Prasetya Online

>

Berita UB

Wapres Jusuf Kalla: Inovasi Penting Bagi Kemajuan Bangsa

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 05 Desember 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 1257

Wapres Jusuf Kalla sampaikan keynote speech dalam seminar hilirisasi teknologi dan startup bisnis
Wapres Jusuf Kalla sampaikan keynote speech dalam seminar hilirisasi teknologi dan startup bisnis
Kemajuan sebuah negara tidak lepas dari fungsi perguruan tinggi. Peran ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti telah mendukung kemajuan negara seperti Cina, Jepang dan Singapura. Justru negara kaya Sumber Daya Alam (SDA) seperti negara-negara di Afrika jatuh miskin karena pemanfaatan yang tidak memberi nilai tambah atau dikenal dengan Dutch Disease. Hal ini disampaikan dalam keynote speech Wakil Presiden Jusuf Kalla di depan peserta seminar "Hilirisasi Inovasi Teknologi dan Startup Bisnis", Senin (04/12/2017) di gedung widyaloka. Kegiatan ini merupakan puncak Pekan Hilirisasi Teknologi dan Startup Bisnis yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Akademik (BUA) Universitas Brawijaya.

Kalla mencontohkan Stanford University, yang ada di balik Silicon valley di Amerika Serikat. "Silicon Valley menggabungkan dunia pendidikan yang melakukan riset dan dunia usaha yang menanggung resiko, serta anak muda yang inovatif," kata politisi partai Golkar ini. Kolaborasi ini membawa kemajuan bagi masyarakat yang kini tengah masuk di era Revolusi Industri ke-4. Era ini ditandai dengan ekonomi digital yang berbasis sharing economy. Pola bisnis dengan model kebersamaan ini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dengan inisiatornya adalah anak muda seperti pada gojek dan e-commerce. Anak muda ini adalah jebolan kampus, yang menurutnya membawa tradisi kampus seperti rasa ingin tahu dan kebersamaan. "Kalau kita tidak mengikuti revolusi ini, kita akan kembali menjadi negara tertinggal dan hanya menjadi konsumen e-commerce," kata Jusuf Kalla yang meraih gelar Doktor Honoris Causa Ekonomi dan Bisnis dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB pada 2011.

Dunia pendidikan internasional menurut Kalla memiliki dua karakteristik yakni karakter liberal art yang ada di Amerika Serikat dan karakter skill yang ada di Jerman, Perancis, Jepang dan China. Kolaborasi ide dan ketrampilan ini akhirnya menghasilkan produk, seperti banyak produk made in China yang merupakan lisensi dari Amerika Serikat.

Kalla secara khusus mengapresiasi UB yang ingin mendedikasikan diri pada inovasi dan hilirisasinya. "Inovasi adalah merubah barang menjadi produk berharga dan bukan hanya sekedar untuk kenaikan pangkat atau menjadi professor," kata dia. Ia menambahkan, riset seharusnya bisa menjawab fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, seperti mengapa saat ini Indonesia lebih banyak menjadi importir produk seperti apel, jeruk dan gula? Melalui riset, Kalla menginginkan perguruan tinggi mampu membuat proyeksi ke depan dan bukannya menjadi museum yang justru melihat ke belakang. Ia mencontohkan perlunya penelitian peran robot dan automasi bagi Indonesia pada 20-30 tahun mendatang. "Indonesia ingin menjadi bagian dari kemajuan dunia. Robot dimanfaatkan sebagai efisiensi dunia industri dan bukan untuk mengurangi tenaga kerja. Ini harus diteliti," ungkapnya. Jika robotika dan automasi justru menimbulkan gelombang PHK, maka investasi dalam negeri dan daya beli masyarakat akan menurun.

Di tengah persaingan yang ketat, agar bisa bertahan maka inovasi bisnis dituntut untuk menghasilkan produksi yang lebih baik, lebih cepat dan lebih murah. Pendapatan per kapita Indonesia saat ini mencapai 3.700-3.800 USD/tahun, lebih rendah dari Thailand (7.000 USD/tahun), Malaysia (10.000 USD/tahun), dan Singapura (40.000 USD/tahun). Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, diprediksi Kalla akan menjadi nilai tambah tersendiri di tengah fenomena kekurangan tenaga kerja yang diprediksi akan menimpa Jepang, Singapura dan China yang justru berkampanye mengurangi jumlah penduduknya. Sebagai negara yang masih mengandalkan kekayaan alam dalam ekspor, Indonesia butuh penguasaan dan implementasi teknologi. "Teknologi, riset dan pendidikan sangat penting untuk negara yang ingin berkembang," katanya. Selain itu, diperlukan pula reverse engineering seperti marak dilakukan China melalui produk yang lebih baik dan lebih murah.

UB sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia, Kalla menilai bahwa para mahasiswa tersebut datang dari berbagai daerah dengan mempertimbangkan Kota Malang yang aman, terbuka dan bersahabat. Untuk itu, ia menyarankan agar mencari kawasan seperti dua ikon Amerika Serikat yang tidak ada di negara lain yakni Silicon Valley dan Hollywood. Dua tempat ini merupakan tempat orang meneliti, berkreasi dan berproduksi. "Amerika Serikat merupakan negara maju tetapi tetap inovatif. Inovasi merupakan dasar kemajuan dan membedakan dari negara lain," tuturnya. Inovasi terutama lahir dari karakter pendidikannya yang menggunakan model liberal art dengan pengayaan pada filsafat, humanisme, logika dan keterbukaan pemikiran.

Kalla menandaskan bahwa tidak ada negara maju yang hanya mengandalkan sumber daya alamnya saja. Terkait hal ini ia mencontohkan Venezuela yang dulu paling kaya di Amerika Selatan kini menjadi paling miskin karena hanya mengandalkan minyak bumi. Negara kaya minyak lainnya yakni Saudi Arabia juga kini tengah bergejolak dan berevolusi. Pada sekitar tahun 70-an, Indonesia menurutnya pernah bergantung pada minyak bumi yang menyokong 70% pendapatan negara, namun kini hanya sekitar 20% saja sektor migas mendukung pendapatan negara. Lebih jauh, ia menyarankan agar anak muda Indonesia lebih tangguh berwirausaha dan belajar dari pengusaha TiongHoa yang lebih banyak sukses di Indonesia.

Bekerjasama dengan Badan Usaha Akademik Universitas Brawijaya (BUA UB), Kalla akan memberikan beasiswa bagi 10-20 mahasiswa yang berkomitmen menjadi pengusaha yang inovatif. Inovasi yang dihasilkan melalui penelitian, menurutnya harus bisa dijual. "Inovasi harus bisa dijual, kalau tidak bisa maka hanya akan masuk museum," katanya.

Di akhir paparannya, Kalla menceritakan pengalaman Indonesia merubah 60 juta keluarga Indonesia dari konsumsi minyak tanah ke LPG. Perubahan ini menggandeng Universitas Trisakti dengan biaya penelitian hanya sebesar 50 juta rupiah. "Terbukti bahwa pemanfaatan LPG untuk memasak lebih murah 40% daripada minyak tanah. Banyak yang murah, tidak perlu harus mahal, tergantung risetnya," ia menandaskan.

Menyambut kedatangan Jusuf Kalla, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf menyampaikan bahwa hilirisasi inovasi dan teknologi penting dilakukan. Menurutnya, kehidupan manusia telah dikelilingi kemajuan teknologi yang membawa berita baik maupun musibah. "Masalah bisa saja muncul dengan perkembangan teknologi yang semakin tidak bisa dihindari. Suka atau tidak teknologi telah mempengaruhi bahkan membentuk kehidupan manusia. Tinggal bagaimana kita menerima sebagai bagian dari hidup dan terus meningkatkan maslahatnya," tuturnya.

Hilirisasi inovasi dan teknologi menurut Syaifullah merupakan modal awal dalam peningkatan nilai tambah ekonomi. Ia menyebut empat pilar sebagai jembatan antara kemajuan teknologi dan manfaat ekonominya. Keempat pilar tersebut adalah riset, industri, marketing dan investasi. [Denok/Humas UB]

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID