Prasetya Online

>

Berita UB

Monolog Putu Wijaya 

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2929

Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw
Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw
Pagelaran monolog Putu Wijaya di Sasana Samanta Krida Unibraw, Rabu (5/4) malam, berlangsung sangat meriah. Sebagai rangkaian acara Pekan Budaya III, karya terbaru Putu Wijaya bertajuk “Surat Kepada Setan” ini untuk pertama kalinya digelar di Malang.
Tampil ke atas panggung dengan pakaian serba hitam berpeci, Putu Wijaya memulai pentasnya dengan bercerita seolah dia menjadi seorang guru yang membicarakan mengenai perburuan akademik untuk pencerdasan bangsa.
Pria yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya dalam monolognya mengambil tema besar mengenai pendidikan. Pendidikan di Indonesia selalu dalam situasi berusaha untuk mendidik bangsa yang lebih kompetitif. “Saya kurang setuju dengan konsep seperti itu,” ujarnya. Menurutnya hal itu hanya untuk merespon globalisasi agar lebih beradab, beriman, dan lebih mempunyai kemampuan. Cara pendidikan di Indonesia ini sangat mengagungkan guru.
Pada babak pertama, dia berperan sebagai guru. Dikatakan bahwa semua ini bukan kesalahan dari pemerintah semata. “Sudah saatnya rakyat juga ikut bertanggung jawab,” tambah sastrawan yang biasa dikenali dengan topi pet putihnya.
Budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Multikultur Indonesia, menurut Putu, sebenarnya sangat potensial. “Bhinneka tunggal ika yang kita miliki, membikin iri bangsa lain”, katanya. Jika kondisi seperti ini terjadi, maka menurut seniman yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum UGM ini, maka kembali ke kearifan lokal pun layak dilakukan.
Karya terbaru ini nantinya akan dipentaskan secara lengkap di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 17-18 Juni 2006 mendatang, dengan judul “Setan.” Setan ia pakai sebagai sebuah perumpamaan, karena kondisi masyarakat yang terjadi ialah ketika ada masalah orang selalu mencari kambing hitam. Dalam monolog yang dipentaskan selama 2 jam ini, setan selalu disalahkan dalam setiap kasus yang terjadi. [vty]

Bedah Buku: Matikan TV-Mu! 

Dikirim oleh prasetya1 pada 05 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2880

Sunardian Wirodono
Sunardian Wirodono
Televisi merupakan media yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Fenomena ini dieksplorasi pada acara bedah buku sebagai rangkaian Pekan Budaya III di Sasana Samanta Krida Universitas Brawijaya, Rabu (5/4). Buku yang dibedah berjudul “Matikan TV-Mu”, karya Sunardian Wirodono, yang diterbitkan oleh penerbit Resist Book.
Sebagai media audio visual, demikian ulas Sunardian Wirodono, jenis media ini memang mudah diakses. Dalam perkembangannya, keberadaan televisi jauh melampaui media massa yang lain. Pengarang ini mengibaratkan media televisi Indonesia sebagai masakan yang dipanggang atau dimasak setengah matang. Tidak mentah tapi tidak matang. Media televisi Indonesia menjadi bermasalah ketika masyarakat sebagai obyek hanya dieksplotasi, dibohongi, dikadali oleh berbagai tayangan yang disodorkan. Tayangan tersebut hanya berdasarkan selera pemilik modal. Peranan ideal media sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan agar masyarakat kian memiliki sikap kritis, mandiri, dan kedalaman berpikir tidak sepenuhnya bisa terwakili.
Menurut pembanding, Mochamad Nasrul Chotib, buku ini sangat memunculkan keberpihakan yang cenderung melupakan bahwa semua media sesungguhnya merupakan mesin kapitalis. Buku ini seolah memposisikan TV sebagai satu-satunya media penghasil kapitalis tanpa memberlakukan hal yang sama dengan media lainnya.
Penulis Sunardian yang pernah bekerja di bidang perteleviasian ini (TV Indosiar) ini dalam bukunya menyinggung bahwa media televisi sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat dengan menanamkan kebebasan dan inisiatif. Namun dalam perkembangannya media televisi tumbuh sendiri karena tuntutan syahwat keuntungan yang tidak toleran. Menurut pria kelahiran Yogyakarta ini, ada 4 kemungkinan yang bisa mencegah kerakusan. Yakni, adanya aturan yang adil dari pemerintah, lembaga kontrol media televisi yang proporsional, tumbuhnya kaum profesional televisi yang proporsional dan daya kritis masyarakat sebagai kelompok penekan. Menurut Direktur Operasional Kakipena Communications (Kinacom) Jakarta ini jika salah satu keempat syarat tersebut tidak ada akan menjadi racun. Maka dari itu masyarakat harus mempunyai daya imunitas yang berasal dari agama dan pendidikan. [vty]

Seminar Nasional Pekan DAS Brantas VIII 

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2547

Ir. Siswoko Dipl HE
Ir. Siswoko Dipl HE
Sebagai rangkaian kegiatan ”Pekan DAS Brantas VIII 2006”, Himpunan Mahasiswa Pengairan Universitas Brawijaya menyelenggarakan seminar nasional dengan tema ”Kebijakan dan Program Terpadu Sumber Daya Air dalam Rangka Penanganan Kekeringan dan Banjir Nasional”. Seminar diadakan di Widyaloka Universitas Brawijaya, Selasa 4/4.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Ir. Siswoko Dipl HE hadir mewakili Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Djoko Kirmanto DiplHE. Selain itu hadir pula Dr. Ir. Slamet Gadas MHut (Kepala Puslit Sosek dan Kebijakan Kehutanan), Ir. H. Mustofa Chamal Basya MM (Kepala Dinas Pengairan Propinsi Jawa Timur); Ir. Swasti hendrati MT yang diwakili Dirut Perum Jasa Tirta Ir. Soekistijono DiplHE; Dr. Ir. Robert Kodoatie MEng (pakar konservasi sumber daya air, staf pengajar FT Undip Semarang), Dr. Melati Ferianita MSc (LSM Kemitraan Air Indonesia), dan Dr. Ery Suhartanto ST MT (staf pengajar Jurusan Pengairan FT Unibraw).
Menteri PU Ir. Djoko Kirmanto DiplHE dalam makalah yang disampaikan oleh Dirjen SDA Ir. Siswoko Dipl HE, mengharapkan kegiatan seminar ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Mengapa kita menderita kerugian akibat peristiwa alam seperti masalah kekeringan dan banjir? Kebijakan sumber daya air yang manakah yang dapat mendukung pengendalian resiko kekeringan dan banjir?

Soekartawi, External Assessor Profesor di Universiti Sains Malaysia 

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1747

Prof. Dr. Ir. Soekartawi MS
Prof. Dr. Ir. Soekartawi MS
Satu lagi kepercayaan internasional diberikan kepada Prof. Dr. Ir. Soekartawi MS, guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Tahun ini, Prof. Soekartawi diangkat menjadi ‘External Assessor’ Profesor di Universiti Sains Malaysia (USM), Penang, Malaysia. Tugas sebagai external assessor adalah menilai apakah seorang dosen senior berhak menyandang jabatan Associate Professor, atau seorang Associate Professor berhak menyandang jabatan Professor. Demikian informasi Soekartawi yang disampaikan melalui email.
Dijelaskan pula, jabatan external assessor ini diberikan kepadanya setelah ia berkali-kali diundang sebagai guru besar tamu di USM, dan setelah terbukti mempunyai publikasi yang cukup, baik berupa makalah ilmiah yang diseminarkan dan publikasi ilmiah yang dimuat di jurnal internasional. Sesuai dengan surat  USM No. Ref.: USM (AA) 53763 tertanggal 10 Maret 2006, bidang keilmuan yang dipercayakan kepada Prof. Soekartawi adalah di bidang instructional technology, distance learning dan e-learning.
Selama 9 tahun bertugas sebagai Direktur the Southeast Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Open Learning Center di Jakarta dan Deputy Director SEAMEO-SEARCA di Filipina, Soekartawi memang mendalami masalah-masalah pendidikan khususnya dalam ketiga bidang itu. Bahkan sampai kini, Soekartawi masih dipercaya menjadi editor tiga jurnal internasional dalam bidang itu, yaitu Southeast Asia Journal of Open and Distance Learning, Malaysian Journal of Educational Technology (My.JET), dan Journal of Southeast Asian Education; disamping editor di beberapa jurnal ekonomi pertanian di Indonesia. Sebelum itu, Prof. Soekartawi juga pernah mendapat kepercayaan internasional sebagai affiliate professor di College of Economics and Management, University of the Philippines Los Banos (Filipina) selama 5 tahun (1997-2001). [Skw]

Program Doktor Ilmu Teknik, Perminatan Teknologi Energi 

Dikirim oleh prasetya1 pada 04 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2184

Mulai tahun akademik 2006/2007 Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (PPSUB) membuka Program Doktor Ilmu Teknik dengan Perminatan Teknologi Energi. Hal ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya ketersediaan sumber-sumber energi sebagai penggerak implementasi teknologi. Sementara ekses pemakaian energi konvensional telah mengakibatkan polusi dalam tingkat yang membahayakan kelestarian alam dan kehidupan. Di samping itu tuntutan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dengan pasokan energi semakin besar akibat dari pembangunan yang harus dilakukan.
Tantangan pengembangan teknologi energi, seperti pencarian sumber energi baru, efisiensi konversi, perlindungan dan lain-lain sudah sangat mendesak untuk dilakukan penelitian dan riset. Untuk menjawab tantangan itu, sebagian besar kegiatan akademik program doktor ini akan dilaksanakan dalam bentuk riset sebagai bahan penyusunan disertasi, dan memberikan sumbangan dalam bentuk inovasi keilmuan atau aplikasinya.