Prasetya Online

>

Berita UB

Pengukuhan Dua Guru Besar Peternakan 

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3212

Universitas Brawijaya, Sabtu 14/1, mengukuhkan dua orang gurubesar baru. Keduanya dari Fakultas Peternakan, yaitu Prof. Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS dari program studi reproduksi ternak dan Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS dari program studi sosial ekonomi peternakan.
Upacara pengukuhan berlangsung di Balai Senat, gedung PPI Universitas Brawijaya, dalam rapat terbuka Senat Universitas Brawijaya yang dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Bambang Guritno, dan disaksikan oleh segenap sivitas akademika, dan undangan lainnya. <Prof. Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS
Prof. Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS
Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS
Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS
Prof. Yuliani Djuniarti adalah gurubesar ke-13 dan Prof. Darsono Wisadirana gurubesar ke-14 dari Fakultas Peternakan, atau masing-masing ke-118 dan ke-119 dari Universitas Brawijaya.
Keduanya adalah sarjana peternakan lulusan Unibraw. Prof Yuliani sarjana peternakan (1972), magister (1983) dan doktor (1993) dalam bioreproduksi ternak lulusan IPB Bogor, sedangkan Prof Darsono sarjana peternakan (1982), magister (1992) dan doktor (2001) dalam sosiologi dari Unpad Bandung.
Prof. Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS, kelahiran Surabaya, 1 Juni 1943, diangkat dalam jabatan gurubesar dalam bidang ilmu reproduksi burung terhitung mulai tanggal 1 Juli 2005, berdasarkan SK Mendiknas nomor 37202/A2.7/KP/2005 tanggal 30 Juni 2005. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS, kelahiran Brebes, 27 Desember 1956, diangkat dalam jabatan gurubesar dalam ilmu sosiologi terhitung mulai tanggal 1 Juli 2005, berdasarkan SK Mendiknas nomor 37209/A2.7/KP/2005 tanggal 30 Juni 2005. Dalam pengukuhan tersebut, Prof. Yuliani membawakan orasi ilmiah berjudul "Fenomena Kicauan Master Burung Love Bird dari Lahan Sempit untuk Menepis Kehidupan Global", sedangkan Prof. Darsono membawakan orasi ilmiah berjudul "Penguatan Sosiokultural sebagai Modal Sosial untuk Mendukung Pembangunan Peternakan Berkelanjutan".
Dengan pengukuhan tersebut, hingga saat ini jumlah gurubesar aktif Unibraw sebanyak 91 orang, dengan rincian FH 5, FE 10, FIA 11, FP 26, FPt 13, FT 5, FK 9, FPi 3, FMIPA 4, dan FTP 5. Sebanyak 28 gurubesar Unibraw telah pensiun, bahkan 10 di antaranya telah wafat. [Far]

Kicauan Love Bird untuk Menepis Kehidupan Global 

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3390

Prof Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS
Prof Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS
Dalam orasi ilmiah berjudul "Fenomena Kicauan Master Burung Love Bird dari Lahan Sempit untuk Menepis Kehidupan Global", Prof Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS mengatakan bahwa lingkungan yang terus berubah dengan cepat akan menyulitkan adaptasi manusia, sehingga berbagai problema dan dilema pun bermunculan secara nyata. "Ini akan berpeluang dalam manifes peningkatan stress publik, yang berbahaya bagi kesehatan hidup bersama dalam masyarakat".
Hal ini disampaikan Prof. Yuliani dalam upacara pengukuhan jabatan guru besar di Balai Senat Universitas Brawijaya, Sabtu 14/1.
Mengawali orasi, dinyatakan bahwa telah terjadi perubahan paradigma dalam bidang peternakan. "Dulu, jika orang berbicara tentang peternakan maka pikiran terfokus pada kepemilikan padang puluhan hektare, namun kini keadaan itu telah berbalik, mengarah pada lahan sempit", tuturnya. Petak tanah beberapa meter persegi, menurut Prof Yuliani, mampu menambah dan meningkatkan ekonomi kerakyatan, khususnya petani ternak, bila tanah sempit itu dimanfaatkan secara tepat guna.

Satwa harapan
Dikemukakan juga satwa liar sekarang telah mendapat wadah untuk dibudidayakan menjadi satwa harapan. Satwa ini diharapkan mampu menepis intervensi globalisasi, atau bahkan menjadi komoditi ekspor nonmigas. "Budidaya satwa burung termasuk usaha yang efisien seperti ini", tegasnya. Disebutkan bebarapa peran dan fungsi burung bagi manusia: burung adalah sarana atau wahana pemuas lahir dan batin, karena burung mempunyai ekosistem yang erat dan akrab dengan manusia; burung dapat memberi semangat serta nilai-nilai tersediri bagi pemiliknya. Di samping itu, burung mempunyai nilai ekonomis yang menarik sebagai sumber penghasilan pokok atau sampingan.
Prof. Yuliani mengatakan, satwa burung Indonesia menempati urutan keempat di dunia setelah Columbia, Brasil, dan Peru. Tercatat ada 1583 macam spesies burung di Indonesia, dan 381di antaranya adalah spesies endemik, seperti jalak bali, glatik jawa, dan beberapa spesies lainnya. Berdasarkan spesies endemik, maka Indonesia adalah nomor satu di dunia, karena 4% spesies endemik yang ditemukan di dunia hanya ada di Indonesia. Namun tragis dan ironisnya, dari jumlah 1583 spesies yang tersisa hanya 340 spesies saja. Selebihnya telah punah. Oleh sebab itu, Prof. Yuliani memandang perlu pelestarian melalui penangkaran yang tepat sehingga kesinambungan hidup satwa burung dapat terjaga.

Nilai Ekonomis
Dalam hal penangkaran, kinerja reproduksi menjadi penentu utama sesuai dengan hukum alam.

Membangun Peternakan, Memasukkan Nilai yang Memihak Kearifan 

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2702

Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS
Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS
"Ada kecenderungan masyarakat kurang menghargai dan bahkan meninggalkan nilai dan norma yang berlaku sebagai pengatur dalam pemanfaatan sumberdaya alam". Demikan Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS dalam orasi ilmiah berjudul "Penguatan Sosiokultural sebagai Modal Sosial untuk Mendukung Pembangunan Peternakan Berkelanjutan" yang disampaikan pada upacara pengukuhan jabatan gurubesar di Balai Senat Universitas Brawijaya, Sabtu 14/1.
Namun demikian, di samping sifat-sifat keserakahan yang cenderung merusak, Prof Darsono yakin bahwa setiap individu tentu memiliki kearifan yang cenderung memelihara atau memperbaiki.
Berangkat dari keoptimisan, Prof Darsono mengatakan: "Meskipun sifat masyarakat telah berubah dari sifat kearifan menjadi sifat yang cenderung merusak, karena budaya yang tidak memihak pada kearifan, saya tetap yakin masyarakat bisa diajak untuk memelihara dan memperbaiki, manakala kita memasukkan nilai-nilai budaya yang memihak pada kearifan".

Sosiokultural
Sosiokultural sebagai modal sosial meliputi ide, nilai, norma, sikap dan perilaku (cognitive social capital), kerjasama, gotong royong, dan kelembagaan struktur sosial ekonomi, menurut Prof Darsono, merupakan aspek sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan. "Ini karena sosiokultural merupakan pengatur perilaku dalam mengelola sumberdaya secara arif, dan pengendali dalam mengelola sumberdaya yang cenderung merusak", tuturnya.
Menurut Prof Darsono, penguatan sosiokultural merupakan upaya memperkuat kapasitas masyarakat dengan cara melatih dan mendidik untuk lebih memahami dan mengerti fungsi sistem nilai dan norma pengatur perilaku. "Konsep ini muncul karena pelaksanaan pembangunan dengan pendekatan top-down, yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan nilai sosial budaya, menyebabkan pudarnya kearifan lokal dan rusaknya sumberdaya pembangunan. Sebagai bagian integral dari pembangunan Indonesia, kebijakan pembangunan peternakan juga bersifat top-down. Hal ini menyebabkan masyarakat selalu tergantung pada pemerintah, tidak memiliki inisiatif dan kreativitas untuk maju, lebih bersifat menunggu dan meninggalkan budaya gotong royong, sehingga sulit diharapkan pembangunan peternakan berkelanjutan, meskipun sumberdaya ternak  dan daya dukungnya bersifat renewable", tandasnya.

Prof. Simon B Widjanarko di Unisma Tawarkan Solusi Formalin 

Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1841

Merebaknya isu formalin akhir-akhir ini sempat mematikan beberapa usaha. Inilah yang membuat Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Islam Malang (Unisma) gerah. Untuk mengatasinya, FE Unisma 12 Januari lalu mendatangkan beberapa pakar membahas masalah ini.
Diskusi bertajuk Penggunaan Bahan Pengawet dalam Makanan ini membahas dampak dan solusi tentang penggunaan bahan tersebut. Ketua Kadin Bidang Usaha Mikro Prof Dr Hj Nurhajati SE MS mengatakan, dampak pemberitaan tersebut sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha mikro dan menengah.
Dampak negatif terbesar, menurut Nurhajati, adalah menurunnya omzet penjualan. Kerugian lain adalah image konsumen terhadap produk seperti mi basah, tahu, ikan asin, dan bakso.
Lalu bagaimana solusi yang harus ditempuh? Nurhajati mengatakan, perlu adanya penerapan proses produksi yang sehat dan aman. "Namun itu saja tidak cukup, birokrasi harus diefektifkan dan pengetahuan produsen dan konsumen perlu ditingkatkan," ungkapnya.
Peserta juga diberi tawaran solusi oleh Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unibraw Prof Simon Bambang Widjanarko PhD. Yakni dengan menggunakan pengawet pangan kuno seperti sorbat dan benzoat.
Sementara, PR I Unisma Prof Dr A. Yusuf Imam Sujai menganggap diskusi semacam ini sangat penting. "Yang paling merasakan dampak ini semua lagi-lagi masyarakat kecil. Karena itu perlu dicarikan jalan keluar secepatnya," ungkap Yusuf. [skm] http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=113805&c=88

Perayaan Natal di Unibraw 

Dikirim oleh prasetya1 pada 13 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1979

Umat Kristiani warga Korpri Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, dan bank di lingkungan Unibraw, Jumat 13/1, menyelenggarakan perayaan Natal dan Tahun Baru 2006. Perayaan yang digelar di gedung Student Center Unibraw ini diisi dengan serangkaian acara, seperti: lagu-lagu pujian, drama Natal, pesan Natal, penyalaan lilin, lagu-lagu pujian dari paduan suara mahasiswa, sambutan ketua panitia, sambutan Rektor Unibraw, dan ramah tamah.
Perayaan Natal tahun ini diselenggarakan oleh panitia yang diketuai oleh Ir. EF Sri Maryani MS dosen Fakultas Teknologi Pertanian. [Far]