Prasetya Online

>

Berita UB

Ananda Sabil Hussein: PLS untuk Pengambilan Keputusan, Jangan Stuck Hanya pada Angka

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 09 Maret 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 578

Training PLS oleh Libyan Students Union
Training PLS oleh Libyan Students Union
PLS (Partial Least Squares) merupakan salah satu statistika yang banyak digunakan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial maupun eksakta. Proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada pengukuran persepsi secara kuantitatif juga marak menggunakan PLS. Ananda Sabil Hussein, PhD menyampaikan hal ini saat menjadi pembicara training "PLS for Academic Research". Kegiatan ini diselenggarakan oleh Libyan Students Union pada Sabtu (03/03/2018) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB).

Metode kuantitatif untuk penelitian ilmu sosial dan bisnis banyak menggunakan regresi. Namun sayangnya regresi tidak memberikan hasil yang komprehensif karena membutuhkan data yang terdistribusi normal. Pengulangan dilakukan dalam jumlah sampel yang relative besar, minimal 30 sampel. Hubungan faktor independent dan dependent juga linier, padahal tidak ada yang linier dalam ilmu-ilmu sosial. Karena itu, PLS menjadi salah satu alternative di antaranya karena bisa menganalisis hubungan beberapa faktor dependent dan independent.

Disampaikan Ananda, tahapan dalam PLS adalah evaluasi outer model, evaluasi inner model dan pengujian hipotesa. "PLS merupakan bentuk SEM (Structural Equation Modelling) yang paling mudah dengan tingkat akurasi yang mulai terpercaya," tandasnya. Dari enam publikasi Scopus yang dihasilkannya pada dua tahun terakhir, Ananda menggunakan PLS pada semua karya tersebut.

Alumni program doktor pada University Canterbury New Zealand ini berpesan agar berhati-hati dalam menulis disertasi untuk program manajemen bisnis. Pasalnya para doktor manajemen bisnis dituntut untuk menemukan kebaruan dengan membangun model konseptual yang baru. "PhD bukan hanya gelar tetapi ada tuntutan untuk berkontribusi bagi masyarakat dan keilmuan," kata Ananda. Orinalitas dan kebaruan juga tuntutan sebuah karya ilmiah agar bisa dipublikasikan di Scopus. "Untuk masuk Scopus itu sangat sulit," kata dia. Dari pengalamannya, untuk menghasilkan 1 publikasi di Scopus dibutuhkan 1,5 tahun.

Secara khusus Ananda berpesan agar tidak terlalu stuck dengan angka-angka statistika. Yang dibutuhkan mahasiswa manajemen bisnis, menurutnya adalah kemampuan menterjemahkan angka dalam pengambilan keputusan. Ananda juga mengaku tidak mewajibkan mahasiswanya untuk mendalami statistika, karena yang paling penting menurutnya adalah kemampuan membaca angka statistika dan maknanya.

Ketua Libyan Students Union, Abdul Kalifa, menyampaikan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta yang semuanya adalah mahasiswa program magister dan doktoral. Mereka berasal dari program manajemen bisnis, ekonomi Islam, teknik, sains, ilmu-ilmu Islam serta kedokteran. "Pada akhirnya semua keilmuan ini akan dikontribusikan kepada masyarakat sehingga pengetahuan statistika akan mendukung hal tersebut, diantaranya saat pengambilan keputusan," katanya. Libyan Students Union tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Libya, namun juga ada Sudan, Gambia, Iraq dan India. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID