Prasetya Online

>

Berita UB

Lewat Adu Pinalti Kantor Pusat Juara Sepakbola Mini Dies Natalis

Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Desember 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1504


Sepakbola memang tidak pernah sepi dari penonton. Begitu pula sepakbola mini yang dipertandingkan dalam rangka Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-44. Diikuti oleh 12 tim dari seluruh unit kerja/fakultas yang ada, acara ini digelar selama 5 hari, 11-15 Desember 2006, di lapangan Rektorat.
Babak penyisihan berlangsung 11-12 Desember 2006. Delapan tim maju ke babak perempat final. Tim KP lolos mendapatkan bye, FTP lolos setelah mengalahkan FH 5-0, FMIPA (bye), FIA lolos setelah menundukkan FP 5-0, Fapet (bye), FE (FE) lolos setelah menang atas Pascasarjana 5-0, Faperik (bye), dan FK lolos setelah mengalahkan FK 5-4.
Babak perempat final berlangsung 12-13 Desember 2006. Empat tim yang lolos, maju ke semifinal. KP lolos setelah menundukkan FTP 3-1, FMIPA lolos setelah mengalahkan FIA 7-1, Fapet menang atas FE 3-1, dan FT mengalahkan Faperik dengan skor 3-1. Pada babak semifinal yang berlangsung Kamis (14/12), tim KP berhasil lolos ke babak final setelah mengalahkan FMIPA dengan skor 5-4, sementara FT berhasil menundukkan Fapet dengan skor 3-1.
Pada babak final penentuan Juara III, Jumat (15/12), berlangsung pertandingan FMIPA melawan Fapet. Tim FMIPA berhasil menundukkan Fapet dengan skor telak 7-1, dan keluar sebagai Juara III. Sementara final antara Kantor Pusat melawan FT berlangsung penuh kejutan. Dalam pertandingan itu masing-masing tim saling menunjukkan kegarangannya di lapangan rumput.
Hingga berakhir 40 menit waktu pertandingan, kedudukan tetap imbang 2-2. Wasit dan hakim garis yang terdiri dari Firdaus, Mardiantono, Usman Sahadi dan Sugito, memutuskan untuk melakukan adu pinalti. Dalam adu pinalti, KP mampu melesakkan 4 gol ke gawang lawan dan berhasil keluar sebagai Juara I, sementara FT harus puas di posisi kedua. [nik]

Perspektif Komunikasi Bisnis dalam Periklanan Global

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Desember 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2826

Program Ilmu Sosial (PIS) Universitas Brawijaya, Kamis (14/12), menyelenggarakan kuliah tamu. Berlangsung di Student Center, kegiatan semacam ini rutin diadakan setiap semester. Diundang untuk memberikan kuliah umum kali ini pakar dari PT Fortune Jakarta, yaitu sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan periklanan dan public relations (PR).
Anthony SSos MSi, selaku koordinator bidang akademik PIS Unibraw menjelaskan, kuliah tamu disampaikan langsung oleh presiden direktur PT Fortune Jakarta bersama istrinya yaitu Indira Abidin (praktisi periklanan) dan Miranti Abidin (praktisi PR). Dalam acara yang diikuti seluruh angkatan mahasiswa PIS ini, kedua praktisi tersebut menyampaikan materi bertajuk “Perspektif Komunikasi Bisnis dalam Periklanan Global”. Selain menyampaikan materi, pada kesempatan itu pula Presiden Direktur PT Fortune, Indira Abidin menandatangani MoU dengan Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Yogi Sugito. “Melalui MoU ini diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan magang, studi ekskursi maupun tugas akhir dengan prosedur yang mudah di PT Fortune”, ujar Anthony yang juga seorang Dosen Ilmu Komunikasi di PIS.
Sempat dipaparkan oleh Ketua Programnya, Prof. Dr. Sudharsono dalam kesempatan yang tersebut, mulai tahun ajaran 2007/2008 Program Ilmu Sosial (PIS) Universitas Brawijaya akan membuka Jurusan Psikologi dan Jurusan Hubungan Internasional. “Saat ini kami tengah mempersiapkan sarana dan prasarana, diantaranya kurikulum dan perpustakaan”, ungkapnya. Lebih lanjut dikatakan, salah satu persiapan lanjut guna pembukaan jurusan Psikologi, pihak PIS tengah mengusahakan MoU dengan HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). “Kami akan segera me-launching jurusan psikologi satu-satunya di Indonesia yaitu disaster psikologi”, kata Prof Darsono. [nok]

Pelepasan Dokter Spesialis I

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Desember 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2547


Dekan Fakultas Kedokteran, dr Harijanto MSPH, Kamis 14/12, melepas 9 orang lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis I (PPDS-I) dalam sebuah upacara yang berlangsung di Graha Medika Universitas Brawijaya. Ikut menyaksikan upacara tersebut Ketua Ketua PPDS-I dr Moch Dalhar SpS, dan Direktur Rumah Sakit Saiful Anwar dr Pawik Supriyadi SpPD, dan para undangan lainnya. Dalam upacara tersebut dilepas 2 dokter spesialis paru, 5 dokter spesialis bedah umum, seorang dokter spesialis penyakit dalam, dan seorang dokter spesialis patologi klinik.

Dua standar dokter
Dalam sambutannya Dekan mengatakan, Indonesia adalah negara terakhir yang menerapkan UU Kedokteran. Bahkan dalam rangka menghadapi era perdagangan bebas yang sudah di depan mata pun, Indonesia bisa dikatakan belum tahu pasti kualitas para dokternya bahkan dokter spesialis sekalipun. “Padahal tahun 2008 nanti sudah tidak ada batas antar negara. Kualitas sangat dituntut untuk menghadapi kompetisi yang sangat ketat”, katanya. Dekan menyebut adanya dua standar dokter yang dianut dunia, yaitu standar commonwealth dan standar Amerika. Standar commonwealth, dianut oleh negara-negara persemakmuran, seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan New Zealand. Sedangkan standar Amerika, diikuti oleh negara-negara seperti Thailand dan Filipina. “Saat ini, Indonesia masih mengacu pada keduanya. Sedikit commonwealth dan sedikit Amerika. Ke depan, Indonesia mungkin akan mengikuti standar commonwealth yang diakui lebih banyak negara daripada standar Amerika", tutur Dekan.
Selain itu, Dekan juga mengingatkan besarnya tantangan yang harus dihadapi para dokter spesialis. "Masih banyak propinsi yang membutuhkan uluran tangan dokter spesialis. Ada 11 propinsi tertinggal yang harus ditangani oleh 13 fakultas kedokteran dari seluruh universitas di Indonesia”, tegasnya. Saat ini, demikian Dekan, FK Universitas Brawijaya, bersama FK Universitas Airlangga dan FK Universitas Hasanuddin dipercaya menangani Propinsi Papua, Propinsi Irian Jaya Barat, Propinsi Maluku, dan Propinsi Maluku Utara. Sedang dipersiapkan pula MoU dengan FK Universitas Airlangga, FK Universitas Udayana dan FK Universitas Hasanuddin untuk menangani Propinsi NTT. "Paling tidak, untuk menghadapi era gobalisasi nanti kita harus menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri", tandas Dekan.

Tesis
Sembilan dokter spesialis yang dilepas beserta judul tesis masing-masing adalah: dr Setiaji SpP (judul tesis: Respon Imun Humoral Imunoglobulin-A terhadap Antigen 38kD M Tb pada Sputum Penderita Tb Paru, dengan Metode Imunositokimia), dr Henny Candrawati MKes SpP (tesis: Hubungan Body Mass Index (BMI) dengan Laju Endap Darah (LED) pada Penderita Tuberkulosis Paru Sesudah Pengobatan Antituberkulosis 6 Bulan), dr Bambang Triambodo SpB (tesis: Trigasi Kolon sebagai Pengganti Kolestomi pada Pembedahan Satu Tahap Penyakit Nieschsprong), dr Radhi Bakarman SpB (Penggunaan Madu Sebagai Penutup Primer Luka Insisi Steril dalam Upaya Pencegahan Parut Hipertropik dan Keloid), dr Tonny Hartono SpB (tesis: Netrofilia dan Kadar C Reaktif Protein (RP) Serum Positif pada Nyeri Tekan Titik MC Burney dapat Meningkatkan Sensitivitas dan Spesifisitas Diagnosis Apendisitis Akut Preoperatif), dr Susetyo Hari Purnomo SpB (tesis: Pemetaan Kelenjar Getah Bening Stadium sebagai Alternatif Sarana Penentuan Stadium pada Keganasan Usus Besar), dr Agung Teguh Kristanto SpB (tesis: Peran Asam Askorbat (Vitamin C) Sebagai Anti Oksidan dalam Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Penderita Cedera Kepala Berat), dr Eva Nirmala SpPD (tesis: Pengaruh Restriksi Kalori terhadap Apoptosis Sel Beta Pankreas dan Hubungan dengan Kadar Glukosa pada Tikus Tua), dan dr Evi Nurhamidah SpPK (tesis: Pembentukan Sel Busa dan Ekspresi Enzim Endotelial Nitric Oxide Synthase (eNOS) pada Aorta Rattus Norvegicus Stain Wistar yang Diberi Diet Tinggi Karbohidrat Dibandingkan Diet Tinggi Lemak). [nok]

Lokakarya Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Dikirim oleh prasetya1 pada 13 Desember 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2135

Berdasarkan penelitian Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi lebih kurang 10 tahun lalu, ditemukan kondisi yang sangat ironis: jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan sarjana sangat sedikit, tetapi jumlah sarjana yang menganggur sangat banyak.
Demikian Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito ketika membuka Lokakarya Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Rabu 13/12 di Gedung PPI Universitas Brawijaya.
Rektor mengatakan, kelemahan sarjana Indonesia lebih banyak terletak pada kemampuan selain ilmu pengetahuan, misalnya kemandirian, entrepreneurship dan sosial kemasyarakatan. Sarjana, menurut rektor, harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, khususnya bagi yang memiliki level pendidikan di bawahnya, dan bukan hanya sebagai pencari kerja. Salah satu solusi yang bisa menjawab permasalahan itu adalah dengan membuat sebuah kurikulum yang berbasis kepada kompetensi (KBK). Dalam membuat kurikulum, menurut rektor, harus dirancang seefisien mungkin karena menyangkut dosen serta penggunaan sarana prasarana yang dimiliki. Rektor mengharapkan agar program studi bekerja keras guna memenuhi target pada tahun ajaran 2007, sebagaimana yang telah disepakati bersama dalam lokakarya sebelumnya.
Lokakarya diikuti oleh para pembantu dekan I, ketua jurusan/bagian, ketua program studi, dan anggota tim penyusun KBK di masing-masing fakultas. Hadir sebagai pemateri Dr Haris A Syafrudie dari Universitas Negeri Malang, Prof Dr Kusminarto dan Dr Wisjnu Martani SU dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Materi yang diberikan dalam lokakarya meliputi KBK dan SCL, pengalaman dalam menyusun dan melaksanakan KBK dan SCL bidang ilmu eksakta dan non eksakta. Setiap peserta juga melakukan diskusi guna menghasilkan sebuah rumusan tentang KBK di Universitas Brawijaya.
Dari pelaksanaan lokakarya terungkap bahwa membuat KBK sangat rumit. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal di antaranya kesulitan menangkap kompetensi pengguna. Tetapi ketika kompetensi pengguna telah berhasil diperoleh, terjadi hambatan menjabarkan kebutuhan pengguna dalam sebuah kurikulum. Hambatan lain yang juga dialami dalam membuat KBK yaitu belum seragamnya penguasaan pemahaman dan pengetahuan tentang KBK itu sendiri.

Haris A Syafrudie dalam paparan tentang ”Pengembangan KBK dan SCL” mengungkapkan tiga kompenen penting dalam KBK, yaitu pengetahuan tentang ilmu, keterampilan dalam mengimplementasikan ilmu, serta sikap profesional.
Masyarakat saat ini telah mengenal berbagai konsepsi mengenai kurikulum meliputi kurikulum akademik yang dijalankan selama ini di Indonesia, kurikulum humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial, dan kurikulum teknologi. Masing-masing kurikulum itu memiliki tujuan yang berbeda seperti kurikulum subyek akademik yang bertujuan untuk pengembangan pikiran rasional/kognitif, kurikulum humanistik yang bertujuan untuk pembentukan pribadi yang utuh, kurikulum rekonstruksi sosial yang bertujuan untuk memecahkan masalah sosial, dan kurikulum teknologi yang bertujuan untuk pembentukan kompetensi.
Sementara itu dua pembicara dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengungkapkan bahwa di UGM melalui Kantor Jaminan Mutu melakukan benchmarking bidang ilmu sebagai langkah menuju internasionalisasi serta menggali masukan dari alumni dan stakeholders (tracer study). Selain itu juga diungkapkan bahwa di UGM, student center learning (SCL) datang lebih dulu daripada KBK. SCL di UGM berlaku sebagai method of delivery dalam pelaksanaan KBK dan dengan SCL, kompetensi lulusan tidak hanya bersifat hard skill melainkan juga soft skill. [nik]

Lagi, Prof Soekartawi Membimbing dan Menguji Program Doktor di Australia

Dikirim oleh prasetya1 pada 13 Desember 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1354


Kepercayaan internasional kembali diperoleh Prof Dr Soekartawi, guru besar Fakultas Pertanian yang kini bertugas sebagai tenaga ahli Depdiknas. Kalau beberapa bulan lalu ia dipercaya menjadi asessor profesor di Universiti Sains Malaysia dan penguji (external examiner) program doktor di University of New Casle Australia, maka kini di University of Ballarat, Melbourne, Australia. Prof Soekartawi menyampaikan kabar ini melalui e-mail kepada PRASETYA Online.
Kali ini bukan saja ditugasi sebagai penguji, tetapi ia juga membimbing mahasiswa program doktor, sampai mengantarkan mahasiswa tersebut menyelesaikan program doktornya. Kepastian menjadi pembimbing mahasiswa pascasarjana di University of Ballarat, Melbourne tersebut diterima oleh Prof Soekartawi dari Research and Graduate Studies Office beberapa hari lalu.
Dalam komisi pembimbing, Prof Soekartawi bergabung bersama sejawatnya Prof Jerry Courvisanos dan Prof Diane Clingin. Dia satu-satunya pembimbing luar universitas yang berasal dari Indonesia. Karena itu dalam waktu dekat ini Prof Soekartawi akan bertolak ke Melbourne guna mendiskusikan proposal disertasi mahasiswa yang dibimbingnya.
Sudah menjadi kebiasaan Prof Soekartawi, setiap kali membimbing mahasiswa pascasarjana, ia selalu mendorong bimbingannya untuk menulis. Dalam seminar Aplikasi ICT di Jakarta bulan lalu, Soekartawi bersama mahasiswa bimbingannya menyampaikan makalah yang berjudul: "The Power of Cultural and Managerial Aspect towards ICT Adoption: A Case Study in Horticultural Agribusiness". Kini ia bersama mahasiswa dan komisi pembimbing  lainnya juga menyiapkan suatu artikel yang akan dikirim ke jurnal internasional dengan judul "Indonesian ICT Development and the Role of Agribusiness in National Economic Growth".
"Yah, ini sebuah pengakuan atau apresiasi yang dating dari komunitas akademis yang sayang kalau tawaran menjadi pembimbing dan penguji ini tidak diterima. Untuk menetapkan saya sebagai pembimbing itu saja tidak semudah seperti di sini, tetapi harus dievaluasi dari berbagai aspek penilaian", tutur Prof Soekartawi.
Dalam pandangan Prof Soekartawi, semakin banyak dosen yang terlibat di event-event internasional, akan semakin cepat Unibraw "go international", seperti yang tertulis dalam visi Unibraw. Karena itu ia tak bosan-bosan menyarankan agar pimpinan Unibraw mendorong stafnya untuk aktif dalam berbagai event internasional, baik di dalam maupun di luar negeri. [Skw]