Prasetya Online

>

Berita UB

Menpora RI Ajak Mahasiswa UB Pahami Arti Penting Sumpah Pemuda

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 05 November 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 389

Menpora RI Imam Nahrawi Menyerahkan Bola Voli, Bola Basket, Bola Sepak untuk UB
Menpora RI Imam Nahrawi Menyerahkan Bola Voli, Bola Basket, Bola Sepak untuk UB
Memperingati hari Sumpah Pemuda, Universitas Brawijaya mengadakan Dialog Kebangsaan bertema "Sinergi Semangat Sumpah Pemuda: Resolusi Jihad dan Kebudayaan" di gedung widyaloka, Senin (5/11/2018).

Kegiatan yang menghadirkan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Dr. (HC) H. Imam Nahrawi, S.Ag., M.KP dan Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah tersebut juga dihadiri oleh guru guru Pendidikan Kewarganegaraan di Malang Raya.

Dalam sambutannya Menpora mengatakan bahwa apa yang diperjuangkan oleh pemuda hari ini akan melahirkan sejarah besar bangsa Indonesia.

"90 tahun lalu para pemuda bersatu berikrar dalam sumpah pemuda untuk mewujudkan persatuan bangsa Indonesia. Maka dari itu kita juga harus memikirkan apa yang kita lakukan untuk masa depan," katanya.

Imam Nahrawi mencontohkan bahwa keberhasilan Indonesia pada Asian Games beberapa waktu lalu menjadi tonggak sejarah bangsa dalam pembuktian prestasi di bidang olahraga.

"Tenis lapangan kita selama 16 tahun tidak pernah mendapat medali. Namun pada waktu Asian Games beberapa waktu lalu, Indonesia meraih medali emas  untuk cabang olahraga tenis pada Ganda Campuran. Olahraga menjadi jalan mudah Indonesia menuju Olimpiade 2020 dan jalan mudah Indonesia jadi tuan rumah. Hal ini tentunya karena Indonesia sudah teruji dengan baik dalam Asian Games beberapa waktu lalu. Peserta Asian Games dari berbagai negara tidak hanya merasa aman tapi juga nyaman dan disambut oleh volunteer yang hebat dan ramah senyum. Saya juga berharap pencak silat masuk ke Olimpiade 2020 nanti," kata Imam Nahrawi.

Senada dengan Imam Nahrawi, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengatakan generasi muda seharusnya tidak hanya memperingati hari Sumpah Pemuda, namun juga memaknai arti penting dari Sumpah Pemuda. Menurutnya, saat ini sudah banyak generasi muda yang mengingkari komitmen Sumpah Pemuda, contohnya yang seharusnya menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia tergeser dengan adanya bahasa gaul, bahasa prokem, dan bahasa slang.

Ahmad Basarah juga menghimbau jika pada jaman kolonial bentuk musuh bangsa mudah dilihat. Saat ini bentuk penjajahan yang terjadi sulit terdeteksi karena bentuknya lebih pada isu atau pemberitaan yang mengadu domba bangsa sendiri.

"Indonesia ditakdirkan menjadi negeri kaya raya sehingga membuat bangsa lain melakukan ekspansi, imperialisme dan kolonialisme. Salah satu cara yang dilakukannya adalah politik pecah belah. Dari situ lalu muncul kesadaran yang dilakukan persatuan-persatuaan pemuda yang akhirnya mewujudkan Sumpah Pemuda. Hari ini penjajahan tidak berhenti. Bung Karno pernah berkata bahwa di masa depan perjuangan akan lebih sulit karena menghadapi bangsa sendiri. Bentuk penjajahan saat ini adalah Neo Imperialisme politik Devide Et Impera jilid tiga," katanya.

Salah satu media yang digunakan oleh penjajah untuk memecah belah saat ini adalah pesawat gawai atau handphone.

"Hanya dengan dua jari bisa merajalela kemana mana dua ideologi liberalisme dan kapitalisme yang membawa kebebasan sebebas bebasnya sehingga tidak ada aturan di muka bumi ini untuk melarang termasuk melakukan LGBT," kata Basarah.

Oleh karena itu, menurutnya, untuk menjadi bangsa besar harus berpegang teguh pada falsafah pancasila agar tidak terombang-ambing. Sementara itu, Dosen FH UB Dr. M Ali Sa'faat, S.H., M.H. menjelaskan beberapa syarat dasar persatuan, antara lain mencari sumber informasi yang benar, sejarah yang merupakan bagian dari identitas bangsa, bahasa sebagai pemersatu, hukum adat yang menjadi tempat identitas nasional bangsa Indonesia, serta perguruan tinggi menjadi institusi kepanduan yang bersifat otonom dan tempat ilmu dikembangkan. [Oky Dian/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID