Prasetya Online

>

Berita UB

Workshop Peranan Wanita dalam Fisika

Dikirim oleh prasetya1 pada 13 Desember 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1752

Sedikitnya jumlah mahasiswi di Jurusan Fisika Unibraw mendorong jurusan itu mengadakan workshop bertema "Peranan Wanita dalam Fisika". Workshop yang dihadiri oleh 48 orang dari siswa-siswi SMU Negeri Malang dan Pusat Studi Wanita (PSW) universitas negeri dan swasta ini mencoba mempromosikan fisika dan peranan wanita jika terjun di bidang tersebut.
"Adanya kesenjangan peran antara wanita dan laki-laki mempengaruhi kenapa fisika kurang diminati oleh wanita", jelas Lailatin Nuriah, steering committee acara tersebut. Setelah wanita terjun ke dunia kerja mereka akan mengalami perbedaan dalam penempatan kerja baik di swasta ataupun di pemerintahan.
Workshop yang digelar selama 2 hari, 13-14 Desember 2005, ini menghadirkan pembicara, di antaranya: Prof. Dr. Ir. Hj. Keppi Suksesi MS (PSW Unibraw), Dr. Priahantinah Tri Lisiani (PSW Unsoed), Ir. Rahayu S MSIE, (konsultan dari Jakarta) dan Nenen Rusnaini MSc (LIPI Bandung). Dalam acara tersebut dibedah kemungkinan dan manfaat yang sebenarnya bisa diambil jika wanita memilih jurusan fisika. Dr. Priahantinah Tri Lisiani memberikan gambaran tentang peranan perempuan, kebijakan iptek dan HAM di Indonesia. Ia juga menjelaskan bahwa wanita memang kurang tertarik terhadap ilmu pengetahuan dibandingkan laki-laki sehingga harus diakui bahwa wanita memang telah tertinggal dalam penguasaan iptek. [vty]

Seminar Nasional Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan

Dikirim oleh prasetya1 pada 12 Desember 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1793

Dalam rangka dies natalis ke-43 Universitas Brawijaya sekaligus juga perayaan dies natalis ke-44 Fakultas Ekonomi, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Pengabdian Masyarakat FE Unibraw menggelar seminar nasional dengan tema "Pengembangan Investasi dan Pembiayaan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK)".
Seminar yang berlangsung di gedung PPI Unibraw, Senin 12/12, ini terselenggara atas kerjasama Fakultas Ekonomi dengan Kantor Menteri Koordinator Perekonomian. ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari kalangan akademisi, profesional, aparat pemerintah, serta mahasiswa. Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Dr. Bayu Krisnamurthi MS (Deputi II Menko Perekonomian), Basofi Soedirman (mantan Gubernur Jawa Timur), Kepala Badan Penanaman Modal Jawa Timur, Prof. Dr. M. Harry Susanto SE SU, Kepala Bank Rakyat Indonesia Malang, Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Sahri Muhammad MS, PTPN XI, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur serta Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur.

Kerjasama
Sebelum seminar berlangsung, diadakan penandatanganan naskah kerjasama antara Universitas Brawijaya, Universitas Trunojoyo, dan Universitas Jember dengan Kementerian Koordinator Perekonomian yang diwakili oleh Deputi II Menko Perekonomian Koordinator Bidang Pertanian dan Kelautan, Dr. Bayu Krisnamurthi MS. Sementara itu pihak Universitas Brawijaya diwakili oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Bambang Subroto SE MM Ak.
Dalam naskah antara lain disebutkan tujuan kerja sama adalah untuk mengimplementasikan berbagai kegiatan yang berhubung-an dengan program-program konkret RPPK dalam meningkat-kan kualitas SDM, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian RPPK serta mensosialisasi-kannya untuk meningkatkan kualitas kebijakan di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Mesin produksi SDM

Ada empat subtema yang dibahas dalam seminar ini, yaitu: "Fasilitasi Pembiayaan Investasi dan Pembiayaan Modal Kerja dengan Mendorong Business Plan Perbankan, untuk Modal Investasi dan Modal Kerja (Termasuk Perpajakan Syariah bagi PPK)"; "Mengembangkan dan Memfasilitasi Sistem Sistem Penjaminan Kredit bagi Petani, Nelayan dan Petani-Hutan"; "Mengembangkan Sistem Pembiayaan Jangka Panjang dan Pembiayaan yang Sesuai dengan Karakter dan Siklus Usaha"; dan "Mengembangkan Pembiayaan Non-Bank: Koperasi Simpan Pinjam dan Pegadaian, serta Non-Bank Non-Koperasi, Khususnya Keuangan Mikro, serta Keterkaitannya dengan Perbankan bagi Petani, Nelayan, dan Petani-Hutan".
Basofi Sudirman dalam makalah bertajuk "Intensifikasi Pemberdayaan Potensi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (PPK)", memulai dengan analisis kelemahan dari potensi PPK di antaranya pada aspek pemberdayaan, subyeknya cenderung masyarakat yang marjinal yang memiliki kemampuan teknis, administrasi, manajemen dan modal yang rendah, tidak ada kontinuitas dari hulu sampai hilir, produksi yang sulit bersaing serta rencana program dan kebijakannya tidak integratif dan holistik. Disebutkan, dalam hal ini sektor pendidikan memiliki peran sebagai mesin produksi SDM serta softwarenya dalam bentuk kurikulum yang berbasis kompetensi. [nok]

Seminar Nasional Ketahanan Pangan Masyarakat

Dikirim oleh prasetya1 pada 12 Desember 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 3241

Keresahan terhadap gizi buruk masyarakat dirasakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (Himalogista) Universitas Brawijaya. Senin 12/12, Himalogista menggelar Seminar Nasional tentang Ketahanan Pangan dan Gizi Masyarakat. Seminar membahas keadaan kualitas gizi masyarakat Indonesia dan peran akademisi dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Acara yang digelar di Widyaloka Unibraw ini ternyata diminati banyak orang. Sekitar  300 peserta memenuhi ruang pertemuan. "Dari seminar ini kami harap akan ada kebijakan untuk membahas masalah ketahanan pangan ini," ujar Sugiono, Ketua Himalogista Unibraw.

Rawan gizi
Kekurangan gizi pada masa anak-anak akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental di saat dewasa. Demikian pendapat Hendarmoko Budi Prasetyo AMd, staf Rumah Sakit Surabaya Internasional (RSSI). Dalam seminar itu Hendarmoko mengatakan, kasus rawan gizi yang perlu dijaga adalah pada masa bayi. Proses pertumbuhan otak pada tahap perkembangan pada umur 0-2 tahun. Ia juga menjelaskan jika bayi seumuran itu mengalami kekurangan gizi maka akan sangat berpengaruh pada IQ, EQ dan pertumbuhan fisiknya.
Sangat ironis, jika melihat kondisi Indonesia yang sangat berlawanan dengan sumberdaya alam yang tersedia. Indonesia yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawinya, sumber-sumber bahan makanan ternyata masih terjadi berbagai kendala kekurangan asupan gizi.

Desa mandiri pangan
"Keberhasilan pemberdayaan masyarakat akan sangat tergantung dari komitmen dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan," jelas Dr. Ir. Kaman Nainggolan MS, Ketua Badan Ketahanan Pangan. Ia juga menyampaikan bahwa dalam upaya pemantapan ketahanan pangan masyarakat sejak tahun 2002 telah dikembangkan 7 model pemberdayaan ketahanan nasional. Pada pelaksanaannya model pemberdayaan tersebut harus memperhatikan dinamika permasalahan antarwilayah dan masyarakat. Untuk mengintegrasikan model-model pemberdayaan ketahanan pangan, mulai tahun 2006 dikembangkan program aksi Desa Mandiri Pangan.
Pada sesi kedua membahas mengenai peran akademisi dalam mempertahankan ketahanan pangan masyarakat yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Sri Rahardjo MSc dan Prof. Dr. Ir. Harijono MAppSc.
"Untuk meminimalisasi kehilangan hasil, maksimalisasi rentang waktu ketersediaan, diversifikasi jenis produk pangan olahan, dan peningkatan kualitas dan keamanan pangan yang berbasis pada komoditas yang dihasilkan masyarakat perlu dilakukan penelitian dan pengembangan teknologi panen dan pasca panen," jelas Prof. Dr. Ir. Sri Rahardjo MSc, Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia. Selain itu juga diperlukan sarana pendukung sistem transportasi untuk distribusi pangan ke seluruh wilayah nusantara.

Pameran Hasil Praktikum
Dalam rangkaian kegiatan seminar nasional, Himalogista juga menggelar produk makanan. Sekitar 24 produk pangan yang dipamerkan merupakan hasil praktikum komoditas hasil pertanian mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian Unibraw.  Produk-produk tersebut di antaranya konjang, french fries ubi jalar, yoghurt, benalu teh, melorin ubi jalar, siomay labu kuning, susu jagung dan masih banyak lagi produk yang dipamerkan. [vty]

Ujian Terbuka Disertasi Ir. Rudy Soenoko MEngSc

Dikirim oleh prasetya1 pada 12 Desember 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2325


Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (PPS-UB), Senin 12/12, mengadakan ujian terbuka disertasi bagi Ir. Rudy Soenoko MEngSc, 56 tahun. Dosen senior Teknik Mesin Fakultas Teknik Unibraw ini membawakan disertasi berjudul "Respon Peningkatan Akurasi Oximeter dengan Mikrokontroler terhadap Hasil Pengukuran Saturasi Oksigen dalam Darah In Vivo (Upaya Linierisasi Unjuk Kerja Photomultiplier untuk Meningkatkan Akurasi Oximeter)" dalam ujian pada Program Doktor Ilmu Kedokteran PPS-UB. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. dr. Djanggan Sargowo SpPD SpJP(K), dan ko-promotor Dr. dr. Edi Widjajanto MS SpPK, serta Prof. Ir. I NG Wardana MEng PhD. Sedangkan para penguji terdiri dari Prof. dr. M Aris Widodo MS SpFK PhD, Prof. Ir. Sudjito PhD, Ir. Antariksa MEng PhD, dan Ir. Moses L Singgih MRegSc PhD.
Pengukuran saturasi oksigen dalam darah sangat diperlukan untuk mengetahui penyebab tidak berfungsinya organ tubuh akibat penurunan saturasi oksigen dalam darah. Rudy Soenoko dalam disertasinya mencoba membandingkan tingkat akurasi oximeter, salah satu dari sekian banyak alat pengukur saturasi oksigen darah (PO2) yang digunakan, dengan mikrokontroler.
Dikemukakan, salah satu kelemahan peralatan oximeter yang ada saat ini, pengukurannya kurang akurat. Ini disebabkan sensor yang dipakai adalah sebuah photomultiplier yang memberikan keluaran berupa tahanan listrik yang tidak berbanding lurus dengan masukan yang berupa panjang gelombang tertentu. Pemanfaatan mikrokontroler, menurut Rudy Soenoko, merupakan solusi untuk menghasilkan pengukuran yang lebih akurat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap hewan uji tikus wistar dengan tiga perlakuan (normal, gangguan paru-paru dan anemia) didapatkan hasil bahwa alat ukur dengan memanfaatkan mikrokontroler memberikan hasil unjuk kerja yang lebih baik daripada alat ukur saturasi oksigen dengan konsep lama (PO3220). Sensitivitas oximeter dengan mikrokontroler menunjukkan tingkat sensitivitas sebesar 0.87, sedangkan PO3220 sebesar 0.62. Selain itu nilai ketidakpastian alat dengan konsep baru adalah 0.04 sampai 0.02 pada pengulangan pengukuran sebanyak 400 kali atau sekitar 100 detik, dengan tingkat akurasi sebesar 0.98% serta dapat membaca presisi sampai 0.1%.
Hasil ujian terbuka disertasi, Rudy Soenoko dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan, indeks prestasi 3,46 dan masa studi empat tahun empat bulan. Untuk itu ia berhak menyandang gelar doktor ilmu kedokteran dengan minat teknologi kedokteran.
Berisiterikan Ir. Rispiningtati MEng (dosen Teknik Sipil FT Unibraw), Dr. Ir. Rudy Soenoko MEngSc dikaruniai seorang putra. Mendapatkan gelar sarjana teknik mesin dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (1983), dan master di bidang yang sama dari Melbourne University Australia (1991), Rudy Soenoko mengabdikan diri sebagai dosen Fakultas Teknik Unibraw sejak 1983. [nik]

Silaturahmi Nasional Ikatan Alumni Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 10 Desember 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1551

Dalam rangka Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-43, Ikatan Alumni Universitas Brawijaya menyelenggarakan Silaturahmi Nasional pada 10 Desember 2005 di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno, para pejabat teras di lingkungan universitas dan para alumni yang berasal dari seluruh wilayah di Indonesia.
Selain malam keakraban yang dihibur oleh artis ibu kota Titi Dwi Jayati, para peserta juga berdiskusi dan mengeluarkan rekomendasi tentang "Terobosan Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal". Bertindak sebagai pemrasaran Prof. Dr. Ir. Syamsulbahri MS, dan para panelis Kepala Bapemas Propinsi Jawa Timur, Bupati Magetan, Walikota Kediri, dan Walikota Blitar.
Silaturahmi nasional rencananya juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, dan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf. Rektor dijadwalkan juga menandatangani MOU tentang peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan pengembangan penelitian serta pembangunan dengan Kementerian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. [nik]