Prasetya Online

>

Berita UB

Tangkal Radikalisme Melalui Pembinaan Pekerti dan Kepemimpinan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh zenefale pada 01 October 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 485

Kolonel Bagus Suryadi memberikan pembekalan  dan materi wawasan kebangsaan dihadapan mahasiswa baru
Kolonel Bagus Suryadi memberikan pembekalan dan materi wawasan kebangsaan dihadapan mahasiswa baru
Mahasiswa Universitas Brawijaya tidak hanya dituntut mampu berprestasi dalam dunia keilmuan, namun juga dapat berperan sebagai agent of change dalam kehidupan serta perkembangan bangsa melalui potensi pemikiran serta budi pekerti. Tingginya keilmuan yang dimiliki seseorang tak menjadi jaminan bahwa masyarakatnya memiliki kehidupan sosial yang baik. Pemuda hendaknya memiliki pribadi yang menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa di kancah internasional melalui etika, moral dan jiwa kepemimpinan. Hal ini lah yang diharapkan kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangkaian jelajah almamater "Pembinaan Budi Pekerti serta Kepemimpinan", Sabtu (29/10).

Kolonel Bagus Suryadi Tayo, Danrem 083 Baladhika Jaya mengungkapkan bahwa Indonesia sedang melangkah menuju generasi emas 2045. Karena itu peran pemuda harus dioptimalkan dengan benar, menjadi pribadi yang selaras dengan koridor pancasila dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. "Pemuda harus ditanamkan pendidikan agama yang baik, rasa kebangsaan, serta cinta tanah air untuk menghadapi tantangan global yang saat ini memiliki pengaruh cukup besar. Nilai-nilai pancasila yang telah mempersatukan 1.128 dan 731 bahasa daerah di Indonesia sudah selayaknya menjadi pandanganmahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di UB sendiri," ungkapnya.

 

Dengan mengusung tema "Indonesia dalam Genggaman Pemuda", mahasiswa UB diharapkan agar dapat terhindar dari radikalisme. Menangkan isu-isu yang dapat menyebabkan konflik maupun terorisme melalu fanatisme, anarkis serta intoleransi. Hal tersebut juga sangat relevan dengan situasi saat ini, mengingat UB merupakan salah satu kampus terbesar di Indonesia yang sempat menjadi sasaran radikalisme. "Peristiwa besar yang berlatar belakang konflik seperti Ambon dan tragedi Poso merupakan sejarah yang dapat membuka mata generasi muda bangsa. Belum lagi kasus-kasus yang menimbulkan pertikaian dengan mengatasnamakan agama. Sudah menjadi tugas setiap mahasiswa untuk memahami pengetahuan mengenai radikalisme agar mereka dapat menjauhi dan terhindar dari hal-hal tersebut," tambahnya.

Sebanyak 11.033 maba turut hadir dalam rangkaian kegiatan ini. Pelaksanaan PBPK terdiri dari beberapa acara. Mulai dari materi kerohanian, wawasan kebangsaan, mentoring, doa bersama hingga ESQ. Semua itu merupakan langkah-langkah UB untuk menangkal paham-paham negatif yang umumunya merujuk kepada mahasiswa baru. [indra]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID