat.

National Committee
Agenda utama yang lain dalam Kongres Nasional XI IAAS ini adalah pemilihan NC, dan penyusunan strategi kebijakan pengembangan IAAS. Hasil pemilihan NC, terpilih seorang wakil dari IPB dan 2 orang wakil dari Unibraw sebagai Executive Committee National Committee 2006-2007. Adi Irawan (LC IPB-Departemen Agronomi 02) terpilih sebagai National Director, Ibnu Sina Jaelani (LC Unibraw-Fakultas Peternakan 04) sebagai Deputy National Director, dan Adelia Mayang Puspita (LC Unibraw-Fakultas Pertanian 03) sebagai National Exchange Program Coordinator. Dan Unibraw juga dipercaya untuk menjadi National Operational Office IAAS Indonesia yang sebelumnya berkedudukan di IPB Bogor. Untuk sementara, kantor itu menempati Sekretariat IAAS LC Unibraw Sekber UKM Unibraw.
Sementara itu strategi IAAS ke depan yang berhasil dirumuskan meliputi pengembangan program pertukaran mahasiswa (Expro) Indonesia (anggota maupun non anggota IAAS) ke negara-negara anggota IAAS di seluruh dunia, pengembangan konsep desa binaan (Village Concept Project) di LC-LC yang ada di Indonesia, pengembangan kemitraan terhadap institusi-institusi maupun sektor usaha yang bergerak di bidang pertanian, pengembangan proyek-proyek ilmiah (seperti penelitian kompos di LC Unibraw), pengembangan jaringan dan memperluas keanggotaan baik secara individu maupun perguruan tinggi yang berada di bidang pengembangan pangan secara luas di Indonesia, dan pengembangan pola HRD di internal IAAS, serta pengembangan public relations melalui e-mail di iaas_indonesia @yahoo.com, dan membuka situs resmi IAAS Indonesia (www.iaasindonesia.com) yang rencananya akan diluncurkan pada akhir November ini.
Dengan pindahnya kantor pusat IAAS Indonesia ke Unibraw, Malang, diharapkan kiprah Universitas Brawijaya semakin meningkat sebagai universitas yang mendukung program pengembangan sektor pertanian, hingga ke kancah internasional. [vty]

Halal Bi Halal di Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 31 October 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1949


Keluarga besar Universitas Brawijaya, Selasa 31/10, pagi, menggelar acara halal bi halal di Sasana Samanta Krida. Acara ini diikuti sekitar 3000 orang yang hadir memenuhi gedung pertemuan tersebut, termasuk Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito beserta isteri, Pembantu Rektor II Prof Dr Moch Munir SH beserta isteri, Pembantu Rektor III Drs Tjahjanulin Domai MS beserta isteri, Pembantu Rektor IV Prof Dr Umar Nimran MA beserta isteri, para dekan, direktur Program Pascasarjana, para ketua lembaga, para kepala biro, serta para mantan rektor dan pembantu rektor.
Acara berlangsung akrab penuh kekeluargaan, dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang dibawakan oleh Drs HM Tabrani, dan sari tilawah oleh Hj Ninik Chairani SH, serta doa oleh Ketua PPA Unibraw Prof Dr H Thohir Luth MA, dan dimeriahkan oleh penampilan Unitas Home Band Unibraw membawakan lagu-lagu yang bernuansa religius.
Dalam kesempatan itu, Rektor Prof Yogi menyampaikan ucapan selamat idulfitri disertai permohonan maaf lahir batin atas nama pimpinan Universitas Brawijaya maupun pribadi. Rektor juga mengajak seluruh warga Universitas Brawijaya agar menggunakan momentum Idulfitri ini untuk lebih meningkatkan amal ibadah, kinerja serta pengabdian untuk menuju masa depan yang lebih baik. [Far]