Prasetya Online

>

Berita UB

Deplu Setujui Survei LP3UB di Aceh

Dikirim oleh prasetya1 pada 01 Juni 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1654

Pihak Departemen Luar Negeri (Deplu) telah memberikan persetujuan tentang survei pendidikan di Aceh pasca gempa bumi dan tsunami yang diusulkan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Brawijaya (LP3UB). Demikian penjelasan Ketua LP3UB Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto MRurSc, Rabu (1/6).
Seperti diberitakan beberapa waktu yang lalu, LP3UB mengajukan usulan survei tersebut dengan mitra kerja Leeds University, Inggris. Terlibat dalam kegiatan ini Balitbang Depdiknas, Deplu dan KBRI di London selaku steering committtee.

Simposium Ketahanan Nasional

Dikirim oleh prasetya1 pada 01 Juni 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1823

Universitas Brawijaya, Rabu 1/6, menyelenggarakan Simposium Regional Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional. Simposium dilaksanakan di Balai Senat, lantai II Gedung PPI Unibraw.
Direncanakan, simposium ini dihadiri oleh Gubernur Lemhannas Ermaya Suradinata. Menyampaikan makalah dalam simposium itu Prof. M. Nursyam (UM), Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto MRurSc (LP3-UB), Drs. Muhadjir Effendy MAP, dan Prof. Dr. Ir. Syamsulbahri MS (LPM/Lemlit-UB).

Sumpah Dokter Periode Juni 2005

Dikirim oleh prasetya1 pada 01 Juni 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1758

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dr. Harijanto MSPH, Rabu 1/6 mengambil sumpah dokter baru. Kegiatan yang diselenggarakan di gedung Graha Medika ini dihadiri oleh Direktur RSSA Dr. Pawik Supriadi SpJP(K) dan para pejabat di lingkungan FK Unibraw.
Dalam sambutannya Dekan menyatakan bahwa tuntutan pelayan medik dan kesadaran hukum dari masyarakat menuntut seorang dokter untuk lebih profesional dan selalu meningkatkan pengetahuan di bidang kedokteran.
Lebih lanjut diungkapkan mengenai Undang-undang (UU) Praktek Kedokteran yang telah disahkan pemerintah pada 6 Oktober 2004. Pemerintah kemudian membentuk Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada 29 April 2005. KKI akan memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat yang menerima jasa pelayanan kesehatan sekaligus untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Sosialisasi Beasiswa L'Oreal Unesco

Dikirim oleh prasetya1 pada 01 Juni 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2150

Sosialisasi Beasiswa L'Oreal-Unesco
Sosialisasi Beasiswa L'Oreal-Unesco
Indonesia adalah mega biodiversity atau negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi sedunia.Tujuh belas persen sumber daya alam yang ada di dunia dapat ditemui di Indonesia.Namun hal ironis yang terjadi adalah dari semula 121 juta hektar hutan yang ada, kini tinggal 19 juta hektar saja yang dimiliki.
Demikian ungkap Dr. Endang Sukara APU, Deputi Bidang Ilmu Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada acara Sosialisasi Beasiswa L'Oreal-Unesco, Rabu (1/5) di lantai 8 gedung Rektorat Universitas Brawijaya.
Menurut Dr. Endang Sukara, rendahnya pengungkapan potensi tanaman asli dan kurangnya pemahaman sebagian besar masya-rakat tentang pentingnya hutan sebagai sumber hayati alami, mendukung terjadinya penebangan liar itu.
Lebih lanjut, Dr. Endang Sukara yang juga Ketua Tim Juri Program L'Oreal Indonesia Fellowship for Woman in Science 2004 ini mengemukakan bahwa penelitian di bidang life science menjadi semakin penting, tidak hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga kemanusiaan.
Sementara itu, dalam sambutan pembukaan, Rektor Unibraw Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno menyatakan bahwa potensi para peneliti perempuan sesungguhnya sangat besar. Ini terlihat dari banyaknya perempuan peserta wisuda (khususnya di Unibraw) yang meraih predikat cum laude. Disinggung pula bahwa seorang staf Fakultas Kedokteran, Dr. Diana Lyrawati MKes, tahun 2004 lalu mengikuti program ini, dan mendapatkan beasiswa L'Oreal tingkat nasional.
Corporate Communications and Public Relations PT L'Oreal Indonesia, Richele Maramis, menjelaskan bahwa sasaran program internasional L'Oreal-Unesco for Women in Science adalah mengidentifikasi ilmuwan wanita yang unggul, membantu para ilmuan wanita muda berbakat untuk maju dalam karir serta mendorong lebih banyak wanita untuk memilih sains sebagai karir. Bekerjasama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, L'Oreal Indonesia memberikan beasiswa nasional senilai masing-masing Rp 40 juta untuk dua pemenang.

Rektor: Ada Tanda-tanda Cendekiawan Kehilangan Jatidiri

Dikirim oleh prasetya1 pada 01 Juni 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1759

sambutan pembukaan Pemasyarakatan Pentingnya Wawasan Kebangsaan
sambutan pembukaan Pemasyarakatan Pentingnya Wawasan Kebangsaan
Memasuki era global, bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh negara-negara maju terhadap tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, walaupun disadari betul bahwa bangsa kita belum siap menghadapi pengaruh global, baik politik, ekonomi, maupun hukum.Akibatnya, egoisme dan sentimen kedaerahan menjadi lebih mengemuka dibandingkan dengan semangat untuk bersatu.Kebersamaan sosial warisan budaya bangsa sudah luntur, dan rasa kebangsaan juga menurun.
Demikian Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno dalam sambutan pembukaan Pemasyarakatan Pentingnya Wawasan Kebangsaan dalam Memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Simposium Regional Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional, di Balai Senat, lantai II Gedung PPI Unibraw, Rabu (1/6).
Menurut Rektor, hal tersebut bisa dipahami karena rasa kebangsaan akan tumbuh dan berkembang apabila suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional, atau memiliki wawasan kebangsaan.
Sejumlah pengamat menunjukkan bahwa rakyat bertambah cerdas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. "Namun anehnya", demikian Rektor, "justru ada tanda-tanda bahwa para pemimpin/cendekiawan malah kebingungan dan kehilangan jati diri".
Mengutip pendapat Prof. Mubyarto (alm), Rektor menyebutkan ada 2 alasan penyebabnya. Pertama, para cendekiawan telah "tercuci otaknya" oleh iptek sangat modern dan spesialistis dari Barat yang sangat menyilaukan.Dan kedua, kebanyakan mereka dengan sadar meremehkan sejarah bangsa sendiri yang dianggapnya kuno, dan sebaiknya dilupakan saja.