Prasetya Online

>

Berita UB

Penutupan Darmasiswa RI di Universitas Brawijaya

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 12 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 455

Penutupan Darmasiswa di FIB
Penutupan Darmasiswa di FIB
11 mahasiswa asing di wisuda dari program Darmasiswa Republik Indonesia (RI) 2017/2018. Wisuda mereka adalah bagian dari rangkaian acara penutupan program Darmasiswa RI yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (9/Jul/2018). Program itu sendiri diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Setahun yang lalu para mahasiswa ini datang ke Indonesia dan bergabung dalam program tersebut untuk belajar tentang bahasa dan budaya Indonesia. Mereka merupakan generasi pertama yang lulus dari program Darmasiswa di UB, karena ini merupakan pertama kalinya bagi UB dalam mengimplementasikan program Darmasiswa RI.

Hadir dalam acara tersebut, Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Prof. Agus Suman, SE., DEA, Ketua pelaksana Program Darmasiswa Rizky Nufiarni, M.A, Perwakilan dari UB International Office, beberapa staff Laboratorium Humaniora, Mahasiswa Darmasiswa dan orang tua asuh mereka dari desa Poncokusumo.

Dalam sambutannya, penanggung jawab program ini, Rizky Nufiarni, M.A, menyatakan bahwa sebenarnya ada 14 Mahasiswa yang mengikuti program ini. Tetapi karena terkendala beberapa masalah teknis, hanya 11 orang yang bisa berpartisipasi dalam program ini.

Dekan fakultas ilmu budaya, Prof. Dr. Agus Suman, SE., DEA dalam sambutannya menyampaikan program ini merupakan kerjasama FIB dengan Kemdikbud yang dimaksudkan untuk mahasiswa asing yang ingin belajar bahasa dan budaya Indonesia. "Tidak hanya belajar bahasa, mahasiswa ini juga diajari tentang budaya Indonesia," katanya. Prof Agus juga bangga dengan pencapaian program itu dan berharap untuk melanjutkan dan membuat program Darmasiswa lebih baik kedepannya dengan persiapan yang lebih matang.

Lebih lanjut, Rektor UB Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS., dalam pidatonya berharap Mahasiswa Darmasiswa tidak hanya akan mempromosikan budaya Indonesia tetapi juga Universitas Brawijaya setelah mereka lulus dari program Darmasiswa. Selain itu, ia juga berharap program ini menjadi lebih baik kedepannya.

Permainan gamelan oleh peserta Darmasiswa
Permainan gamelan oleh peserta Darmasiswa
Acara ini diisi dengan serangkaian kesenian dan budaya Indonesia seperti tari tradisional Reog dan Maumere serta penampilan Gamelan yang ditampilkan oleh Mahasiswa Darmasiswa. Ada pula apresiasi pencapaian Mahasiswa Darmasiswa, yang kemudian diakhiri dengan jamuan makan dan sesi foto.

Peserta Darmasiswa RI 2017/2018 adalah Roman Pavliuk (Ukraina), Kyungin Kim (Korea Selatan), Randrianarimalala Haingo julianah (Madagaskar), Izatullo Kurbonov (Tajikistan), Gidiao Silva (Timor Timur), Afsana Ali dan Tanya Patel (India), Mohammeda-Hadi Ibrahim Bosha Ahmed (Sudan), Nurma Tayoh, Husnee A-Buwahdan Habibuddeen Lubaeteh (Thailand).

Beberapa dari mereka telah memenangkan kompetisi untuk siswa asing, diantaranya; Habibuddeen Luebaeteh (Thailand) memenangkan juara satu kompetisi pidato Bahasa Indonesia untuk siswa asing dengan pidatonya yang berjudul 'Saya Cinta Indonesia', Roman Pavliuk (Ukraina) menjuarai kompetisi SLICE (Semarang LIA International Competition & Exhibition) dengan videonya yang menampilkan pantai TIga Warna di Malang.

Peserta Darmasiswa yang berprestasi
Peserta Darmasiswa yang berprestasi
Kepada PRASETYA Online mereka membagi wawasan dan pengalamannya selama tinggal di Indonesia dalam satu tahun. Beberapa dari para murid berdedikasi ini adalah Roman Pavliuk dari Ukraina. Motivasinya untuk belajar di Indonesia dan jauh dari keluarga adalah untuk mendapatkan pengalaman baru, hidup mandiri dan bertemu orang-orang baru seiring perjalanannya. Ia juga suka belajar Bahasa baru selain Bahasa aslinya, Ukrainian. Saat ini ia telah menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Roman menyampaikan bahwa pengalamannya di Indonesia sangatlah bermakna. Belajar hal baru, meneliti dan belajar budaya baru, merasakan gaya hidup baru. Roman mengaku menikmati waktunya belajar di Indonesia. Menurutnya kelas program Darmasiswa mengajarkan karawitan, membuat batik Malang, menari Reog Ponorogo serta berasimilasi dan berkomunikasi dengan masyarakat desa. Aktivitas tersebut memberinya pengetahuan budaya baru, tradisi, pola pikir baru, nilai-nilai baru, dan perspektif baru. Ia mengaku bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda dalam program Darmasiswa membuatnya senang

Adapun Julianah (Madagaskar) mengatakan bahwa ia mengikuti program ini untuk mencari pengalaman baru dan belajar tentang Indonesia, khususnya budaya dan Bahasa supaya ia bisa mempromosikan Indonesia di negara asalnya. Menurutnya, Bahasa dan budaya di Indonesia tidak terlalu berbeda dengan Madagaskar. Selama ia tinggal di Indonesia, ia mengalami banyak hal. Pada awalnya ia mengaku merasa tidak nyaman karena banyak hal yang berbeda di Indonesia dengan negara asalnya. Tetapi sekarang ia mulai terbiasa setelah tinggal selama satu tahun. Julianah mulai terbiasa makan dan menyukai makanan Indonesia, mampu mengerti dan berbicara Bahasa Indonesia, dan lainnya. Untuk dirinya, manfaat dari mengikuti program ini adalah kesempatannya untuk belajar tentang nilai sosial di Indonesia, mengetahui jika orang Indonesia itu bersikap baik tidak hanya kepada sesama namun juga kepada orang asing. Hal ini menurutnya berbeda dengan penduduk negara lain. Ia menilai orang Indonesia sangatlah ramah. Julianah berharap sikap dan pendirian ini tidak akan berubah.

Yang terakhir adalah Nurma Tayoh, salah satu peserta dari Thailand yang mengatakan bahwa dia sangatlah bersemangat, karena sebelum acara penutupan dilaksanakan, semua siswa program Darmasiswa mendapatkan beberapa hari libur dan akhirnya mereka bisa bertemu di acara ini. Nurma tertarik pada objek wisata di Indonesia terutama di Malang. Ia juga mengatakan bahwa makanan Indonesia rasanya enak. "Setelah acara ini, saya akan menetap di Indonesia sedikit lebih lama. Saya akan kembali ke Thailand bulan Agustus," Kata Nurma. Ia ingin menceritakan pengalamannya pada teman-temannya di Thailand tentang objek wisata di Indonesia. [fadhilah, galang, vidi/Humas UB]

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID