Prasetya Online

>

Berita UB

UB Tambah Dua Guru Besar Baru

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh vicky.nurw pada 22 Februari 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 909

Dr. Ir. Mimit Primyastanto, MP
Dr. Ir. Mimit Primyastanto, MP
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Dengan luas perairan yang lebih luas dibanding daratan, Indonesia memiliki potensi hasil laut yang teramat besar. Namun, potensi ini belum diimbangi upaya untuk menjaga dan merawat serta memanfaatkan perairan dengan baik. Inilah yang menjadi dasar penelitian dua orang guru besar, Mimit Primyastanto di bidang Ilmu Ekonomi Perikanan serta Nuddin Harahab di bidang Ilmu Ekonomi Sumberdaya Perikanan.

Mimit menyoroti pada kemungkinan kesalahan pengelolaan sumber daya alam. "Karena cara pengelolaannya tidak benar, bisa karena kebijakannya yang tidak tepat atau sistem peruntukan dan distribusi hasil yang salah sasaran", jelasnya.

Kelimpahan sumber daya perikanan, menurut Mimit, menjadi daya tarik datangnya kapal-kapal negara asing yang jauh lebih canggih. "Banyak nelayan Indonesia yang masih menggunakan kapal tradisional. Hal ini karena nelayan Indonesia menganggap kapal modern merusak lingkungan dan membuat daya tangkap nelayan lain berkurang," jelasnya.

Membantu mengatasi masalah ini, Mimit memaparkan tentang Konsep Pengelolaan Sumberdaya Alam Secara Sustainable khususnya sumberdaya perikanan dan kelautan. Pidato ini disampaikan dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Brawijaya pada Pengukuhan Guru Besar, Rabu (21/02/2018) di gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya.

Selain Prof. Mimit, Guru Besar yang juga dilantik adalah Prof. Nuddin Harahab. Di kesempatan yang sama, Nurdin menjelaskan tentang Nilai Ekonomi Eksosistem Mangrove Dalam Perencanaan Wilayah Pesisir.

Dr. Ir. Nuddin Harahab, MP
Dr. Ir. Nuddin Harahab, MP
Menurut Nuddin, penting untuk menghargai sumberdaya alam, termasuk di dalamnya hutan mangrove. "Hutan mangrove adalah semua jenis tanaman yang tumbuh di sekitar garis pantai dan bisa hidup di lingkungan berkadar garam tinggi. Mangrove juga merupakan sumberdaya pantai atau ekosistem pesisir yang komplek dan khas dan berdaya dukung tinggi terhadap sekitarnya," jelasnya.

Mangrove, papar Nuddin, memiliki kemampuan untuk menghirup karbon dioksida serta efektif untuk menyerap emisi karbon dibandingkan hutan tropis. "Nilai mangrove terdiri dari berbagai macam jenis, serta memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan untuk pemanfaatan wilayah pesisir.

Melalui penelitiannya, baik Mimit maupun Nuddin berharap akan semakin banyak yang mengetahui tentang ekologi dan kearifan lokal dalam mengelola sumberdaya perikanan. [vicky/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID