Prasetya Online

>

Berita UB

UB Kukuhkan Dua Guru Besar FMIPA

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 16 Januari 2019 | Komentar : 0 | Dilihat : 485

Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, MS saat dikukuhkan menjadi Guru Besar UB yang baru
Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, MS saat dikukuhkan menjadi Guru Besar UB yang baru

Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng dikukuhkan menjadi Guru Besar UB ke 242
Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng dikukuhkan menjadi Guru Besar UB ke 242
Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan dua Guru Besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Rabu (16/01/2019), di Gedung Widyaloka. Pertama adalah Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Instrumentasi dan Sensor. Ia merupakan Guru Besar ke-242 di UB. Kedua, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Biologi Reproduksi Molekuler, yang merupakan Guru Besar UB ke-243.

Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng menyampaikan pidato dengan judul "Quartz Crystal Microbalance dengan Sistem Instrumentasinya untuk Teknologi Sensor Kimia dan Biosensor". Sedangkan Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., membawakan pidato dengan judul "Reproductive Herbalisme, Metode Pendekatan Berdasarkan Mekanisme Sinergetik Komplek dalam Membangun Sistem Pertahanan Tubuh dan Kesehatan Reproduksi".

Prof. Setyawan: Sensor QCM dengan Konsentrasi Massa Nanogram

Sensor merupakan aspek utama sebagai titik awal pengubahan fakta atau keadaan menjadi suatu bentuk data. Sensor suhu mengubah temperatur badan, ruang, lingkungan menjadi sebuah data. Kamera dengan sensor optik mengubah penampakan obyek menjadi suatu data gambar. Tanpa adanya proses dengan menggunakan piranti pengolah data, maka informasi yang diperoleh akan diragukan. Untuk itu, pengembangan sensor dengan berbagai ragamnya merupakan hal yang pokok dalam revolusi industri 4.0 karena semakin memudahkan kehidupan manusia.

Dari berbagai macam sensor yang dikembangkan, yang mendasarkan pada perubahan sifat mekanik pada saat terjadi reaksi kimia maupun ikatan antar molekul adalah Quartz Crystal Microbalance atau QCM. QCM merupakan suatu sensor yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi adanya perubahan massa, perubahan sifat lapisan yang menempel pada permukaannya atau pada perubahan sifat cairan yang bersentuhan dengan permukaan sensor.

Sensor QCM menarik untuk dikembangkan karena dapat dimodifikasi dengan bermacam-macam bahan untuk berbagai macam aplikasi seperti untuk kedokteran, industri, pertanian, pangan, maupun keamanan. Karakteristik seperti ini cocok untuk dikembangkan di Indonesia dengan keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pengembangan teknologi.

"Pengembangan sistem instrumentasi berteknologi tinggi dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Hal ini meyakinkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan suatu teknologi tinggi," ungkap Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng. 

Kelebihan dari Sensor QCM ini yaitu memiliki sensitivitas yang sangat tinggi dalam mendeteksi jumlah molekul tertentu seperti gas, bau, rasa, sampai pada konsentrasi massa nanogram. Penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2012 ini akan terus menerus dikembangkan karena di Indonesia masih sangat jarang. "Ke depannya, Sensor QCM dapat dipakai untuk diagnostik kesehatan dengan mendeteksi kadar antibodi dan antigen, mengetahui kualitas bahan makanan dan minuman, melihat tingkat kemasakan buah, dan berbagai keperluan lainnya," katanya.

Prof. Sasmito: Konsumsi Herbal Perlu Penelitian yang Sistemik

Prof. Sasmito melakukan linierisasi dan hilirisasi keilmuan dengan roadmap penelitian yang telah ditetapkan Jurusan Biologi yaitu pemanfaatan alam Indonesia yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. "Sebenarnya kita sudah terbiasa hidup sehat sejak lahir, memakan makanan dengan bumbu rempah-rempah yang kaya akan antioksidan merupakan small medicine untuk kesehatan dan daya tahan tubuh kita," ujarnya.

Kali ini Ia melakukan formulasi herbal di bidang reproduksi khususnya untuk  functional food ibu hamil dan setelah melahirkan. Bahan utama yang digunakan adalah Daun Katuk (S. Androgynous) dan Tapak Liman (Elephantopus scaber).

Menurutnya, kedua bahan tersebut merupakan Imunomodulator yang dapat memodulasi sistem pertahanan atau membentuk antibodi ibu hamil dan menyusui, juga dapat mengatasi anemia. Karena pada prinsipnya, herbal merupakan bahan yang kompleks. Itu menunjukkan tanaman tersebut dapat membangun sistem pada tubuh manusia.

Namun, Prof. Sasmito menyampaikan, berdasarkan penelitiannya ditemukan bahwa setiap tanaman mempunyai kemungkinan adanya toxic, serta tidak bisa diterapkan di semua ras. Seperti daun katuk, yang ternyata berbahaya bagi paru-paru orang dengan ras Mongoloid, tetapi aman untuk ras Malayan Mongoloid. Dan banyak juga kasus gagal ginjal karena rutin terpapar toxic yang terdapat pada tanaman herbal.

"Untuk itu dalam mengkonsumsi herbal tidak dapat disamaratakan. Kasus tiap orang berbeda. Perlu adanya penelitian yang sistemik dengan memeriksa jantung, ginjal, serta memperhatikan dosis dalam mengkonsumsi herbal, agar fungsinya sebagai detox tidak berubah menjadi toxic," tegasnya.

Ia berharap agar formulasi jamu di bidang reproduksi dapat dijadikan dasar-dasar ilmu pengembangannya oleh para peneliti, sebagai prinsip dasar pengembangan jamu di bidang ilmu yang lain. "Semakin banyak penelitian di bidang jamu, akan semakin banyak hal yang selama ini belum kita ketahui akan terungkap secara saintifik," pungkasnya. [Irene] 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID