Prasetya Online

>

Berita UB

Bahas Urgensi Terorisme dalam Seminar Deradikalisasi

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh vicky.nurw pada 12 October 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 166

Semnas Deradikalisasi Mencari Pola yang Tepat Penanggulangan Terorisme di Indonesia
Semnas Deradikalisasi Mencari Pola yang Tepat Penanggulangan Terorisme di Indonesia
Terorisme tidak hanya menjadi masalah di luar negeri saja. Bahkan isu teroriseme juga menjadi masalah di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk melakukan penegahan terhadap semakin maraknya kasus terorisme di Indonesia. Dalam rangka ini, Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya meyelenggarakan Seminar Nasional pada Kamis (12/10/2017). Kegiatan bertajuk "Memahami Deradikalisasi : Mencari Pola yang Tepat Penanggulangan Terorisme di Indonesia" ini dilaksanakan di Auditorium FH UB.

Kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara antara lain Prof.DR. Irfan Idris, M.A (Direktur Deradikalisasi BNPT), Ma'mun BC.I.P., SH., MH (PLT Direktur Jendral Lembaga Pemasyarakatan), AKP Adi Yudha (Polres Malang, Khairul Ghazali (Mantan Narapidana Terorisme dan pengasuh Pondok Pesantren As-Sifa, Medan) serta akademisi yaitu Milda Istiqomah, SH.,MTCP (FH UB), Dr. H. Zulfi Mubarak, MA (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) dan Ali Mashuri, S.PSI.,M.Sc (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UB)

Dekan FH UB, Dr. Rachmat Syafa'at, SH., M.Si menjelaskan urgensi kasus terorisme belakangan ini. "Dua dekade belakangan ini, isu terorisme mengemuka, dan Indonesia juga nampaknya dihadapkan pada permasalahan ini dan mencari model penanggulangannya. Kita tahu ketimpangan ekonomi dunia menimbulkan kelompok tertentu yang dimarginalisasikan", jelasnya.

Terorisme, menurut Rachmat, perlu dilawan dengan kontra terorisme. "Kalau dibiarkan, anank-anak negeri kita yang pengangguran lebih mudah dipengaruhi. Maka perlu memahami bagaimana kerja para terorisme, karena ini merupakan gerakan nasional", jelasnya.

Rachmat membagi kontra terorisme menjadi dua bagian. "Yang pertama adalah kontra terorisme, memahami bagaimana cara kerja mereka. Yang kedua adalah kontra ideologi, memahami bagaimana ideologi terorisme yang berbeda dibanding ideologi pada umumnya", jelasnya.

Menurut Prof.DR. Irfan Idris, M.A, terorisme adalah paham yang merasa paling benar. "Lahir sebagai akibat, terorisme beranggapan dirinya yang paling berat dan orang lain yang salah karena tidak siap untuk berbeda. Terorisme adalah kejahatan luar biasa di pengadilan tetapi bukan kejadian luar biasa di dalam lembaga permasyarakatan", jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Irfan berharap adanya model penanganan terorisme sebagai upaya deradikalisasi. "Deradikalisasi merupakan proses yang dilakukan melalui metode sistematis bagi orang-orang yang terpapar paham radikal terorisme. Melalui kegiatan ini, diharapkan para akademisi dapat menemukan model penanganan terorisme", ujarnya.[vicky]

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID