Prasetya Online

>

Berita UB

Visitasi Robot 

Dikirim oleh prasetya1 pada 22 Maret 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2087

tim visitasi mengunjungi Universitas Brawijaya untuk menilai kesiapan tim robot Unibraw
tim visitasi mengunjungi Universitas Brawijaya untuk menilai kesiapan tim robot Unibraw
Menyambut Kontes Robot Indonesia, Rabu (22/03), salah satu tim visitasi mengunjungi Universitas Brawijaya untuk menilai dan mengevaluasi kesiapan tim robot Unbraw. Tim tersebut diketuai I Dewa Made Subrata yang ditunjuk untuk mengadakan visitasi di wilayah Malang.
Semenjak tahun 1999, kegiatan kontes robot di Indonesia menjadi agenda rutin Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Ada 2 kontes yang digelar, yaitu Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI). Empat perguruan tinggi di Malang mengikuti KRI, yaitu Unibraw, Politeknik Negeri Malang, Universitas Negeri Malang dan Universitas Muhamadiyah Malang. Sedangkan KCRI diikuti 3 perguruan tinggi, yaitu Institut Teknologi Nasional, Universitas Merdeka dan Universitas Brawijaya.
“Awalnya kegiatan ini hanya dapat diikuti oleh politeknik saja, tapi kemudian pada tahun 2002 universitas diperbolehkan mengikuti kontes ini,” jelas Muhamad Akbar Basuki, koordinator tim kontes robot. Mahasiswa Teknik Elektro ini menambahkan untuk tahun ini acara ini dilaksanakan di Balairung, Universitas Indonesia, Depok.
Akbar mengatakan Unibraw telah mengikuti kontes ini semenjak tahun 2002. Prestasinya pun terbilang baik. Tahun pertama mengikuti kontes, Unibraw memenangkan best mobile 2002. Pada tahun 2004 Unibraw masuk 8 besar dan tahun 2005 Unibraw masuk 4 besar. "Kita menargetkan pada tahun ini kita masuk final,” ucap mahasiswa angkatan 2002 ini.
Menyambut kontes yang dilaksanakan pada 3-4 Juni 2006 mendatang,  Workshop Elektro Unibraw telah mempersiapkan diri sejak Desember 2005. “Lima hari terakhir ini kita telah dapat menyelesaikan rakitan dan menggerakkannya”, kata Akbar.
Tema yang ditetapkan ABU Robocon selaku penyelenggara adalah “Membangun Menara Cita-cita Bangsa Setinggi-tingginya”. Tema ini dipilih karena terinspirasi oleh kontes selanjutnya yang akan dilaksanakan di Malaysia pada Desember 2006 untuk membangun menara kembar Petronas seperti yang ada di Malaysia.
Unibraw sendiri akan menampilkan dua tim untuk KRI yang terdiri dari 14 mahasiswa dan dua tim untuk KCRI dengan 5-6 mahasiswa. Tim KRI Unibraw yaitu Mahameru Satu menampilkan 3 robot otomatis dan 1 robot manual, sama halnya dengan Mobot. Sedangkan untuk tim KCRI yaitu Makuto Romo menampilkan 1 robot expert, dan Ultra_Najah menampilkan 1 robot standard.
Akbar menjelaskan, sesuai dengan tema kontes, tim KRI Unibraw bertugas menyusun builder block. Sedangkan tim KCRI bertugas mencari titik api dan memadamkannya. “Nantinya, titik api tidak hanya pada satu ruangan saja, ada sekatnya, dan harus tepat dipadamkan”, tutur Akbar. [vty]

Dua Mahasiswa Unibraw Lolos Seleksi ke Jepang

Dikirim oleh prasetya1 pada 22 Maret 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2252

mahasiswa Universitas Brawijaya mendapatkan beasiswa studi ke universitas di Jepang
mahasiswa Universitas Brawijaya mendapatkan beasiswa studi ke universitas di Jepang
Dua mahasiswa Universitas Brawijaya dari Program Bahasa dan Sastra Jepang berhasil lolos mendapatkan beasiswa studi ke universitas di Jepang selama satu tahun. Robbi Widodo dan Hermina Regina akan berangkat bersama dua belas mahasiswa lain dari Universitas dr. Soetomo Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, Universitas Dian Nuswantoro Semarang, dan STBA LIA Jakarta.
Sebelum dinyatakan lolos, keduanya mengikuti seleksi (Monbukagakusho Ryugaku Shiken) pada bulan Desember 2005 silam yang diselenggarakan Konsulat Jepang di Surabaya. Seleksi itu sendiri diikuti sekitar 60 peserta dari wilayah Indonesia timur. Dari penjaringan di Surabaya keduanya bersama lima orang peserta lainnya yang lolos, berhak mengikuti seleksi wawancara yang diselenggarakan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam seleksi ini peserta dari Indonesia timur bersaing dengan lebih kurang 20 peserta dari wilayah Indonesia bagian barat.
Ujian penyaringan bagi mahasiswa asing yang akan studi ke Jepang ini diselenggarakan oleh departemen pendidikan Jepang. Pada ujian Monbukagakusho keduanya diharuskan mengerjakan soal yang meliputi tata bahasa, kosa kata, membaca, dan huruf kanji tentang linguistik serta sosial budaya orang Jepang. Robbi dan Hermina berhak mendapatkan biaya pendidikan dengan jumlah total sebesar 139 ribu yen yang diberikan setiap bulannya.
Kedua mahasiswa ini mengaku sangat gembira mendengar kabar bahwa keduanya diberi kesempatan studi ke Jepang dan berkesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai kehidupan masyarakat Jepang, yang selama ini hanya mereka ketahui melalui buku dan televisi. [nik]

Presentasi Pendidikan di Perancis 

Dikirim oleh prasetya1 pada 22 Maret 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2464

presentasi oleh Edu France
presentasi oleh Edu France
Untuk memberikan wawasan tentang sistem pendidikan di Perancis dan informasi tentang beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Perancis, Rabu (22/3), diselenggarakan presentasi oleh Edu France di Gedung PPI Universitas Brawijaya. Kegiatan ini diikuti oleh staf pengajar di lingkungan Universitas Brawijaya, mahasiswa Program Bahasa dan Sastra, guru serta siswa SMA di kota Malang, dan dibuka oleh Ketua Program Bahasa dan Sastra Dra. Sri Endah Tabiati MEd.
Edu France adalah lembaga yang berada di bawah naungan kedutaan besar Perancis. Hadir sebagai nara sumber, Senior Konsultan Edu France Fida Larue dan Justine Harald dari CCCL. Dalam paparannya Fida menuturkan bahwa sejak 2002 perguruan tinggi di Perancis dan Uni Eropa mulai menggunakan sistem pendidikan LMD atau Licence-Master-Doctorat, dari sebelumnya yang menggunakan sistem siklus. Jika pada sistem yang lama menggunakan penilaian secara nominal dari modul mata kuliah, maka sekarang diterapkan sistem kredit Eropa atau European Credit Transfert System (ECTS). Dengan demikian
maka para mahasiswa yang akan menempuh gelar Licence (setara dengan S1) harus menyelesaikan 180 kredit. Sementara untuk Master 300 kredit dan Doktoral 480 kredit.
Lebih lanjut diungkapkan bahwa sistem pendidikan tinggi di Perancis ada dua kategori yaitu Universitas dan sekolah spesifik atau Grande Ecole. Kedua jenis pendidikan ini berbeda karakter satu sama lain. Apabila di universitas penjaringan mahasiswa tidak ketat, sementara untuk grande ecole, seseorang harus benar-benar dipilih sesuai dengan kemampuan akademiknya (penjaringan
mahasiswa sangat ketat). Untuk keterangan lebih lanjut mengenai studi di Perancis, dapat mengakses website www.edufrance-Indonesia.com. [nik]

Isu Papua dalam Komunikasi Diplomat 

Dikirim oleh prasetya1 pada 22 Maret 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3537

Masalah Papua atau Irian pada hakekatnya sebagai masalah dalam negeri Indonesia. Akan tetapi perhatian luar negeri terhadap masalah ini cukup tinggi. Hal ini terlihat dengan adanya dukungan dari masyarakat internasional terhadap integritas NKRI yang mencakup Papua/Irian hingga akhir-akhir ini dinyatakan dalam berbagai kesempatan. Kredibilitas NKRI di mata dunia jika dilihat dari hukum internasional yang mengamanatkan kewajiban negara-negara untuk menghormati integritas negara lain dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Mangasi Sihombing
Mangasi Sihombing
Lutfi Rauf
Lutfi Rauf
Perhatian yang sangat besar terhadap kasus ini mengharuskan Departemen Luar Negeri untuk mengkomunikasikannya dengan masyarakat internasional. Kasus yang sedang hangat dibicarakan ini kemudian dijadikan bahan kuliah umum oleh Program Ilmu Sosial (PIS) pada Selasa, (21/03). Mereka kemudian mengambil tema “Isu Papua dalam Konteks Hukum Internasional : Sebuah Studi Kasus Dalam Komunikasi Diplomatik”. Kuliah umum ini menghadirkan 2 pembicara dari Departemen Luar Negeri (DEPLU) yaitu Lutfi Rauf MA (Direktur Informasi dan Media, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik) dan Mangasi Sihombing (Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik).
Menurut Maulina Pia Wulandari Ssos MComm, salah satu dosen PIS kuliah ini dilaksanakan sehubungan dengan rencana dibukanya jurusan baru yaitu Hubungan Internasional pada tahun akademik 2006-2007. Selain itu acara ini sebagai stimulus awal untuk program kekhususan yang akan dibuka nantinya yakni komunikasi diplomat.
Promosi citra
Kegiatan diplomasi yang melibatkan stakeholder merupakan pengaturan tata cara komunikasi bernegara. Menurut teori, tujuan komunikasi yaitu menyampaikan pesan atau informasi untuk sampai ke sasaran. Sehingga sasaran tersebut dapat mengikuti kepentingan kita dalam hal ini bangsa dan negara untuk kepentingan nasional. “Permasalahannya adalah bagaimana untuk mempromosikan citra,” ujar Lutfi Rauf, Direktur Informasi dan Media di Deplu.

Peletakan Batu Pertama Gedung Kembar FT Unibraw 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Maret 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2404

peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Teknik
peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Teknik
Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno bersama Dekan Fakultas Teknik Ir. Imam Zaky MT meletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Teknik, Senin (20/3). Gedung ini didesain sama dengan bangunan yang sebelumnya telah ada di sebelah timur bangunan ini, berlokasi di Jalan Mayjen Haryono 167, merupakan rehabilitasi berat gedung yang berdiri sejak tahun 1968. Acara ini dihadiri oleh Pembantu Rektor I Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito, mantan rektor Prof. Hasyim Baisoeni, serta jajaran dekan di lingkungan Unibraw.
Dalam pengantarnya, Dekan Ir. Imam Zaky MT, menyatakan bahwa gedung kembar Fakultas Teknik akan dibangun tiga lantai dengan luas bangunan 2200 m2 dan membutuhkan waktu penyelesaian selama enam bulan. Gedung kembar Fakultas Teknik ini menghabiskan dana sekitar Rp 4,2 milyar rupiah yang diperoleh dari dana DIPA dan IOM. Bertindak sebagai kontraktor PT Panca Kartika Jaya Malang dan pimpinan proyek Ir. Indra Cahya.
Sementara itu Rektor mengatakan bahwa pembangunan gedung di lingkungan Universitas Brawijaya semata-mata dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Karenanya Rektor mengharapkan agar pembangunan yang dilakukan, tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar dan memikirkan aspek keserasian antara bangunan satu dengan yang lain. Menurut Rektor, keserasian bangunan ini perlu diperhatikan agar Universitas Brawijaya nampak sebagai satu kesatuan dan menghindari arogansi antara fakultas yang satu dengan yang lain. [nik]