Prasetya Online

>

Berita UB

Workshop Guru Fisika 

Dikirim oleh prasetya1 pada 21 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1939

Workshop Guru Fisika
Workshop Guru Fisika
"Belajar sains adalah sesuatu yang dikerjakan oleh murid bukan sesuatu yang dikerjakan untuk murid", demikian ungkap DJ Djoko H. Santjojo dosen Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, dalam  Workshop Guru Fisika pada Selasa 21 Februari 2006. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Fisika ini diikuti oleh puluhan guru fisika di wilayah Jawa Timur ini mengusung tema "Optimalisasi Penerapan Sistem KBK pada Pembelajaran Fisika".
Lebih lanjut diungkapkan Djoko bahwa tujuan pendidikan sains adalah agar murid dapat mengalami 'greget' dan kekayaan akan pengetahuan serta pengertian tentang dunia alamiah. Selain itu juga agar murid dapat menggunakan prinsip dan proses sains untuk membuat keputusan secara pribadi, turut serta secara cerdas dalam menanggapi masalah sains dan teknologi di masyarakat, dan bertujuan agar siswa dapat meningkatkan produktivitas ekonomi dengan penggunaan pengetahuan, pengertian dan keahlian sains dalam karir.
Selain Djoko, pemateri workshop lainnya adalah Arif Hidayat dari jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Arif menyampaikan materi Pengembangan Pembelajaran dan Evaluasi dalam Pembelajaran Fisika. Menurut Arif, yang harus dilakukan seorang pengajar di era globalisasi dan otonomi bidang pendidikan adalah mutlak memahami makna sebuah kurikulum. Hal ini disebabkan karena terjadinya banyak perubahan besar di dunia, termasuk perkembangan ilmu yang begitu cepat dan membawa implikasi yang sangat besar di bidang pendidikan. Pengetahuan yang dimiliki seseorang menurut Arif, akan cepat menjadi usng dan kurang relevan. Untuk itu perlu dituntut adanya perubahan-perubahan pada materi kurikulum dengan cara/metode pembelajaran yang baru.
Ditemui disela-sela workshop, ketua panitia pelaksana Sandhi Setya Pratama menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penyelenggaraan Brawijaya Physic (BRAPHY). Selain workshop dengan peserta diantaranya dari SMAK Diponegoro Blitar, SMAK Santo Surabaya, MAN Tambakbareng Jombang, MAN 3 Malang, SMAN 1 Gondang Wetan Pasuruan, MAN 2 Ponorogo dan SMAN 4 Malang ini, juga diselenggarakan olimpiade yang diikuti oleh puluhan siswa sekolahmenengah atas yang berakhir pada 22 Februari 2006. [nik]

Timor Leste Menjajaki Kerjasama dengan Unibraw 

Dikirim oleh prasetya1 pada 21 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 1574

Kerjasama Unibraw dan Timor Leste
Kerjasama Unibraw dan Timor Leste
Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Republica Democratica de Timor Leste, menjajaki kerjasama dengan Universitas Brawijaya khususnya Fakultas Peternakan. Selasa 21 Februari 2006, sebuah tim dari Timor Leste menemui Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno yang didampingi oleh Pembantu Rektor IV Prof. Umar Nimran MA PhD. Rombongan terdiri dari Kepala Seksi Perijinan Rumah Potong Hewan dan Agroindustri Ir. Carlos A. Amaral, kepala seksi produksi peternakan Ir. Callisto Dacosta Valera, serta staf teknis dan konsultan Divisi Peternakan Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Timor Leste Drh. Juanita B. Dacosta.
Kerjasama dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam upaya pengembangan sumberdaya manusia serta pengelolaan sumberdaya alam secara optimal dan lestari, guna menunjang proses pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta bermanfaat bagi kepentingan umat manusia.
Pembantu Dekan I Fakultas Peternakan Dr. Ir. Kusmartono menjelaskan kepada Prasetya, ruang lingkup kerjasama meliputi kegiatan penelitian, pendidikan, pelatihan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh kedua belah pihak, di Timor Leste. Rencananya kerjasama akan berlangsung selama tiga tahun semenjak ditandatanganinya kesepakatan. [nik]

Sosialisasi Bahaya Formalin 

Dikirim oleh prasetya1 pada 21 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2483

Flu Burung, Formalin dan Kesehatan Kita
Flu Burung, Formalin dan Kesehatan Kita
Unit Korpri Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Unit Dharma Wanita Unibraw, Selasa 21/2,  di gedung Widyaloka, menyelenggarakan sosialisasi tentang bahaya formalin dan uji kandungan formalin pada makanan secara tepat. Acara ini ditujukan bagi para dosen dan karyawan serta anggota Dharma Wanita di lingkungan Unbraw. Narasumber Dr. dr. Achdiat Agoes SpS dari Fakultas Kedokteran memberikan pemaparan tentang bahaya formalin untuk kesehatan, sedangkan Ir. Chanif Mahdi MS dari Fakultas MIPA memaparkan dan mendemonstrasikan penggunaan alat uji kandungan formalin pada makanan. Selain itu, mengawali acara juga diadakan pemeriksaan lemak secara gratis.
Flu Burung
Dalam makalah berjudul "Flu Burung, Formalin dan Kesehatan Kita" Dr. dr. Achdiat Agoes SpS menjelaskan flu burung adalah sejenis influenza yang sebenarnya hanya berlaku untuk burung. Tapi ternyata pada manusia dapat mematikan. Penyebabnya virus. Salah satu tipe virus tersebut adalah H5N1 yang dapat menular ke manusia. Penyebarannya, menurut Achdiat Agoes, adalah melalui udara. "Jadi tepat sekali kalau kandang burung dibuat cukup jauh dari rumah", ujarnya. Menurut para ahli, demikian Achdiat Agoes, merebaknya virus ini juga berkaitan dengan buruknya sanitasi. Karena itu kandang burung atau ayam perlu pembersihan yang seksama. Selain itu, untuk pencegahan perlu pula meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan yang tepat gizi serta vitamin C. "Olahraga juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh", tambahnya. Dijelaskan pula hingga saat ini belum ada obat yang ampuh untuk flu burung. "Oleh karena itu yang paling tepat adalah pencegahan", tukasnya.
Berkaitan dengan formalin sebagai pengawet makanan, Achdiat Agoes menuturkan, formalin dapat menurunkan kekebalan tubuh. Selain itu juga dapat menimbulkan kanker, terutama pada lambung dan menimbulkan karsinoma lambung. Sebagaimana flu burung, dalam hal formalin Achdiat Agoes pun menganjurkan "mencegah lebih baik daripada mengobati", dengan menghindari penggunaan formalin untuk pengawetan makanan.
Kit Tester
Chanif Mahdi dalam paparannya mengatakan formalin merupakan senyawa atau bahan kimia karsinogenik yang merangsang tumbuhnya sel kanker. Di lain pihak, formalin juga merupakan bahan pengawet yang paling murah dan efektif. Untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan misalnya, biayanya sangat murah. Hanya Rp 7 ribu per liter untuk 10 ton ikan laut. Dengan bahan lain, untuk mengawetkan 10 ton ikan dibutuhkan 350 balok es seharga 2,63 juta rupiah.
Namun apabila dikonsumsi secara terus-menerus, "maka secara perlahan-lahan formalin juga akan mengawetkan jaringan dan organ tubuh kita yang masih hidup ini. Secara perlahan-lahan pula alat pencernaan, paru-paru, jantung, dan ginjal kita menjadi awet. Sehingga tidak berfungsi secara normal", tandasnya.
Sembari memperkenalkan kit tester formalin yang diberi nama formalin main reagent (FMR), Chanif  menyatakan temuannya itu mampu mendeteksi  kandungan formalin sampai 0.01 persen ke bawah. "Alat ini benar-benar bisa membedakan bahan yang postif mengandung formalin (hasil uji FMR berwarna ungu kebiruan) dan yang negatif (hasil uji menunjukkan warna kuning)" tuturnya. [Far]

Mahasiswa Unibraw Ciptakan Sosis Tempe 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2833

Zope (Zosis Tempe)
Zope (Zosis Tempe)
Jiwa wirausaha dua mahasiswi D-III Agribisnis Universitas Brawijaya ini, Dana Novitasari dan Lantika Fauzah patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, mereka sudah menciptakan ide untuk memasarkan sosis tempe buatan mereka sendiri. Zope (Zosis Tempe) adalah merek sosis yang mereka pasarkan. Sosis tempe yang dibuat Dana dan Tika, terbuat dari tempe kedelai terbaik, tapioka dan bumbu-bumbu rahasia. Daya tahan sosis tempe mereka mencapai dua minggu bila disimpan di lemari es, atau dua hingga tiga hari bila tidak disimpan di lemari es. Menurut penuturan Dana dan Tika, sosis yang mereka ciptakan merupakan hasil penelitian tugas akhir. Setiap satu kali proses produksi, biaya yang dikeluarkan sebesar tujuh ribu lima ratus rupiah dan menghasilkan 25 buah sosis tempe. Hingga saat ini keduanya baru memasarkan produk baru tersebut di wilayah tempat tinggal mereka dan kampus Universitas Brawijaya. [nik]

Rektor: Menurun, Minat Memilih Jurusan Perikanan 

Dikirim oleh prasetya1 pada 20 Februari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 4249

Indonesia adalah negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan. Namun, tidak banyak masyarakat kita yang bekerja di sektor perikanan dan kelautan. Hal ini juga dapat dilihat dari menurunnya jumlah siswa yang memilih jurusan perikanan dari tahun ke tahun. Demikian diungkapkan Rektor Prof. Dr. Bambang Guritno dalam sambutan ketika membuka Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian di Bidang Perikanan dan Kelautan, Senin 20/2, di gedung PPI Universitas Brawijaya.
Keprihatinan Rektor ini dilandasi kenyataan, banyak faktor yang menyebabkan kurangnya minat seseorang untuk menekuni bidang perikanan, di antaranya adalah kurangnya pemahaman baik dari orang tua, guru, dan siswa. Selain itu, bidang perikanan masih dianggap sebagai bidang yang tidak menghasilkan banyak uang, sehingga dalam hal ini peran pengusaha perikanan dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, serta perguruan tinggi sebagai penyedia pendidikan sangat diperlukan. Untuk itu rektor mengharapkan agar pertemuan yang melibatkan banyak pelaku di bidang perikanan ini juga membicarakan tentang bagaimana solusi terbaik dalam meningkatkan jumlah mahasiswa bidang perikanan dan kelautan. Rektor sempat mencetuskan pendapat mengenai kemungkinan mengganti nama Fakultas Perikanan dengan nama lain yang lebih memiliki nilai jual.
Seminar nasional ini dilatarbelakangi bahwa penelitian yang bermutu dan relevan terhadap pengembangan keilmuan dan kebutuhan pembangunan, perlu disebarluaskan kepada para peneliti lain maupun masyarakat yang dapat langsung memanfaatkannya. Demikian pula halnya dengan perkembangan ilmu/teknologi perikanan dan kelautan yang pesat. Dalam rangka menginventarisasi hasil penelitian perikanan dan kelautan, serta untuk mengetahui status perkembangan hasil penelitian perikanan dan kelautan.