Prasetya Online

>

Berita UB

UB Tambah Dua Gubes di Bidang Ilmu Hukum dan Peternakan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 28 September 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 984

Prof. Lilik Eka Radiati dan Prof. Abdul Rachmad Budiono
Prof. Lilik Eka Radiati dan Prof. Abdul Rachmad Budiono
Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua guru besar di bidang Ilmu Hukum Perburuhan dan Ketenagakerjaan serta dari bidang peternakan, Rabu (27/09/2017). Mereka adalah Prof. Abdul Rachmad Budiono dan Prof. Lilik Eka Radiati.

Prof. Abdul Rachmad Budiono merupakan guru besar ke-136 di UB dan ke-14 dari Fakultas Hukum. Sementara Prof Lilik Eka Radiati merupakan Guru Besar Fakultas Perternakan yang ke-16 dan ke-137 di universitas.

Pada pidato pengukuhan di depan Rektor, Prof. Abdul Rachmad memaparkan pidato berjudul "Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Indonesia".

Dia mengatakan, lebih dari 89 persen pekerja mengalami kekalahan pada saat pembuktian di pengadilan. Kekalahan disebabkan karena tidak adanya pembuktian pekerja pada saat berselisih melawan pengusaha di pengadilan.

"Jika penjual dan pembeli di pasar berselisih maka masing-masing pihak bisa membawa bukti. Sebaliknya, jika pekerja dan pengusaha berselisih ketika ada permasalahan diantara keduanya, maka pekerja akan kesulitan membuktikan," kata Prof. Rachmad.

Dia menjelaskan untuk mengatasi ketidakseimbangan tersebut, saat ini legislator sedang memperjuangkan beban pembuktian hingga ke Mahkamah Konstitusi.

Dikatakan oleh Prof. Rachmad kecilnya power yang dimiliki oleh pekerja membuat banyak pekerja tidak bisa menunjukkan alat bukti.

"Bukan karena dari perkaranya yang kalah tapi karena mereka tidak bisa menunjukkan alat bukti di pengadilan," katanya.

Oleh karena itu, kedepan harus diperbaiki beban pembuktiannya. Selama ini di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) beban perkaranya disamakan artinya siapa yang bisa membuktikan dalil-dalilnya di pengadilan dialah yang menang.

Selain itu, Rachmad juga menyarankan agar setiap buruh mendapatkan kesempatan pendidikan. Dalam hal ini, jika buruh merasa kesulitan financial untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka pemerintah berperan untuk mendidik mereka.

Pidato Prof. Lilik

Dalam pemaparannya, Prof. Lilik menjelaskan bahwa selama ini masih banyak penanganan susu segar yang kurang tepat sehingga menyebabkan terkontaminasinya susu segar. Padahal jika ditelisik lebih jauh susu merupakan bahan pangan yang murni, higienis dan bergizi tinggi.

Beberapa kesalahan penanganan terutama terjadi pada saat susu keluar dari ambing setelah pemerahan. Kandungan mikroba pada susu segar dikarenakan terjadi kontaminasi oleh mikroba yang berasal dari beberapa sumber pencemaran.

Dikatakan oleh Lilik, sumber pencemaran mikroba pada susu berasal dari lingkungan yaitu: 8 persen pemerah, 37 persen air baik untuk minum, mencuci peralatan, memandikan ternak dan membersihkan kandang, 13 persen lingkungan (kandang udara dan sekitarnya), dan 42 persen alat pemerah diantaranya adalah tempat pemerahan susu (mesin, kain saring, dan milk can), 35 persen ternak yang sakit pada umumnya ternak mastitis, dan 65 persen permukaan luar ambing.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya pencemaran Mikroba, perlu dilakukan praktik penanganan susu segar yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu mikrobiologis sesuai standar nasional.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan, adalah mengurangi risiko kontaminasi mikroba pada puting dan salurannya dengan cara mencelupkan puting ke dalam senyawa antimikroba. Selain itu perlu disediakannya peternakan dengan fasilitas biogas yang menunjukkan ketersediaan energi, sehingga peternak lebih efisien dalam menyediakan air panas untuk membersihkan ambing dan peralatan. [Oky Dian/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID