Prasetya Online

>

Berita UB

Standar Kehidupan Rendah, Masyarakat Pedesaan Lebih Rentan Zoonosis

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 10 Desember 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 486

Prof. Stanley G. Fenwick
Prof. Stanley G. Fenwick
Penanganan zoonosis di Indonesia dinilai telah cukup memadai. Peran komisi nasional zoonosis yang telah tergabung dengan organisasi internasional seperti FAO dan WHO turut berkontribusi dalam mengontrol zoonosis. Di antara kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan sumber daya manusia, seperti peningkatan kapasitas lulusan kedokteran hewan. Selama lebih dari 15 tahun, FAO turut ambil bagian dalam peningkatan standar dokter hewan terutama di tingkat pedesaan.

Hal ini disampaikan Prof. Stanley G. Fenwick, Ph.D, MSC, BVMS dari Cummings School of Veterinary Medicine TUFTS University Amerika Serikat dalam kuliah tamu yang diselenggarakan di Fakultas Kedoteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) pada Senin (26/11/2018). Ia memaparkan tentang Masalah dan Tantangan dalam One Health dan Profesi Kedokteran Hewan. Kuliah tamu ini merupakan bagian dari kegiatan visiting professor sebagai agenda program 3 in 1 di FKH UB yang diselenggarakan selama empat hari (26-30/11/2018). Sesi Prof. Stanley diikuti oleh mahasiswa semester 3 mata kuliah Patologi Anatomi.

Dengan standar kehidupan yang rendah penyakit lebih banyak menyerang masyarakat pedesaan. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu tantangan terbesar guna mengatasi hal ini. Fenwick menilai model bootom up lebih tepat dengan melibatkan masyarakat seperti pendidikan zoonosis di sekolah-sekolah. Penanganan zoonosis menurutnya melibatkan 3 komponen yakni people, animal and environment.

Flu burung merupakan penyakit epidemic terbesar yang dihadapi Indonesia. Selain itu, masing-masing kawasan menghadapi kasus epidemik yang berbeda-beda, seperti rabies di Bali dan antraks di Sumbawa. Dari hasil pengamatan Fenwick di berbagai negara, banyak faktor baik langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi penyebaran zoonosis.

Seperti kasus Nipah Virus yang ditemukan di Bangladesh dengan kelelawar sebagai agennya. Fenwick menyampaikan bahwa peningkatan perekonomian melalui intensifikasi (seperti peternakan babi) dan diversifikasi (seperti penanaman kelapa sawit) telah membentuk ekosistem baru. Kelelawar diketahui banyak hinggap di pohon nipah sehingga dinamakan Nipah virus. Nipah-Like Virus juga ditemukan di Filipina dimana 14 orang telah ditemukan meninggal dan 10-12 kuda mati, selain anjing dan kucing. Virus identik yang bernama Henipa Virus juga ditemukan di Australia yang telah membunuh ratusan kuda.

Bersama perguruan tinggi lain di Indonesia, UB utamanya FK dan FKH berpartisipasi aktif dalam Indohun untuk melakukan capacity building seperti pengembangan kurikulum dan pelatihan staf. Indohun (Indonesia One Health University Network) merupakan bagian dari SEAOHUN (South East Asia One Health University Network).

Materi lain yang juga dipaparkan dalam kesempatan tersebut adalah Zoonotic Disease in Asia: Past, Recent and Future, Methodology for Investigation and Control of Infectious Diseases, serta System Thinking for One Health Professionals.

Terkait program 3 in 1 yang melibatkan professor asing, FKH UB telah memiliki partner guru besar dari berbagai negara seperti Dr. Mark Duncan (Companion Animal Clinic, Christchurch, New Zealand ) untuk bidang animal clinic, Prof. Stanley G. Fenwick (TUFTS University Amerika Serikat) bidang Pathology and Zoonosis, Prof. Shih-Chu Chen (National Pingtung University of Science and Technology Taiwan) dengan kepakaran Fish Diseases, Dr. Ma Asuncion Beltren (Tarlac Agricultural University, The Philippines) dengan bidang Veterinary Public Health, Prof. Jong Mi Kim (Kangwon National University, Korea Selatan) dengan kepakaran English Linguistic dan Prof. Sang Jip Ohh (Kangwon National University Korea Selatan) dengan bidang Animal Nutrition and Health. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID