Prasetya Online

>

Berita UB

Pergantian Kalab Komputer FMIPA

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1878

Berhubung Ratno Bagus EW SSi MSi mendapatkan tugas studi lanjut, Rektor memandang perlu untuk memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya sebagai Kepala Laboratorium Komputer pada Fakultas Matematika dan iLmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan segera mengangkat penggantinya.
Dengan masukan dari Dekan FMIPA melalui surat bernomor 299/J.10.1.28/KP/2005 tanggal 15 Februari 2005, akhirnya Rektor memutuskan untuk mengangkat Achmad Basuki ST, Asisten Ahli Madya pada FMIPA, sebagai Kepala Laboratorium Komputer yang baru. Keputusan ini tertuang dalam SK Rektor nomor 026/SK/2005 tanggal 5 Maret 2005 tentang pemberhentian dan pengangkatan Kepala Laboratorium Komputer Fakultas MIPA yang ditandatangani Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno.
Sebelum ini Achmad Basuki ST adalah staf bidang pengembangan teknologi pada Pusat Pengembangan E-Learning (PPE) Unibraw. [Far]

EM UB Juga Skeptis, Gali Informasi Bentuk Pokja

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1467

Tak hanya anggota senat Unibraw saja yang meragukan perubahan status menjadi PT BHMN. Eksekutif Mahasiswa (EM) Unibraw pun cukup skeptis terhadap rencana tersebut. Meskipun telah disosialisasikan berkali-kali, namun EM Unibraw mengaku belum jelas konsepnya.
Hal itu dilontarkan Presiden EM Unibraw Trio Agus Purwono kepada Radar di kampus setempat. Menurut Trio, pihak EM masih belum jelas mengenai konsep PT BHMN yang sesungguhnya. "Selama sosialisasi dilakukan oleh kampus, yang disodorkan hanya konsep yang indah-indah saja, kami pun merasa belum jelas. Jadi sosialisasi yang diberikan oleh kampus terkesan sangat berlebihan," ujar mahasiswa teknik pertanian angkatan 2000 ini.
Dikatakan, EM Unibraw akan terus menggodok konsepnya dari sisi baik maupun buruknya. Untuk itu, pihak EM membentuk Pokja khusus PT BHMN yang saat ini masih aktif menggali informasi seputar PT BHMN. "Tidak hanya secara konsep undang-undang Sisdiknas maupun rancangan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) saja yang kami bahas. Namun, kami juga turun langsung menggali informasi tentang PT BHMN yang telah berjalan di empat kampus (UI, UGM, IPB dan ITB)," ungkapnya.
Yang jelas, lanjut Trio, pihak EM Unibraw tetap mengkritisi dan mengkaji seputar status BHMN. Nantinya, pihak mahasiswa akan mengajukan kontrak kepada kampus memberikan jaminan bahwa PT BHMN tetap akan berpihak kepada mahasiswa, bukan malah membebankan mahasiswa sebagai konsumen pendidikan yang dilaksanakan.

Diklat Pengembangan Kewirausahaan VII

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2534

Drs. Alex Soemadji Nitisemito
Drs. Alex Soemadji Nitisemito
Setiap orang yang ingin mengembangkan kewirausahaan harus memperhatikan rambu-rambu wirausaha. Lima dari dua puluh satu rambu wirausaha adalah ekspansi di luar jangkauan pengawasan, piutang yang tak terkendali, promosi penjualan tanpa persiapan, meremehkan saingan baru, dan kurang menanggapi merosotnya kualitas. Begitulah ungkap Drs. Alex Soemadji Nitisemito pada Diklat Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa angkatan VII yang berlangsung di Gedung PPI Universitas Brawijaya, 4-6 Maret 2005.
Sebanyak lebih kurang 130 orang peserta dari kalangan mahasiswa, dosen pengajar dan praktisi mengikuti kegiatan di buka oleh Pembantu Rektor III Drs. Tjahjanulin Domai MS. Kegiatan yang dilakukan atas kerjasama bagian kemahasiswaan Universitas Brawijaya dengan Indopurels ini menghadirkan pembicara yaitu Drs. Djanalis Djanaid, Drs. Alex Soemadji Nitisemito, Drs. Imam Hardjanto, Juniardi SH, Ir. Asih, Drs. Fatkhal Mu'in dan praktisi dari Bandung Sport. Materi diklat meliputi orientasi dan teknik memilih bidang
usaha, jurus-jurus kewirausahaan, perencanaan bisnis dan studi kelayakan, bisnis operasional dan marketing praktis, rambu-rambu wirausaha, keuangan praktis, teknik negosiasi dan praktek serta beberapa games kewirausahaan.
Menurut Drs. Djanalis Djanaid, diklat ini diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan mencari potensi kewirausahaan dari diri peserta diklat.[nik]

Senat Tak Satu Suara dalam Sikapi Perubahan Status Menjadi PT BHMN

Dikirim oleh prasetya1 pada 03 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1549

Langkah Unibraw menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara) tak semulus yang dibayangkan. Bahkan, Senat Unibraw sendiri tak satu suara dalam menyikapi perubahan status tersebut. Anggota senat yang menentang perubahan status tersebut adalah Prof Dr Ir Tatik Wardiyati. Guru besar hortikultura ini menyatakan sangat tidak setuju dengan rencana universitas yang tengah mempersiapkan diri menjadi PT BHMN. Alasannya, kondisi saat ini Unibraw dinilai masih sangat berat untuk menuju ke sana.
"Tidak usahlah menjadi PT BHMN, lebih baik Unibraw mencanangkan otonomi kampus. Artinya, pemerintah tetap memberikan subsidi dana tetap kepada kampus sebagaimana kampus PTN adalah milik pemerintah. Dan sebaliknya, pemerintah juga memberikan kebebasan kampus mencari dana sendiri," kata wanita berkaca mata minus ini kepada Radar di ruang kerjanya kemarin.

Jurusan Tanah Sosialisasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Dikirim oleh prasetya1 pada 03 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2230

Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya mengadakan sosialisasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di gedung Jurusan Tanah, Kamis 3/3. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut lokakarya pengembangan kurikulum Jurusan Tanah yang mendapatkan program hibah kompetisi A2. Sosialisasi ini dibuka oleh Ketua Jurusan Tanah, Dr. Ir. Mochtar Luthfi Rayes MSc dan wajib diikuti oleh mahasiswa angkatan 2000, 2001, 2002, 2003 dan 2004. Sosialisasi  KBK ini mengacu SK Mendiknas 045/U/2000 yang menyuratkan perubahan mendasar kurikulum pendidikan menjadi kurikulum berbasis kompetensi.
Dijelaskan bahwa inti kompetensi adalah kemampuan yang dibentuk melalui pengintegrasian 3 jenis ketrampilan (skill) seperti ketrampilan intelektual, ketrampilan psikomotorik serta kemampuan bersikap dan berperilaku. Sedangkan Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Unibraw menerapkan KBK karena sebelumnya kurikulum Jurusan  dilaksanakan bertahun-tahun tanpa revisi yang bermakna dan konsepsional. Padahal sebuah kurikulum dikatakan baik apabila kurikulum bersifat dinamis yang senantiasa adaptif terhadap perubahan.
Akhirnya, dampak dari stagnannya kurikulum Jurusan Tanah tersebut bila dilihat dari kacamata internal, antara lain: semakin banyaknya lulusan Jurusan Tanah yang menganggur atau sekurang-kurangnya bekerja tidak berbasis pada kemampuan akademiknya; lulusan Jurusan Tanah tidak memiliki ketrampilan dan ketrampilan memasuki lapangan kerja dan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya. Juga Jurusan Tanah merupakan jurusan yang seakan-akan semakin kurang diminati masyarakat yang akan melanjutkan diri ke perguruan tinggi. [sat]