Prasetya Online

>

Berita UB

Korpri Unibraw Salurkan Santunan Kematian Rp 28,25 Juta

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1723

Rukun Kematian Unit Korpri Universitas Brawijaya, selama 1 tahun (April 2005-Maret 2006), telah menyalurkan santunan kematian sebesar Rp 28,25 juta. Santunan ini diberikan kepada 98 keluarga/anggota Korpri Unibraw yang meninggal dunia selama setahun terkahir.
Dalam laporan tahunan yang dikirimkan 6 April 2006 itu, disebutkan saldo terakhir kas Rukun Kematian tercatat sebesar Rp 51,08 juta. Pemasukan dari iuran anggota Kantor Pusat dan fakultas-fakultas selama setahun ini tercatat sebesar Rp 33,2 juta. Demikian laporan yang ditandatangani Ketua Rukun Kematian Unit Korpri Unibraw Drs H Chamid Syarbini, dan Bendahara Hj. Muktiatun. [Far]

Tradisi Minum Teh di Pekan Budaya III 

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1843

Dra. Cicilia Tantri
Dra. Cicilia Tantri
Kebudayaan berbagai negeri dari hampir seluruh penjuru dunia difasilitasi dalam Pekan Budaya III. Contohnya, saat pembukaan acara panitia menampilkan perpaduan antara tradisi Jepang dengan budaya Jawa.
Hari ini, Kamis (6/4), salah satu bentuk kebudayaan masyarakat Jepang yaitu tradisi minum teh pun diperagakan di Student Center Unibraw. Menurut Dra. Cicilia Tantri, dosen sastra Jepang Universitas Dr. Soetomo, budaya minum teh yang dilakukan masyarakat Jepang ini merupakan budaya yang adi luhung. Budaya ini menurutnya berasal dari pendeta Budha. Budaya minum teh pada esensinya berasal perwujudan penenangan diri. Perang saudara yang terjadi pada saat itu membuat masyarakat tegang. Budaya minum teh ternyata dapat membuat suasana hati lebih damai dan tenang.
Spirit lain yang ditimbulkan pada budaya ini adalah penghilangan kasta-kasta yang terbentuk di masyarakat. Orang yang minum teh duduk bersama di satu meja dengan posisi yang sama inilah yang kemudian dijadikan patokannya. Pesta minum teh yang dalam bahasa Jepang disebut dengan “chanoyo” ini biasanya disertai dengan makan-makan kue khas Jepang bernama “waguashi”. Rasa teh yang pahit menurut Cicilia akan saling melengkapi dengan kue waguashi yang manis.
Antusiasme pengunjung Pekan Budaya ternyata cukup menggembirakan. Sekitar 20 peserta turut memeriahkan acara ini. “Kami di sini hanya lebih memperkenalkan tradisi ini dan spiritnya,” ujar Cicilia. Dalam tradisi ini, spirit yang ditimbulkan adalah mampu menenangkan diri dalam suasana yang hiruk pikuk. [vty]

Refleksi dan Proyeksi Ideologi Islam untuk Indonesia yang Bermartabat 

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2028

Majelis Ta’lim Forum Ukhuwah Islamiyah Mahasiswa Peternakan Universitas Brawijaya
Majelis Ta’lim Forum Ukhuwah Islamiyah Mahasiswa Peternakan Universitas Brawijaya
Bekerja sama dengan Forum Kajian Keislaman Kontemporer (FK3) UIN Malang, Majelis Ta’lim Forum Ukhuwah Islamiyah Mahasiswa Peternakan Universitas Brawijaya (MT Funa) menyelenggarakan seminar nasional. Seminar bertajuk “Refleksi dan Proyeksi Ideologi Islam untuk Indonesia yang Bermartabat” ini digelar di gedung PPI Universitas Brawijaya, Kamis (5/4). Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini Djoko Susilo (anggota Komisi I DPR RI) dan Ustadz Muhammad Ismail Yunanto (juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia).
Ketua Pelaksana, Wisnu Sapto Adji (mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi FPt 2004), dalam pengantarnya mengatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap adanya dominasi asing terhadap Indonesia yang bahkan mampu mengikis keberadaan nilai-nilai lokal. Melalui seminar ini diharapkan mampu memberikan alternatif solusi paradigmatik terhadap kondisi tersebut melalui implementasi ideologi Islam sebenar-benarnya.
Melalui materi bertajuk Islam dan Identitas Indonesia, Djoko Susilo memaparkan kasus ketegangan hubungan antara Indonesia dengan Australia dari kacamata identitas Indonesia, yang mayoritas juga merupakan masyarakat Muslim. Menurutnya, tindakan sepihak Australia terhadap Indonesia dalam beberapa masa belakangan ini patut dicermati. Hal tersebut menurutnya, lebih parah lagi disulut dengan ketidaktegasan pemerintah Indonesia dalam menjalin hubungan diplomatik dengan Negeri Kanguru ini. Dalam paparannya, Djoko menyebut beberapa kasus yang menampakkan sikap negatif dan tidak konstruktif dari Australia, seperti kasus Asylum Visa yang diberikan kepada 42 warga Papua, kecaman Australia atas ketidakpuasannya terhadap pidana yang dijatuhkan kepada Abu Bakar Baasyir, serta kasus kemarahan luar biasa warga Australia terhadap Stephanie Corby yang dipenjara 20 tahun dalam kasus penyelundupan narkoba.
Sementara itu, dalam materi dengan tajuk “Menuju Indonesia Kuat dan Bermartabat", Ustadz Muhammad Ismail Yusanto mempresentasikan Islam sebagai solusi dalam berbagai keadaan tidak ideal seperti kemiskinan dan problematika sosial, kerusakan moral serta KKN. Menurutnya, untuk menuju Indonesia yang lebih baik diperlukan perbaikan sistemik baik melalui perjuangan kultural maupun struktural guna menuju Indonesia yang benar-benar merdeka dalam semua aspek, merdeka dari tekanan negara adidaya, merdeka dalam mengelola SDA, serta merdeka dari penghambaan kepada sistem dan ideologi manusia menuju penghambaan kepada Tuhannya Manusia. [nok]

Monolog Putu Wijaya 

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3039

Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw
Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw
Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw, Rabu (5/4) malam, berlangsung sangat meriah. Sebagai rangkaian acara Pekan Budaya III, karya terbaru Putu Wijaya bertajuk “Surat Kepada Setan” ini untuk pertama kalinya digelar di Malang.
Tampil ke atas panggung dengan pakaian serba hitam berpeci, Putu Wijaya memulai pentasnya dengan bercerita seolah dia menjadi seorang guru yang membicarakan mengenai perburuan akademik untuk pencerdasan bangsa.
Pria yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya dalam monolognya mengambil tema besar mengenai pendidikan. Pendidikan di Indonesia selalu dalam situasi berusaha untuk mendidik bangsa yang lebih kompetitif. “Saya kurang setuju dengan konsep seperti itu,” ujarnya. Menurutnya hal itu hanya untuk merespon globalisasi agar lebih beradab, beriman, dan lebih mempunyai kemampuan. Cara pendidikan di Indonesia ini sangat mengagungkan guru.
Pada babak pertama, dia berperan sebagai guru. Dikatakan bahwa semua ini bukan kesalahan dari pemerintah semata. “Sudah saatnya rakyat juga ikut bertanggung jawab,” tambah sastrawan yang biasa dikenali dengan topi pet putihnya.
Budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Multikultur Indonesia, menurut Putu, sebenarnya sangat potensial. “Bhinneka tunggal ika yang kita miliki, membikin iri bangsa lain”, katanya. Jika kondisi seperti ini terjadi, maka menurut seniman yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum UGM ini, maka kembali ke kearifan lokal pun layak dilakukan.
Karya terbaru ini nantinya akan dipentaskan secara lengkap di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 17-18 Juni 2006 mendatang, dengan judul “Setan.” Setan ia pakai sebagai sebuah perumpamaan, karena kondisi masyarakat yang terjadi ialah ketika ada masalah orang selalu mencari kambing hitam. Dalam monolog yang dipentaskan selama 2 jam ini, setan selalu disalahkan dalam setiap kasus yang terjadi. [vty]

Bedah Buku: Matikan TV-Mu! 

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2974

Sunardian Wirodono
Sunardian Wirodono
Televisi merupakan media yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Fenomena ini dieksplorasi pada acara bedah buku sebagai rangkaian Pekan Budaya III di Sasana Samanta Krida Universitas Brawijaya, Rabu (5/4). Buku yang dibedah berjudul “Matikan TV-Mu”, karya Sunardian Wirodono, yang diterbitkan oleh penerbit Resist Book.
Sebagai media audio visual, demikian ulas Sunardian Wirodono, jenis media ini memang mudah diakses. Dalam perkembangannya, keberadaan televisi jauh melampaui media massa yang lain. Pengarang ini mengibaratkan media televisi Indonesia sebagai masakan yang dipanggang atau dimasak setengah matang. Tidak mentah tapi tidak matang. Media televisi Indonesia menjadi bermasalah ketika masyarakat sebagai obyek hanya dieksplotasi, dibohongi, dikadali oleh berbagai tayangan yang disodorkan. Tayangan tersebut hanya berdasarkan selera pemilik modal. Peranan ideal media sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan agar masyarakat kian memiliki sikap kritis, mandiri, dan kedalaman berpikir tidak sepenuhnya bisa terwakili.
Menurut pembanding, Mochamad Nasrul Chotib, buku ini sangat memunculkan keberpihakan yang cenderung melupakan bahwa semua media sesungguhnya merupakan mesin kapitalis. Buku ini seolah memposisikan TV sebagai satu-satunya media penghasil kapitalis tanpa memberlakukan hal yang sama dengan media lainnya.
Penulis Sunardian yang pernah bekerja di bidang perteleviasian ini (TV Indosiar) ini dalam bukunya menyinggung bahwa media televisi sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat dengan menanamkan kebebasan dan inisiatif. Namun dalam perkembangannya media televisi tumbuh sendiri karena tuntutan syahwat keuntungan yang tidak toleran. Menurut pria kelahiran Yogyakarta ini, ada 4 kemungkinan yang bisa mencegah kerakusan. Yakni, adanya aturan yang adil dari pemerintah, lembaga kontrol media televisi yang proporsional, tumbuhnya kaum profesional televisi yang proporsional dan daya kritis masyarakat sebagai kelompok penekan. Menurut Direktur Operasional Kakipena Communications (Kinacom) Jakarta ini jika salah satu keempat syarat tersebut tidak ada akan menjadi racun. Maka dari itu masyarakat harus mempunyai daya imunitas yang berasal dari agama dan pendidikan. [vty]