Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa FH Masuk Final PPRI-LIPI

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 November 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2217

Dua mahasiswa Fakultas Hukum, Ika Arlina Prabowo dan Wyka Aricahyanti, Selasa 29/11 ini berangkat ke Jakarta untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Presentasi tersebut berlangsung Kamis 1/12 di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kedua mahasiswa angkatan 2002 ini berhasil masuk babak final (5 besar) Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) tahun 2005 untuk bidang sosial yang diselenggarakan oleh LIPI. Mereka membawakan makalah hasil penelitian berjudul "Efektivitas Penggunaan Merek Dagang Terdaftar sebagai Implementasi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dalam Upaya meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat di Sentra Usaha Kecil Menengah Tas dan Koper di Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Studi Kasus di CV Citra Mulia Perkasa", didampingi oleh dosen pembimbing, Abdul Madjid SH MHum. [Far/nik]

Lokal Kalah dengan Impor, Deptan Prihatin Keterpurukan Holtikultura

Dikirim oleh prasetya1 pada 29 November 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1663

Departemen Pertanian (Deptan) RI menyatakan keprihatinannya atas keterpurukan hortikultura di Indonesia. Keprihatinan itu disampaikan Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian (Deptan) Dr Ir Ahmad Dimyati di sela-sela seminar hortikultura yang diselenggarakan Perhorti (Perhimpunan Hortikultura Indonesia) di Gedung Widyaloka Unibraw kemarin.
Apa buktinya? Dimyati mencontohkan, keterpurukan itu bisa dilihat dari konsumsi buah lokal dengan buah impor. Masyarakat kini lebih banyak yang menyukai buah impor dibandingkan dengan buah dalam negeri. "Ini karena kualitas produk yang belum memenuhi standar. Jumlah dan kontinuitas tanam juga masih belum bisa stabil memenuhi kebutuhan pasar. Di sisi lain harga di tingkat petani sangat rendah hingga mereka enggan menanam buah," jelas Dimyati.
Di pihak lain, sambung dia, kurangnya penguasaan teknologi di tingkat petani juga menjadi factor keterpurukan ini. Ditambah lagi kurang interesnya pengusaha berinvestasi di bidang ini.

Perlu Gerakan "Aku Cinta Buah, Sayur dan Bunga Produksi Indonesia"

Dikirim oleh prasetya1 pada 28 November 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2184


Perlu dipikirkan gerakan masyarakat "Aku Cinta Buah, Sayur dan Bunga Produksi Indonesia". Jika gerakan ini sukses, maka serbuan produk hortikultura dari negara lain dapat dieliminasi karena rakyat Indonesia lebih menyukai produk hortikultura dalam negeri. Hal tersebut diungkapkan Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno ketika membuka seminar nasional hortikultura, Senin 28/11, di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Selain seminar, kegiatan yang juga diselenggarakan adalah temu tahunan, temu bisnis, field trip dan pameran selama dua hari, 28-29 November 2005..
Lebih lanjut dikatakan bahwa beberapa komoditas unggulan di subsektor hortikultura yang layak dikembangkan di Indonesia adalah nenas, pisang, sayur segar maupun olahan dan jamur. Dikatakan kebutuhan sayuran beku di Jepang seperti terung, sawi, okra, melon putih, mentimun, dan paprika cenderung meningkat. Jenis sayuran tersebut umumnya bisa dikembangkan dan dibudidayakan di Indonesia.

PP Otoda Bentuk Pilrek Watch, Siap Kawal Pemilihan Rektor Unibraw

Dikirim oleh prasetya1 pada 27 November 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1387

Ditabuhnya genderang pilrek (pemilihan rektor) Unibraw periode 2006-2010 yang ditandai dengan penyerahan borang pada 170 profesor dan doktor yang memenuhi syarat Sabtu kemarin, secara tidak langsung juga menandai dimulainya perang antar kandidat calon rektor. Bisa diprediksi, dalam satu minggu ke depan, situasi akan semakin memanas karena para calon akan semakin gencar menyosialisasikan visi dan misinya.
Proses yang akan berlangsung hingga pertengahan Desember tersebut mendapat tempat tersendiri bagi civitas Unibraw. Salah satunya bagi anggota PP Otoda Unibraw Ngesti D. Prasetyo. Bahkan, Ngesti menilai, proses pemilihan rektor ini sangat elitis mengingat akan digelar dalam dua tahap besar. Yakni tahap penjaringan 17 Desember mendatang yang akan melibatkan perwakilan dosen, pegawai administratif, dan mahasiswa, serta tahap pematangan oleh senat Unibraw.
Meski langkah itu sebuah awal pembelajaran demokrasi, namun langkah itu tetap sangat rentan. "Karena itulah, kami sepakat membentuk pilrek watch, sebuah organisasi independen yang akan mengawasi penuh jalannya pilrek ini. Sehingga, pilrek benar-benar berlangsung demokrastis, transparan, akuntabel, dan partisipatif," ucapnya.

Pengendalian Hama Terpadu Koreksi Kebijakan Pengendalian Konvensional

Dikirim oleh prasetya1 pada 26 November 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 4143


Penyakit tumbuhan dapat menyebabkan kerugian besar, baik untuk tanaman pangan, tanaman hortikultura maupun tanaman perkebunan. Sebagai contoh, pada tahun 2004 luas serangan penyakit blast dan tungro pada tanaman padi di Indonesia mencapai 12.370 Ha dengan puso mencapai 322 Ha.
Untuk mengendalikan penyakit pada tumbuhan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu sistem perundang-undangan, fisik, mekanik, kultur teknis, biologi dan kimia. Dari keenam cara itu, pestisida yang paling sering digunakan, bahkan diaplikasikan secara berjadwal tanpa mempertimbangkan tingkat kerusakan pada tanaman.
Demikian, antara lain orasi ilmiah yang dibawakan Prof. Dr. Ir. Abdul Latief Abadi MS dalam upacara pengukuhan sebagai guru besar bidang ilmu penyakit tumbuhan pada Fakultas Pertanian  Unibraw. Orasi berjudul "Permasalahan dalam Penerapan Sistem Pengendalian Hama Terpadu untuk Pengelolaan Penyakit Tumbuhan di Indonesia" itu dibawakan dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Brawijaya yang dipimpin Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno, di gedung Widyaloka, Sabtu 26/11.
Dalam orasi tersebut, Prof. Abdul Latief Abadi menyatakan penggunaan pestisida hampir menjadi satu-satunya cara pengendalian, karena pestisida sangat efektif, praktis serta cepat membunuh patogen. Hal ini dikarenakan pestisida mudah ditemukan di pasaran dengan pilihan yang banyak dan harga yang relatif terjangkau.  Hingga ada anggapan bahwa pestisida adalah dewa penolong untuk meningkatkan produksi tanaman.
Namun, menurut gurubesar keenam dalam bidang ilmu penyakit tumbuhan di Unibraw ini, penggunaan pestisida tanpa didasari oleh kepedulian akan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan, telah membawa bencana di mana-mana. Dampak tersebut antara lain terjadinya resistensi pada patogen, adanya resurjensi hama (hama meningkat setelah aplikasi pestisida), ledakan hama sekunder (hama yang awalnya dianggap tidak penting), resistensi pada hama, dan yang lebih penting lagi adalah dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia dan pelestarian lingkungan.