Prasetya Online

>

Berita UB

Unibraw Mewisuda 1.101 orang Wisudawan

Dikirim oleh prasetya1 pada 08 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 6528

Di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Sabtu 8/1, dilaksanakan acara ritual wisuda periode II tahun akademik 2004/2005. Pada periode ini jumlah wisudawan/wati mencapai 1.101 orang dengan rincian Program Pascasarjana sebanyak 126 orang yang terdiri dari Program Doktor 13 orang, Program Magister 109 orang dan Program Dokter Spesialis-1 sebanyak 4 orang. Sementara untuk Program Sarjana sebanyak 804 wisudawan dan Program Diploma 3 sebanyak 171 orang, meliputi Fakultas Hukum (38 orang), Fakultas Ekonomi (90 orang), Fakultas Ilmu Administrasi (181 orang), Fakultas Pertanian (213 orang), Fakultas Peternakan (59 orang), Fakultas Teknik (211 orang), Fakultas Perikanan (56 orang), Fakultas MIPA (67 orang), dan Fakultas Teknologi Pertanian (60 orang).

Wisudawan Terbaik
Pada kesempatan ini juga diberikan penghargaan kepada 17 orang wisudawan yang meraih predikat terbaik untuk setiap program dan fakultas. Kriteria terbaik diberikan kepada mereka yang memperoleh IPK tertinggi dan lama studi tercepat. Ketujuhbelas orang tersebut adalah Annang Cahyadi SH (PS Ilmu Hukum FH, IPK: 3,45); Ahmad Habibi SE (PS Manajemen FE, IPK: 3,59); Mufida Setiyaningsih AMd (PS Manajemen Koperasi dan Kewirausahaan FE, IPK: 3,35); Intan Kusuma Dewi SAB (PS Ilmu Administrasi Bisnis FIA; IPK: 3,71); Childa Maulina AMd (PS Kesekretariatan FE, IPK: 3,49); Ivone Tiara Kusuma SP (PS Agrobisnis FP, IPK:3,54); Yeni Martasari AMd (PS Arsitektur Pertamanan FP, IPK: 3,60); Sovia Henny Laili SPt (PS Teknologi Hasil Ternak Fapet, IPK: 3,45); Achmad Syaifuddin Zuhri ST (PS Teknik Elektro FT, IPK: 3,67); Abram Barata SPi (PS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Faperik; IPK: 3,61); Rendy Maretnoadi AMd (PS Agribisnis Perikanan Faperik, IPK: 3,65); Tika Andriya SSi (PS Biologi FMIPA, IPK: 3,59); Fitri Nelly Agustiningrum AMd (PS Manajemen Informatika FMIPA, IPK: 3,50); Rizka Alifia STP (PS Teknologi Industri Pertanian FTP, IPK: 3,47); Dr. Suko Wiyono SH MHum (Doktor PS Ilmu Hukum, IPK: 3,94); dan Drs. Akhmad Riduwan Ak MSA (Master PS Sain Akuntansi, IPK: 3,97). Perlu diketahui, lulusan terbaik program doktor periode ini, Dr. Suko Wiyono SH MHum, saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Winuswardhana, Malang. [li]

Prof. Ir Soemarjo Berpulang, Unibraw Kehilangan Guru Besar Pemuliaan Tanaman

Dikirim oleh prasetya1 pada 07 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 4939

Civitas akademika Universitas Brawijaya berduka. Satu-satunya guru besar pemuliaan tanaman yang dimiliki, Prof. Ir Soemarjo Poepodarsono, M.Agr.SC, Rabu sore lalu berpulang ke pangkuan-Nya di kediamannya Jl Watu Gong 36. Profesor yang akrab dengan para mahasiswanya tersebut meninggalkan Unibraw untuk selamanya karena komplikasi penyakit yang dideritanya selama ini. Mantan Dekan Pertanian periode 1982-1985, sebelum dimakamkan di tempat pemakaman umum Kasin kemarin, terlebih dahulu disemayamkan di gedung rektorat. Ia mendapatkan penghormatan khusus dari para civitas akademika Unibraw.
Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir Bambang Guritno mengatakan, Soemarjo merupakan sosok pengajar dan pendidik yang mempunyai jiwa pengabdian. "Walaupun beliau sudah dalam keadaan sakit parah, beliau tetap mengajar para mahasiswanya," kata Bambang. Menurutnya, tekad besar yang dimilik Soemarjo untuk membuat para mahasiswanya menjadi pintar dan mempunyai budi pekerti patut diacungi jempol. "Bayangkan, beliau setiap minggunya harus cuci darah sebanyak dua kali Namun, beliau tetap menunaikan kewajibannya," kenang dia. Karena itu, jelas Bambang, Unibraw sangat kehilangan sosok pengajar yang mempunyai jiwa pengabdian. Apalagi Soemarjo merupakan satu-satunya guru besar bidang pemuliaan tanaman yang dimiliki Unibraw. "Kami sangat kehilangan," jelasnya.
Soemarjo meninggalkan seorang istri Sri Pratiwi dan tiga orang putra. Yakni Arundi Kriptanto, Boni Jianto, dan Christian Sanarto. Pria kelahiran jember, 10 Mei 1938 ini, merupakan produk asli Unibraw. Soemarjo menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Pertanian Unibraw pada 1968. Setelah itu ia meneruskan S2 di Adelaide University. Dan pada 1998 lalu, Soemarjo meraih gelar guru besar pemuliaan tanaman. (fir) http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=77706&c=88

Wafat: Prof. Soemarjo Poespodarsono

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 5253

Prof Ir. Soemarjo Poespodarsono MAgrSc
Prof Ir. Soemarjo Poespodarsono MAgrSc
Prof Ir. Soemarjo Poespodarsono MAgrSc (lahir di Tanggul, Jember, 10 Mei 1938), gurubesar emeritus Pemuliaan Tanaman pada Jurusan Budidaya Pertanian, Rabu 5/1, sore, meninggal dunia pada usia hampir 67 tahun. Almarhum sebelum ini telah dirawat karena mengalami gagal ginjal sehingga memerlukan cuci darah (hemodialisis) dua kali seminggu. Kamis 6/1, jenazah almarhum diberangkatkan dari rumah duka Jalan Watugong 36, disemayamkan sejenak di lobi gedung Rektorat untuk memberi kesempatan sivitas akademika menyampaikan penghormatan terakhir dan dilepas oleh Rektor Unibraw Prof. Bambang Guritno beserta seluruh jajarannya, dan kemudian dibawa dalam iring-iringan kendaraan untuk dimakamkan di pemakaman umum Kasin, Malang.
Prof Soemarjo adalah sarjana pertanian alumnus pertama Fakultas Pertanian Unibraw (1968), dengan gelar master dalam bidang plant breeding yang diperoleh dari Universitas Adelaide (1980), dikukuhkan sebagai gurubesar dalam bidang pemuliaan tanaman pada 11/07/98 dengan orasi ilmiah berjudul "Peranan Pemuliaan Tanaman dalam Menunjang Globalisasi pada Bidang Pertanian di Indonesia". Sebelumnya, almarhum pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan I, dan kemudian Dekan Fakultas Pertanian Unibraw (1982-1985). Prof. Soemarjo meninggalkan seorang istri Sri Pratiwi dan tiga orang putra, Arundi Kriptanto, Boni Jianto, dan Christian Sanarto. [Far]

Sumpah Dokter Periode Januari

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 5248

Sebanyak sepuluh orang dokter baru lulusan yudisium 9 Desember 2004, Kamis (6/1) diambil sumpahnya di gedung Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Upacara wajib bagi para dokter baru ini dihadiri oleh para pimpinan fakultas, pimpinan RSUD Dr. Saiful Anwar, dan keluarga para dokter yang disumpah. Hingga saat ini jumlah dokter yang diluluskan sebanyak 2807 orang dan tersebar di seluruh wilayah tanah air.
Dalam sambutannya, Dekan dr. Harijanto MSPH menyatakan bahwa pendidikan dokter di Indonesia saat ini sedang dalam proses transisi dari sistem pendidikan lama ke sistem baru yang harus terwujud pada 2007. Perombakan ini menurut Harijanto sangat mendesak, terutama setelah pertemuan Federasi Institusi Pendidikan Dokter seluruh dunia di Kopenhagen 2003, yang mengkaji tantangan profesi dokter abad ke-21. Ditambah lagi dengan perdagangan bebas yang semakin tak terbendung. Bilamana para dokter tidak dibekali dengan keterampilan mengakses informasi iptek kedokteran serta menguasai bahasa internasional, bisa jadi tidak akan mampu bersaing dengan dokter-dokter dari negara lain. Dampak negatif yang terbesar akan dirasakan oleh para dokter di negara miskin baik di Afrika maupun Asia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2004-2007 telah memberikan bantuan dana kepada Ditjen Dikti untuk meng-upgrade sistem pendidikan dokter di Indonesia. Setelah tahun 2007, WHO akan melakukan akreditasi pada semua profesi di dunia, dan Indonesia sebagai bagian dari dunia, tidak terlepas dari hal ini.

Balon Berhadiah Dies Natalis Ditemukan

Dikirim oleh prasetya1 pada 06 Januari 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 5374

Mat Sukri penemu balon berhadiah
Mat Sukri penemu balon berhadiah
Balon berhadiah yang diterbangkan pada Rabu (5/1) dalam rangka peringatan Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-42, akhirnya ditemukan. Penemunya adalah Mat Sukri (39 tahun) warga Gedangan Kulon, Desa Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Ayah dua orang putri yang sehari-hari bertani dengan kerja sambilan sebagai penarik ojek ini menemukan balon tersebut di areal persawahan pada hari balon diterbangkan. Disaksikan oleh Seksi Upacara Panitia Dies Drs. Umar Usman,.Mat Sukri mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 1 juta yang diberikan langsung oleh Bendahara Panitia Dies Natalis/Kabag Keuangan Imam Syafi'e SE MM. Suami seorang mantan TKW Hongkong ini mengatakan uang itu akan dimanfaatkan untuk biaya sekolah anaknya yang saat ini masih duduk di kelas II SDN Gedangan. [li]