Prasetya Online

>

Berita UB

Syafi'udin: Pantang Menyerah & Tawakal

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFT pada 12 Desember 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 524

Achmad Syafi'udin, ST (kanan) dan orang tua
Achmad Syafi'udin, ST (kanan) dan orang tua
Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan yang diberikan pemerintah kepada calon mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi unggulan sampai lulus tepat waktu.

Secara umum beasiswa ini didapatkan dengan cara mendaftar di sekolah masing-masing menjelang ujian akhir nasional. Namun hal itu tidak berlaku untukku. Bapak adalah pensiunan PNS dan ibu seorang ibu rumah tangga dengan tanggunan 4 orang anak. Meski demikian di SMA aku tidak diperkenankan pihak sekolah untuk mendaftar bidikmisi karena kriteria ekonomi yang kurang sesuai menurut pihak sekolah.

Tidak putus harapan, orang tua tetap mendorongku untuk meneruskan studi dan aku harus tetap kuliah dengan asumsi di kampus akan ada banyak tawaran beasiswa di awal semester.

Setelah diterima di kampus impianku, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB), segala usaha kulakukan untuk mencari beasiswa tanpa terpikirkan lagi peluang bidikmisi yang dahulu terhempas.

Allah menakdirkan lain, tiba-tiba seorang senior fakultas memberitahu bahwa bidikmisi dapat diurus secara susulan di Rektorat bagian kemahasiswaan. Aku segera menuju rektorat menanyakan kabar tersebut dan mengurus berkas-berkas yang diperlukan. Setelah semua berkas siap, aku kembali ke rektorat dan dihadapkan dengan petugas yang berbeda dari kemarin. Berkasku ditolak dan argumenku pun banyak dipatahkan.

Seorang mahasiswa baru, berjalan sendirian naik turun lantai rektorat, pulang ke Mojokerto mengurus berkas ke Kelurahan, Polsek, Puskesmas, dan kembali lagi ke Malang mengurus berkas sendirian, ternyata ditolak. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan sedih dan letihnya. Kembali, Allah menunjukkan kuasa-Nya, beberapa pekan setelah penolakan, pihak rektorat menelpon untuk proses pendaftaran bidikmisi susulan online. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dan keluarga di rumah turut bahagia. Rizki telah diatur dan tidak pernah tertukar.

Aku menyadari bidikmisi adalah amanah dari Allah yang harus digunakan dengan benar. Aku pun menyadari banyak di luar sana yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Tidak boleh ada kata bermalas-malasan apalagi berfoya-foya dengan dana bantuan yang diberikan.

Maka dari itu aku bertekad untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi, mampu membanggakan keluarga dan almamater. Aku ingin menjadi contoh baik bagi teman-teman dan adik tingkat nanti. Maka aku mulai mengikuti ajang perlombaan PKM Maba dan terus mengasah kemampuan yang kumiliki.

Lomba demi lomba ku ikuti namun dari sekian tidak ada yang berhasil, tetapi aku tidak menyerah. Akademik dan tugas perkuliahan pun tidak aku lupakan sebagai tujuan pertama masuk perguruan tinggi. Aku meyakinkan diri mampu menyelesaikan perkuliahan tepat waktu dan menghasilkan banyak prestasi secara bersamaan.

Jika keyakinan adalah modal awal untuk meraih sesuatu maka benarlah pepatah ini. Perjuangan dari semester satu akhirnya membuahkan hasil di semester lima. Aku berhasil memenangkan LKTI Nasional di IPB sebagai juara umum bersama dua teman sejurusan. Ternyata keberhasilan ini memancing keberhasilan selanjutnya. Aku dan rekan lab berhasil menjuarai lomba nasional Mechanical Innovation Design Contest sebagai juara 2 mengalahkan ITB, Undip, ITS dan lainnya. Kemudian lomba rancang bangun mesin nasional BKSTM berhasil menjadi juara empat.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dan dengan memenangkan berbagai perlombaan aku bisa membayar uang kontrakan dengan uang sendiri sejak semester lima sampai lulus. Orang tua juga sering mengingatkan untuk bersedekah rutin setiap hari agar rizki yang diterima tambah berkah.

Puncak dari perjalanan aku adalah di semester tujuh ketika mulai menghadapi tugas akhir dan aku masih mengikuti lomba. Aku bergabung dengan tim PKM dari FMIPA ditambah satu orang dari elektro. Aku tetap meyakinkan diri bahwa lomba tidak akan mengganggu tugas akhir jika aku mampu mengatur waktu dengan baik. Paragraf demi paragraf aku susun dan langkah demi langkah PKM kami kerjakan.

Alhamdulillah, pada akhirnya aku lulus ujian komprehensif dengan nilai sangat memuaskan IPK 3,44, hampir cumlaude, dengan waktu 3,8 tahun. Serasa mendapat bonus, kelompok PKM ku lolos ke PIMNAS 30 di Makassar. Tidak berhenti disitu, kami berhasil menjuarai PKM-KC, medali perunggu kategori presentasi dan medali emas kategori poster. Dan ternyata masih keberuntungan masih berlanjut, sepulang dari PIMNAS kami diundang MetroTV untuk tampil di acara Kick Andy!, sebuah kebanggan bagi kami bisa tampil di salah satu acara prestigious di Stasiun TV Nasional. Keluarga, khususnya orang tua pun ikut bahagia dan bangga mendengar kabar tersebut.

Selama ini yang aku rasakan, kunci dari semua keberhasilan ini adalah doa dan usaha. Bukan hanya doa kita namun doa orang tua khususnya ibu benar-benar berdampak besar. Aku selalu ingat perkataan ustadku, “Jika orientasi hidup kita adalah dunia maka hanya dunia yang kita dapat. Namun jika orientasi hidup kita adalah akhirat maka akhirat beserta dunia yang mengikutinya akan kita dapatkan”. Aku juga selalu ingat perkataan Pak Dahlan Iskan, “Setiap orang punya jatah gagal maka habiskan jatah gagalmu ketika masih muda. Semakin sering kamu gagal maka semakin sukses kamu di masa depan”. [Syafi'udin/PSIK FT/Humas UB]

Achmad Syafi’udin, ST
Lulusan Jurusan Teknik Mesin FTUB angkatan 2013
Putra ke 3 dari Ali Bari & Tutik Rahayu

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID