Prasetya Online

>

Berita UB

Tepung Bulu-Bulu Ayam untuk Tingkatkan Penampilan Karkas Itik

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh dietodita pada 07 Agustus 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 438

Disertasi Andi Pertiwi Damayanti , S.Pt., M.Si
Disertasi Andi Pertiwi Damayanti , S.Pt., M.Si
Penampilan karkas itik lokal pedaging cenderung terkesan kotor sebab masih terdapat pangkal bulu berwarna hitam yang tertinggal. Berbagai penelitian terdahulu mengenai peningkatan produktivitas itik dan penampilan karkas yang bersih melalui banyak kajian telah dilakukan. Hasilnya menunjukkan performa dan kualitas daging lebih baik serta penggunaan pakan lebih efisien. Namun masih banyak bulu jarum (pinfeather) yang tertinggal pada karkas.

Menanggapi hal tersebut Dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako (Fapetkan Untad), Andi Pertiwi Damayanti , S.Pt.,M.Si melakukan penelitian berjudul Evaluasi Penggunaan Tepung Bulu-Bulu Ayam Terhadap Penampilan Produksi Dan Jumlah Pin Feather Pada Karkas Itik. Penelitian sebagai syarat untuk mendapatkan gelar doktor di Fakultas Peternakan UB ini dibimbing oleh Prof. M. Nur Ihsan (Fapet UB), Dr. Eko Widodo (Fapet UB), dan Prof. Burhanudin Sundu (Fapetkan Untad).

Andi mengatakan, unggas domestik memiliki siklus alami pertumbuhan bulu yaitu peluruhan (shedding) dan perbaharuan bulu (moulting). Pendukung siklus pertumbuhan bulu adalah nutrisi, sebab semakin matang bulu maka akan memudahkan pencabutan bulu saat pemrosesan itik menjadi karkas. Hal ini dapat meningkatkan preferensi konsumen dari segi penampilan karkas yang bersih dari pinfeather.

Dalam penelitian ini, Andi memanfaatkan limbah bulu industri pemotongan unggas untuk mendapatkan nutrisi. Sebab limbah bulu ayam mengandung asam amino bersulfur yang dapat digunakan sebagai penyusun protein pada bulu itik. Ia melakukan pengolahan limbah bulu dengan metode hidrolisis enzimatik menggunakan Allzyme fd untuk meningkatkan daya cerna tepung bulu hidrolisat enzimatik (TBHE).

Tahap awal penelitian ialah mengevaluasi kandungan nutrient TBHE yang berasal dari limbah bulu pre-grinding dan post-grinding. Selanjutnya dilakukan tahapan evaluasi untuk menguji pengaruh penggunaan TBHE Allzyme FD dengan bentuk fisik limbah bulu dan level enzim berbeda terhadap kecernaan protein dan nilai Energi Metabolis Semu (EMS) dan nilai Energi Metabolis Terkoreksi Nitrogen (EMSn). 

Sementara itu tahapan terakhir adalah uji pertumbuhan pengukuran jumlah Protruding Pinfeather (PPF) dan Non Protruding Pinfeather (NPPF) yang tertinggal pada karkas itik. Tahap pengujian dilakukan secara terpisah namun dalam waktu yang bersamaan yaitu selama 10 minggu. Menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan enam pengulangan, dimana setiap pengulangan dilakukan pada enam itik.

Variable yang diukur adalah konsumsi pakan, bobot badan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, dan presentase karkas. Sedangkan evaluasi penggunaan TBHE terhadap jumlah PPF NPPF pada karkas itik dilakukan untuk memacu pertumbuhan bulu itik berdasarkan variable bobot bulu, presentasse bulu, dan jumlah PPF dan NPPF yang tertinggal pada karkas itik umur 7 hingga 10 minggu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TBHE Allyzme fd meningkatkan kandungan nutrient tepung bulu, kecernaan protein, kecernaan asam amino metionin, lisin, treonin, dan EMS. Sehingga meningkatkan pula berat badan dan bobot karkas. Penggunaan 5% tepung bulu hidrolisat enzimatik dalam pakan basal terbukti mengurangi jumlah PPF dan NPPF yang tertinggal pada karkas dan berpotensi memberikan penampilan karkas secara fisik yang lebih baik. [dta/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID