Prasetya Online

>

Berita UB

Slamet Thohari: Asian Para Games Suarakan Inklusivitas Difabel

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 05 October 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 547

Slamet Tohari
Slamet Tohari
Olahraga memang seharusnya milik kita bersama tanpa terkecuali dan tanpa batasan. Hal ini dibuktikan dengan penyelenggaraan Asian Para Games 2018 di Indonesia yang dilaksanakan pada (6-13/10/2018). Penyelenggaraan Asian Para Games 2018 ini juga menunjukan bahwa atlet difabel mendapatkan perlakuan yang sama di Indonesia.

Slamet Thohari, dosen Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya memaparkan masuknya difabel untuk menikmati atmosfer perhelatan kompetisi olahraga bukanlah yang pertama kali.

Kata 'Para' disini berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'Sisi Lain'. Perlombaan olahraga ini bukan untuk mendiskriminasikan tetapi memberikan porsi yang sesuai dan lebih menghargai difabel serta menganggap difabel setara dengan non difabel. Slamet Thohari menyayangkan jika Asian Para Games 2018 menempatkan difabel sebagai "objek inspirasi".

"Akar dari difabel sebagai inspirasi, jika dirunut, adalah pandangan difabel sebagai makhluk lemah dan memiliki ketidakmampuan. Jadi, manakala difabel melakukan hal yang biasa dilakukan nondifabel, maka akan tampak istimewa," ujar Slamet .

Asian Para Games seharusnya memberikan warna bagi masyarakat agar menerima perbedaan. Ajang tersebut dapat menyuarakan inklusivitas bagi difabel, mengedukasi bahwa difabel menjadi bagian dari perbedaan dalam masyarakat. [02/Fariza/Humas FISIP]

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID