Prasetya Online

>

Berita UB

Smart IB, Solusi Permasalahan Kegagalan Reproduksi Ternak

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh dinaoktavia pada 28 Mei 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 542

Perwakilan SMART IB di INIIC 2018 Malaysia
Perwakilan SMART IB di INIIC 2018 Malaysia
Smart IB merupakan aplikasi pelayanan inseminasi buatan (IB) secara online yang diperuntukkan bagi peternak Sapi Perah dan Pedaging. Smart IB merupakan solusi atas permasalahan rendahnya angka keberhasilan IB terhadap ternak sapi yang dipelihara. Aplikasi ini dibuat oleh enam mahasiswa Universitas Brawijaya yang terdiri atas tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) dan tiga mahasiswa Fakultas Peternakan (FAPET). Mereka adalah Puguh Harianto (FAPET/2015), Pranaya Arya Satya (FAPET/2015), Wahyu Nindasari (FAPET/2016), Arlian Gutama (TIF/2015), Tri Rahayuni (TIF/2015) dan Krismiati (TIF/2015). Mereka berada dibawah bimbingan dosen FAPET dan FILKOM yaitu Dr. Ir. Gatot Ciptadi, DESS dan Nurizal Dwi Priandani, S.Kom., M.Kom.

Disampaikan oleh Krismiati bahwa dirinya bersama tim telah melakukan penelitian pada Kelompok Tani Sapi Perah dan Pedaging Pandermania, salah satu kelompok ternak yang bermukim di Lereng Gunung Panderman, Kota Batu. Hasil dari penelitian tersebut diketahui bahwa anggota kelompok ternak harus menghubungi inseminator apabila ternak menunjukkan tanda-tanda birahi pada waktu pagi dan inseminator baru akan datang saat sore atau malam hari. Mayoritas peternak juga tidak melakukan kegiatan recording atau pencatatan siklus birahi pada setiap ternak betina yang dipelihara sehingga saat sedang birahi tidak dapat terdeteksi. Padahal lamanya masa birahi untuk sapi dewasa rata-rata 18 jam, sedangkan untuk sapi dara rata-rata 15 jam. Hal tersebut mengakibatkan tingginya angka kegagalan IB yang berdampak pada kerugian dari segi ekonomi dan hasil usaha menjadi menurun. Oleh karena itu Smart IB dibuat sebagai salah satu solusi atas permasalahan tersebut.

Dengan Smart IB maka peternak dapat lebih mudah menemukan dan menghubungi inseminator yang siap memberikan layanan pada saat ternaknya dalam masa birahi. Dengan demikian maka IB bisa diberikan dengan segera, sehingga kemungkinan keberhasilannya lebih tinggi. Tidak hanya itu, Smart IB juga didukung fitur recording untuk mempermudah peternak dalam mengetahui siklus birahi ternak yang dipelihara. SMART IB juga dilengkapi fitur pendukung lainnya meliputi konsultasi online, pilihan jenis semen, info ternak dan berita seputar dunia peternakan Indonesia.

Karena berbagai keunggulan manfaatnya tersebut Smart IB berhasil lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017 dan mendapatkan pendanaan dari DIKTI tahun 2018. Selain itu Smart IB juga telah membawa Krismiati dan timnya meraih medali emas pada International Invention & Innovative Competition 2018 di Kuala Lumpur Malaysia (12/5/2018). Rencananya Smart IB akan terus dikembangkan hingga benar-benar dapat diimplementasikan dalam dunia peternakan tingkat nasional di Indonesia.

"Rencana mau kita kembangkan sampai benar-benar siap digunakan. Kemudian kita juga mau mengupayakan kerjasama dengan Dinas Peternakan Kota Malang dan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari untuk implementasi lebih lanjut," jelas Krismiati. [fapet/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID