Prasetya Online

>

Berita UB

Prof. Sri Edi Swasono: Kewiraswastaan Dapat Diajarkan

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2389

Kewiraswastaan atau entrepreneurship adalah suatu intangible culture, suatu kemampuan struktural non fisikal yang mampu menggerakkan sosok fisikal. Kewiraswastaan mengkombinasikan empat faktor produksi yaitu land, labour, capital dan skill. Seorang wiraswasta yang unggul memiliki sifat-sifat kreatif, inovatif, originalitas, berani mengambil resiko, berorientasi ke depan dan mengutamakan prestasi, tahan uji, tekun, tidak gampang patah semangat, bersemangat tinggi, berdisiplin baja dan teguh dalam pendirian. Manusia dalam kelompok ini memiliki cita-cita dan dedikasi yang jelas serta etos kerja produktif dan kuat. Begitulah gambaran yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Sri Edi Swasono pada seminar sehari yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Wanita Universitas Brawijaya, Sabtu (29/1) lalu di Gedung Widyaloka.
Lebih lanjut diungkapkan oleh guru besar bidang ekonomi Universitas Indonesia ini bahwa masih banyak pihak yang kurang yakin bahwa kewiraswastaan dapat diajarkan melalui usaha pendidikan. Mereka berpendapat bahwa kewiraswastaan bertitik tolak dari in born quality atau sesuatu yang diperoleh karena keturunan, budaya, atau sikap mental yang diperoleh dari lingkungan sosialnya seperti keluarga. "Mereka tidak yakin bahwa pendidikan kewiraswastaan mampu mengubah sikap dan tingkah lakunya", tambahnya.

Jebakan Kultural
Sri Edi menyatakan bahwa jebakan hutang bangsa Indonesia telah menumbuhkan keterjebakan kultural (cultural trap), dimana posisi tersubordinasi sebagai bangsa berhutang telah menempatkan kita pada posisi keterdiktean, sekaligus membentuk pola pikir kita untuk menerima absurditas hubungan ekonomi 'tuan-hamba', yang selalu mencari kepercayaan dari pihak luar, mencari muka, dan mencari 'suaka kultural' kepada kreditor (IMF, World Bank, CGI, dan sebagainya).
Salah satu bentuk jebakan kultural terhadap bangsa Indonesia adalah ketiadaan kemampuan budaya bangsa membentuk entrepreneurship atau semangat kewiraswastaan yang memadai, sebagai upaya nyata membentuk human capital untuk menjaga martabat dan harga diri, melepaskan diri dari subordinasi dan ketergantungan, sekaligus untuk mengembangkan social capital ataupun socio-cultural capital sebagai modal ketangguhan untuk membangun financial capital. "Pendidikan tinggi kita sebagai pusat pengembangan ilmu dan budaya telah mengabaikan peran strategis entrepreneurship ini", tambahnya.

Kekerasan Perempuan, Karena Faktor Kultural dan Struktural

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 15417

Kekerasan terhadap perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang cukup variatif. Kekerasan terhadap perempuan ini tidak lagi memandang korban dari satu dimensi saja. Namun, banyak dimenasi. Seperti usia, jenis kelamin, status sosial, dan sebagainya. Tapi, tindak kekerasan masih menempatkan perempuan sebagai objek korban. Kekerasan terhadap kaum hawa ini dapat dikatagorikan ke dalam beberapa hal antara lain penyelundupan, kekerasan rumah tangga, penyekapan, pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, pembunuhan, dan trafiking atau perdagangan perempuan dan anak-anak. Hal itu dikatakan Sri Wahyuningsih  SH MPd, pakar jender dan hukum Universitas Brawijaya dalam seminar Kiat-kiat Menuju Keluarga Harmonis dan Sejahtera dalam rangka Dies Natalis  Unibraw ke-42 di Gedung Widyaloka  Sabtu (29/1) lalu.
Sri Wahyuningsih mengatakan kasus penyelundupan bayi ini sudah bergeser menjadi tata niaga bayi yang tidak lagi manusiawi. Penyelundupan ini dilakukan dengan modus adopsi sampai penjualan organ-organ tubuh korban. Perdagangan ilegal bayi ini akan sangat rawan terjadi melalui daerah-daerah perbatasan, seperti Kalimantan Barat. Daerah ini menajdi daerah paling strategis untuk praktik penyelundupan bayi ke negeri Jiran Malaysia dan menjadi pemesanan pengantin perempuan bagi pria-pria veteran dari Taiwan. "Pola trafiking lainnya adalah aksi prostitusi, praktik pengemisan, TKW, pembantu rumah tangga dipekerjakan sebagai jermal dan perkebunan, serta eksploitasi seksual lainnya, seperti phedophilia. Termasuk, penyekapan gadis-gadis ABG dalam penantian panjang pemberangkat-an menuju luar negeri sebagai TKW terselubung, , "ujarnya.

Adendum Kontrak Dipertanyakan, LPM Unibraw Diperiksa Lagi, Sujud Tidak Kaget

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2065

Tim Kimbun Gate (KG) Kejari Kabupaten Malang kemarin kembali memeriksa Ketua LPM Unibraw Prof Dr Ir Syamsul Bahri. Pemeriksaan kali kedua ini difokuskan pada materi munculnya adendum kontrak antara Pemkab Malang dengan LPM Unibraw. Sebab, dana proyek kawasan industri perkebunan (Kimbun) senilai Rp 3 miliar itu salah satunya untuk pembayaran proyek adendum.
"LPM kami periksa untuk mengetahui apakah muncul adendum, padahal proyek Kigumas sudah selesai," kata Kasi Intel Kejari Abdul Qohar di kantornya kemarin. Pemeriksaan terhadap Syamsul ini, sambung dia, untuk mengungkap adendum 05/2003 dan adendum 06/2003 senilai Rp 645 juta. Sebab, anggaran untuk adendum itu diambilkan dari proyek Kimbun. Pemeriksaan Syamsul itu juga untuk mengetahui apa isi rapat kerja delapan instansi di ruang Kertanegara, Pemkab Malang, pada 5 Febuari 2004 lalu. Sebab, salah satu peserta rapat adalah LPM Unibraw. Saat itu, mantan Sekkab Malang Achmad Santoso memerintahkan pengalihan dana Kimbun ke Kigumas. "Kami menganggap pertemuan itu sangat penting karena keputusan pengalihan dana Kimbun ke Kigumas terjadi saat itu," kata Qohar. Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa pejabat pemkab diperiksa tim Kimbun-gate kejari. Dari hasil pemeriksaan sementara tim Kimbun-gate, diperkirakan ada empat calon tersangka. Dua di antaranya mengarah pada pejabat setingkat kadis.

Prof. Sofyan Aman: Make Your House A Home

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1922

Berangkat dengan berpedoman pada ajaran Tuhan YME dan belajar dari pengalaman orang lain merupakan salah satu kunci dalam membina keluarga. Menjalankan proses adaptasi dengan saling pengertian yang diliputi moralitas kebersamaan, sangat penting dilakukan oleh dua orang manusia yang dipersatukan oleh Tuhan dalam ikatan tali pernikahan. Prof. Drs. H. Sofyan Aman SH menuturkan hal itu ketika menjadi pembicara dalam seminar bertajuk "Kiat-kiat menuju Keluarga Harmonis dan Sejahtera", di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Sabtu (29/1) lalu.
Sofyan Aman yang telah membina rumah tangga dengan Hj. Uswah Sacheh selama 48 tahun dan dikarunai empat orang anak ini menuturkan bahwa ungkapan "Make Your House a Home" seperti menciptakan rumah tangga yang penuh dengan rasa persaudaraan, kebersamaan, tidak kaku, ketauladanan, pendidikan, keluarga yang sehat jasmani dan rohani, ataupun menyimpan salah satu peristiwa terindah yang dapat dikenang sampai akhir hayat, merupakan salah upaya dalam membina keluarga harmonis dan sejahtera. [li]

Pameran Bunga Artifisial

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2540

Dharma Wanita Universitas Brawijaya menyelenggarakan pameran rangkaian bunga artifisial, 28-29 Januari 2005, di gedung Widyaloka. Pameran dalam rangka peringatan Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-42 ini, menampilkan 37 rangkaian bunga seperti 'Ijo royo-royo', Fatamorgana, Kemesraan atau Bunga di Cakrawala ini dimotori oleh Ny. Rien Bambang Guritno. Bunga yang dirangkai menggunakan bahan-bahan dari limbah rumah tangga seperti pelepah jagung, ranting pohon, biji-bijian, kulit tumbuhan dan sebagainya. Menurut Rien Guritno, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan minat dan kecintaan merangkai bunga. [li]