Prasetya Online

>

Berita UB

Tiga Mahasiswa UB kendalikan Tungau pada Krisan Dengan Ekstrak Daun Paitan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 04 Juli 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 559

Penyemprotan Ekstrau Daun Paitan Pada Daun Bunga Krisan
Penyemprotan Ekstrau Daun Paitan Pada Daun Bunga Krisan
Bunga krisan mempunyai banyak manfaat dalam tubuh. Sayangnya dibalik manfaat tersebut penggunaan acarisida sintetik pada pestisida yang disemprotkan pada Bunga Krisan cenderung meninggalkan residu kimia yang sulit terurai dan membahayakan kesehatan manusia.

Berdasarkan data Departemen Kesehatan pada tahun 2007 tentang monitoring keracunan pestisida organofosfat dan karbamat di 27 provinsi Indonesia, menunjukkan 61,82% petani mempunyai aktivitas kolinesterase normal, 1,3% keracunan berat, 9,98% keracunan sedang dan 26,89% keracunan ringan.

Alternatif akarisida alami banyak dicari karena memiliki efek samping yang rendah terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satunya akarisida nabati dari daun paitan.

Ekstrak Daun Paitan
Ekstrak Daun Paitan
Ekstrak daun paitan dibuat oleh tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dari jurusan Hama dan Penyakit Tanaman serta Jurusan Budidaya Pertanian. Mereka adalah Munika Dwi Nurul Hidayah, Yogi Nasrul Anas dan Diya Khoirun Nisa. Paitan mengandung senyawa metabolit sekunder seperti Alkoloid, Saponin, tannin, Terpenoid, dan Flavonoid yang dapat membunuh Tungau Tetranychus sp dengan cara kerja sintem kontak dan racun perut. Alkoloid dan Tannin berfungsi sebagai Antifeedant melalui aroma dan rasa pahit yang dikeluarkan oleh ekstrak daun paitan sehingga hama Tungau Tetranychus sp. enggan untuk memakan daun krisan. Terpenoid menyerang sistem syaraf pada tungau sehingga tungau kehilangan keseimbangan dalam mengkoordinasikan sistem tubuhnya.

Dari hasil perlakuan uji coba yang dilakukan persentase mortalitas pada konsentrasi terendah menunjukkan kematian populasi tungau lebih dari 50% dalam waktu 12 jam.

Rendahnya konsentrasi ekstrak daun paitan dan pendeknya waktu yang dibutuhkan untuk membunuh tungau Tetranychus sp ini karena kandungan senyawa metabolit sekunder pada daun paitan. Senyawa ini bekerja dengan cara ekstrak daun paitan yang ada di jaringan daun krisan masuk dalam tubuh tungau saat proses makan, sedangkan racun kontak bekerja saat tungau bergerak aktif di permukaan daun dan bersentuhan langsung dengan EDP.

Diya menambahkan penggunaan acarisida alami dengan konsentrasi sedikit persentase mortalitas tungau sudah tinggi, apalagi konsentrasinya ditingkatkan maka persentase mortalitas tungaunya pasti meningkat.

"Akarisida daun paitan ini ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia untuk penggunaan dalam jangka waktu yang lama," kata Yogi.

Munika menambahkan, tim akan bekerja sama dengan inkubator bisnis wirausaha Universitas Brawijaya untuk memproduksi ekstrak daun paitan dalam bentuk takaran dan dosis yang seimbang sesuai keperluan petani.

Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan petani dalam menggunakan acarisida Ekstrak Daun Paitan yang akan diaplikasikan ke lahan pertanian. [*/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID