Prasetya Online

>

Berita UB

Unit Korpri Unibraw Bangkit Kembali 

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 18 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2011

Ketua Korpri UB Drs. Djanalis Djanaid
Ketua Korpri UB Drs. Djanalis Djanaid
Setelah sekian lama mengalami “mati suri”, Unit Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia) Universitas Brawijaya bangkit kembali. Hal ini ditandai dengan pelantikan pengurus Unit Korpri Unibraw maupun Sub Unit Korpri di fakultas-fakultas, Rabu 18/1, di Balai Senat, gedung PPI Unibraw.
Drs. Djanalis Djanaid yang dalam kepengurusan baru Unit Korpri Unibraw ini menjabat sebagai Ketua, dalam sambutannya mengatakan peristiwa pelantikan pagi ini adalah peristiwa penting, karena dapat dijadikan awal kebangkitan kembali Korpri yang selama ini dianggap mati suri. “Ada yang mengata-kan hidup segan, mati tak mau”, tuturnya.
Menurut Djanalis, mati surinya Korpri ini terjadi di seluruh Indonesia akibat trauma keterlibatan Korpri dalam politik. Dan untuk menghilangkan trauma diperlukan proses. Korpri di Unibraw, kata Djanalis, walaupun secara organisatoris kurang aktif tetapi sebenarnya kegiatan-kegiatan rutin tetap dilakukan, misalnya memberikan bantuan beasiswa, dana kematian, dan lain-lain. Bahkan salah satu usaha kesejahteraan yang dilaksana-kan oleh KPRI Serba Usaha Unibraw hasilnya telah dinikmati oleh sebagian besar karyawan. KPRI yang didirikan tahun 1975 itu, sempat menjadi koperasi teladan sebanyak 3 kali. Begitu pula dalam cabang olahraga, Unit Korpri Unibraw memiliki klub dan sekolah sepakbola Unibraw 82 yang telah memberi kontribusi cukup banyak dalam persepakbolaan di Malang.

Tantangan
Bangkitnya kembali Korpri di Unibraw, menurut Djanalis Djanaid, dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Dengan AD/ART yang baru Korpri telah mengubah paradigma dengan paradigma baru dengan visi dan misi yang dapat dibanggakan, yakni: profesional, mandiri, terdepan dalam menjaga persatuan bangsa, menye-jahterakan anggota, dan melindungi anggotanya.
Selain itu, Korpri sebagai wadah karyawan sesuai dengan UU nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan, mau tidak mau harus dihidupkan, dan harus aktif. Banyak pula masalah-masalah karyawan yang memerlukan perjuangan Korpri.
"Sebenarnya, banyak hal yang dapat dilakukan Korpri", ujar Djanalis. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia dan dunia pendidikan saat ini dihadapkan pada banyak tantangan. Di antaranya, secara makro bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah ketidakstabilan, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, dan hankam. Sementara itu SDM bangsa Indonesia menurut UNDP termasuk yang rendah di ASEAN, atau ranking ke-111 di dunia. Juga pernyataan salah seorang pakar pendidikan Prof. Dr. Tilaar MEd di Unpad Bandung yang mengatakan perguruan tinggi telah gagal mencetak pemimpin-pemimpin bangsa. Bahkan hasil rakor Forum Rektor di Surabaya beberapa waktu yang lalu ada yang mengatakan korupsi di KPU adalah tanggung jawab perguruan tinggi. Tak ketinggalan juga, Djanalis menyinggung soal pemilihan rektor Unibraw baru-baru ini. Dikatakannya, apapun hasilnya perlu upaya mensosialisasikan kepada segenap warga Unibraw secara bijak. Mereka diharapkan mempersiapkan mental untuk menerima keputusan pemerintah. Dan menurut Djanalis, "Ini termasuk tugas Korpri". Juga tantangan lain, khususnya yang menyangkut kesejahteraan karyawan dan keluarganya, serta perlindungan karyawan.

Program
Pada bagian lain sambutannya, Djanalis menyatakan ada tiga model program yang dapat disesuaikan dengan vis dan misi Korpri. Sebagai sumber ide, Korpri dapat menyumbangkan gagasannya kepada universitas, baik yang menyangkut kepentingan bangsa, universitas/fakultas, maupun karyawan. Di sini pengurus Korpri diharapkan aktif mengadakan dialog dengan fihak universitas/fakultas. Selain itu, dapat dikembangkan program bersama Unit Korpri/Sub Unit Korpri dengan universitas/fakultas. Atau program Unit/Sub Unit yang dilakukan secara mandiri.
Dengan tiga model program itu diharapkan baik fakultas maupun universitas dapat mempersiapkan sistem kerjasama yang baik. Untuk memperlancar kerjasama, menurut Djanalis, pengurus Korpri akan dibekali dengan ilmu yang sedang dibutuhkan saat ini, yakni manajemen perubahan dan manajemen konflik. "Karena yang kekal di dunia ini adalah perubahan, maka yang dibutuhkan adalah manajemen perubahan. Kalau tidak dapat mengikuti perubahan, maka yang timbul adalah konflik. Dengan memahami kedua konsep tersebut, maka setiap perubahan akan menjadi perubahan yang positif bagi organisasi", ujarnya. [Far]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID