Prasetya Online

>

Berita UB

Tumbuhkan Rasa Aktivisme Mahasiswa Melalui Bedah Buku Laut Bercerita

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh zenefale pada 19 Maret 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 517

Bedah buku yang berjudul Laut Bercerita merupakan sebuah karya yang diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada mahasiswa tentang tragedi 98
Bedah buku yang berjudul Laut Bercerita merupakan sebuah karya yang diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada mahasiswa tentang tragedi 98
Perguruan tinggi merupakan pusat kebudayaan yang besar akan ilmu pengetahuan. Pada Kamis (15/03), Fakultas Hukum Universitas Brawijaya melaksanakan fungsi Perguruan Tinggi sebagai pusat kebudayaan tersebut dengan menggelar Pemutaran Film Pendek dan Diskusi Buku Laut Bercerita.

 Wakil Dekan Bidang Akademik Dr Pridja Djatmika SH MSi menyampaikan apresiasinya pada novel fiksi sejarah yang menceritakan penculikan korban aktivis tahun 1998. “Saya mengapresiasi karya ini dengan sangat tinggi, karena penulis bercerita berdasarkan riset dan bisa membuat pembacanya melek akan sejarah”, ujar Prija Djatmika saat membuka acara yang diselenggarakan di Auditorium FH Lantai 6.

Hadir dalam diskusi buku tersebut, Dosen FH UB, Muktiono, SH., M.Phil, Leila S. Chudori selaku penulis, Wisnu Darmawan selaku Produser, Wilson, perwakilan dari Amnesty International Indonesia. Dalam kesempatan ini juga mendatangkan Ibu Bimo Petrus yang merupakan korban penculikan paksa tahun 1998 asal Malang, Genoneva Misiatini dan istri aktivis HAM Munir, Suciwati.

Leila S. Chudori mengatakanselama proses penulisannya yang dimulai sejak tahun 2013 sampai 2017. Ia juga melakukan riset dengan mewawancarai sejumlah aktivis yang pernah diculik lalu dibebaskan hingga para keluarga aktivis yang diculik namun tidak pernah kembali. “Selama ini orang melihat peristiwa 1998 dengan pergerakan mahasiswanya. Saya ingin melihat dari perspektif orang-orang yang kehilangan, keluarga, dan teman” tukas Leila.

 Ia mengaku dalam menuangkan cerita, tidak ingin berkisah tentang sudut pandang penculikan paksanya saja. “Saya tidak serta merta bercerita tentang penculikan saja, tetapi harus memberikan konteks kenapa para aktivis ini mau berjuang mempertaruhkan nyawanya”, imbuhnya.

 Oleh karena itu Leila membagi cerita pada novelnya menjadi dua bagian, kisah tentang tokoh Biru Laut yang bergabung dalam kelompok Winatra, yang melangkah ingin mengoreksi kesalahan yang terjadi di Indonesia kala itu, sampai terjadi penculikan paksa, serta kondisi keluarganya yang terus mencari Biru Laut tanpa kepastian dapat ditemukan.

 Novel Laut Bercerita, tidak hanya dituangkan lewat fiksi, cerita para aktivis pun diterjemahkan ke dalam film pendek yang diperankan oleh aktor ternama Indonesia seperti Reza Rahardian, Dian Sastrowardoyo, dan Ayushita. Sementara itu, Muktiono, SH., M.Phil mengungkapkan melalui buku Laut Bercerita dapat menularkan semangat aktivisme kepada mahasiswa di era sosial media seperti sekarang ini. Selain itu buku karya Laela S. Chudori tersebut juga dapat dijadikan referensi untuk melihat perjalanan hak asasi manusia di Indonesia. “Ada unsur sastra di buku ini, ada sejarah, dan ada beberapa komplain kepada negara. Ketika membaca buku ini, saya seperti membaca sebuah karya fiksi, tetapi saya melihat sebuah topik yang luar biasa dan bisa dikatakan berat tapi bisa dikemas menjadi karya yang menginspirasi”, ungkap Dosen FH tersebut. [dinda]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID