Prasetya Online

>

Berita UB

Tarhib Ramadhan 2018: Menggapai Rahmat Allah SWT di bulan Ramadhan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh dinaoktavia pada 14 Mei 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 136

7083_20180514132415
7083_20180514132415
Sebagai pembuka rangkaian semarak Ramadhan 2018, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menggelar acara Tarhib Ramadhan Jumat (11/5/2018).

Ust. Hamzah Asrori, LC dihadirkan pada kesempatan tersebut untuk memberikan tausiyah bertajuk Menggapai Rahmat Allah SWT di bulan Ramadhan.

Kajian yang diberikan Ust. Hamzah diawali dengan penjelasan mengenai rahmat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam Muslim, Allah mempunyai 100 rahmat dan hanya satu rahmat yang diturunkan dimuka bumi ini untuk semua makhluk termasuk manusia, jin dan hewan.

"Bahkan kalau kita melihat hewan buas mengasihi menyayangi anaknya, itu adalah sebagian dari bentuk rahmat Allah. Kalau satu saja rahmat yang diturunkan ke bumi sudah sangat cukup, bagaimana nanti 99 rahmat yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman di surga Allah SWT," ujar Ust. Hamzah.

Ust. Hamzah menambahkan bahwa perlu dipahami jika rahmat Allah sangat luas. Bahkan dalam sabda-Nya yang tertuang dalam hadits Qudsi, Allah berfirman "Sesungguhnya rahmat-Ku telah mendahului murka-Ku". Jadi apapun kondisi hamba-Nya, asalkan mau bertobat dan tidak pernah menyekutukan Allah maka Allah akan menerima pertobatannya. Hal ini berlaku pada waktu yang umum, maka terlebih lagi rahmat-Nya di bulan Ramadhan.

Dijelaskan oleh Ust. Hamzah bahwa persiapan menyambut Ramadhan perlu dilakukan setidaknya dua bulan sebelum Ramadhan.

Di Indonesia sejak bulan Rajab terdapat Peringatan Hari Besar Indonesia, termasuk Isra' Miraj. Salah satu hikmah Isra' Miraj adalah untuk mempersiapkan orang menyelesaikan bab sholatnya. Kemudian pada bulan Sya'ban terdapat sunnah tersendiri yang direkam oleh salah satu istri Rasulullah.

Aisyah yang mengatakan bahwa 'Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa satu bulan penuh, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat rasulullah lebih banyak puasanya di bulan lain kecuali di bulan Sya'ban'.

"Jadi itu persiapan-persiapan Rasulullah menuju Ramadhan. Meskipun ada hadits lain yang mengatakan kalau Sya'ban sudah sampai setengah, jangan berpuasa. Tapi bagi yang sudah terbiasa puasa masih boleh berpuasa sampai h-2 atau h-1 Ramadhan. Kalau h-2 atau h-1 itu tidak boleh puasa karena khawatirnya sudah masuk Ramadhan. Karena memang berpuasa itu harus dipersiapkan. Kalau tidak pernah latihan, itu hari pertama Ramadhan lapar dan lesu terasa berat, apalagi aktivitas kerja masih berjalan seperti biasa. Maka perlu adanya pengkondisian," jelas Ust. Hamzah.

Selain itu Ust. Hamzah juga menjelaskan bahwa persiapan menuju Ramadhan, minimal ada empat. Pertama adalah persiapan ruhiyah, yaitu dengan meningkatkan keimanan. Rumus keimanan disampaikan oleh Ust. Hamzah yaitu semakin banyak melakukan kemaksiatan akan menurunkan keimanan, dan semakin banyak melakukan ketaatan akan meningkatkan keimanan. Kedua adalah persiapan ilmu. Ilmu penting dipahami sebelum melakukan segala sesuatu. Tanpa dasar ilmu, maka kebenaran yang dilakukan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

"Jadi kalau belum tahu bisa baca fiqih Ramadhan, contohnya apa saja yang membatalkan puasa. Karena dalam ibadah ada yang tidak boleh ragu," jelas Ust. Hamzah.  

Ketiga adalah persiapan fisik. Misalkan bagi yang berusia 50 tahun ke atas atau yang mempunyai penyakit tertentu bisa berkonsultasi dengan dokter. Keempat adalah persiapan harta, khususnya untuk zakat, infaq dan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama bulan Ramadhan.

"Kebutuhan di bulan Ramadhan biasanya semakin membengkak. Ini kalau tidak dipersiapkan sebelumnya maka selama Ramadhan akan disibukkan saja dengan mencari harta untuk pemenuhan kebutuhan," ujar Ust. Hamzah.[Filkom/Humas UB]

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID