UB Perkuat Kolaborasi dengan Universitas Charles Praha

Dikirim oleh oky_dian pada 05 Desember 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 270

Delegasi UB Bersama Delegasi dari Universitas Charles Praha
Delegasi UB Bersama Delegasi dari Universitas Charles Praha
Delegasi dari UB yang terdiri dari Ketua Kantor Urusan Internasional Prof. Ifar Subagiyo, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Prof. Aulanni'am, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Dr. Sri Andarini, Wakil Direktur Inkubasi Bisnis Dr Setyo Yudo Tyasmoro, serta dua staf ahli rektor, Dr. Faishal Aminuddin dan Dr. Romy Hermawan melakukan kunjungan ke Republik Ceko. Tujuan dari kunjungan tersebut untuk memperkuat kolaborasi akademik dengan Charles University of Prague (CU).

Sejak tahun 2013 dan 2015 beberapa peneliti dari FK dan FMIPA UB telah menjalin kerjasama dengan Fakultas Farmasi di CU. Setelah melakukan evaluasi internal, UB melihat potensi kerjasama yang lebih besar sehingga perlu segera direalisasikan.Jika sebelumnya hanya terbatas pada pertukaran informasi, maka kedepan ruang kerjasama riset dan pengajaran akan dibuka. 

Dalam kegiatan tersebut, delegasi UB diterima oleh Wakil Rektor bidang Akademik, Prof. Radka Wildova, Direktur Kerjasama CU, Dekan Fakultas Farmasi Prof Petr Solich dan Perwakilan dari Fakultas Seni, Dr. Tomas Petru di Rektorat CU di Ovocny Trh 3, Praha pada Selasa (4/12/2018).

Dalam pertemuan yang berlangsung akrab tersebut, Prof Wildova menjelaskan profil lembaga dan pencapaian dari CU. Sebagaimana diketahui, CU merupakan universitas tertua di Eropa Tengah yang didirikan pada tahun 1348. CU Saat ini memiliki 17 fakultas  yang berlokasi di Praha, Hradec Kralove dan Pilsen. 
CU merupakan salah satu universitas prestisius yang menjadi partner kunci dari League European Research University (LERU) di Eropa Tengah dan Timur. CU juga merupakan founding member dari 4EU Alliance yakni aliansi universitas Eropa untuk kerjasama prestisius dalam bidang pengajaran dan riset terutama fisika, kimia, matematika dan biologi.

Aliansi ini memungkinkan anggota-anggotanya mempunyai standar akademik yang sama. Organisasi ini terdiri atas Universitas Heidelberg Jerman, Universitas Sorbonne Perancis dan Universitas Warsawa Polandia. Bagi CU, sebagaimana disampaikan oleh Radka Wildova, terdapat kebutuhan untuk membangun jaringan kemitraan yang sama dengan universitas di Asia Tenggara. 

Sementara bagi UB sendiri kerjasama dengan kampus-kampus bereputasi dunia merupakan agenda prioritas. Selain bertujuan untuk memacu produktivitas hasil-hasil riset yang bermutu juga memberikan kontribusi terhadap kemajuan sistem pengajaran.

Ifar Subagiyo menjelaskan bahwa kerjasama internasional UB kedepan akan difokuskan pada beberapa bidang riset strategis dengan kemitraan yang kuat dengan lembaga-lembaga pendidikan yang mempunyai profil tinggi. 

Meski proses kerjasama jangka panjang antar universitas harus terlebih dulu berangkat dari kerjasama antar peneliti, antar fakultas dan setelah kerjasama bisa berjalan, tingkat kerjasama antar universitas bisa ditetapkan. Konsekuensi dari kerjasama antar universitas diikuti dengan berbagai program dari berbagai aspek pengajaran, riset, publikasi dan sebagainya. Dr. Faishal Aminuddin mengatakan UB dan CU mengidentifikasi setidaknya tiga wilayah kerjasama yakni dalam bidang kedokteran dengan fokus racun dan obat-obatan dalam penyakit kardiovaskuler, bedah eksperimental dan biomedis. Dalam bidang sains akan fokus pada riset bahan kimia dasar sedangkan dalam bidang sosial politik riset tentang perbandingan demokrasi dan kebijakan.

Dr. Sri Andarini mengaku siap dengan peneliti-peneliti muda yang bisa diandalkan untuk riset kolaboratif yang melibatkan para doktor pada bidang keilmuan kedokteran masyarakat hingga farmasi. Sementara Prof. Aulanni'am mengatakan kerjasama akan dilakukan dalam pengembangan bahan-bahan kimia dan organik untuk pembuatan obat hipertensi selain riset untuk penyakit hewan di negara tropis.

Dalam bidang ilmu sosial politik, Dr. Tomas Petru yang juga profesor dalam studi Asia Selatan dan Timur menyampaikan bahwa antusiasme studi tentang Indonesia di Ceko masih tinggi sehingga kerjasama yang lebih erat sangat dibutuhkan dalam rangka pertukaran akademik antar universitas. Prof Solich menambahkan bahwa pihaknya siap untuk menerima mahasiswa doktoral baru yang akan dilibatkan secara langsung dalam riset-riset kolaboratif.  
Pertemuan antara delegasi UB dan CU juga akan menghasilkan dua hal penting yang akan segera dikerjakan dalam tahun-tahun mendatang. Pertama, penguatan kerjasama yang sudah ada antara FK dan FMIPA UB dengan Fakultas Farmasi CU, keterlibatan FKH dan Fakultas Kedokteran CU di masa depan.

Program pengiriman mahasiswa doktoral akan memanfaatkan biaya dari program Erasmus atau LPDP sedangkan pembiayaan riset akan menjadi beban bersama antara masing-masing universitas. Namun jika memungkinkan akan mengakses dana dari kerjasama Uni Eropa dan lembaga lainnya.

Kedua, joint program yang menjadi program baru. FISIP UB akan membuka program magister politik dan riset kebijakan dimana mahasiswa yang selesai menempuh mata kuliah di UB akan mengikuti mentorship selama 3 bulan di Fakultas Ilmu Politik CU. Program ini akan diikuti oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB dengan program 3 in 1 yakni mengundang ahli dari CU untuk menjadi visiting profesor dan mengajar beberapa kredit matakuliah di UB. Dari Jurusan Asia Selatan dan Timur Jauh CU akan mengirimkan mahasiswa sarjana untuk mengikuti kursus-kursus singkat di UB mengenai budaya dan bahasa. [Faishal/Humas UB]

 

 

Artikel terkait