Prasetya Online

>

Berita UB

Sivitas Akademika UB Ikuti Upacara Memperingati Hari Kelahiran Pancasila

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 01 Juni 2019 | Komentar : 0 | Dilihat : 358

Upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila
Upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila
Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara dan pandangan hidup bangsa yang digali oleh para "pendiri bangsa", merupakan suatu anugerah yang tiada tara dari Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia. Demikian diucapkan Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS pada upacara bendera dalam rangka peringatan hari kelahiran Pancasila, Sabtu (1/6/2019). Dalam kesempatan ini, rektor membacakan sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kepada segenap sivitas akademika UB.

"Walaupun kita sebagai bangsa masih belum secara sempurna berhasil merealisasikan nilai-nilai Pancasila, kita akui bahwa eksistensi keindonesiaan baik sebagai bangsa maupun sebagai negara masih dapat bertahan hingga kini berkat Pancasila," tuturnya.

Rektor melanjutkan, Pancasila sebagai bintang penuntun keberagaman yang ada, dirajut menjadi identitas nasional dalam wadah dan slogan "Bhinneka Tunggal Ika". Dalam konteks itulah, sesuai dengan pesan Presiden Jokowi bahwa memperingati dan merayakan hari kelahiran Pancasila setiap tanggal 1 Juni merupakan suatu keniscayaan. Pertama, merefleksikan momentum sejarah dimana pendiri bangsa berhasil menggali nilai-nilai fundamental bangsa Indonesia sebagai dasar negara.

"Untuk menghormati jasa pendiri bangsa sekaligus meneguhkan komitmen terhadap ideologi negara itulah kita memperingati hari kelahiran Pancasila sebagai salah satu kebanggaan nasional," tandasnya.

Dengan merayakan hari kelahiran Pancasila, kita bangun kebersamaan dan harapan untuk menyongsong kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Pancasila sebagai "Leitstars dinamis", bintang penuntun mengandung visi dan misi negara yang memberikan orientasi, arah perjuangan dan pembangunan bangsa ke depan.

Sebagai negara bangsa yang inklusif dan tidak chauvinis diperlukan pengelolaan unit kultural dan unit politik secara dialektis. Maksudnya keberagaman yang ada secara alami dan kultural harus dikelola dan dikembangkan untuk membangun "Tamansari Kebudayaan" yang memungkinkan semua makhluk hidup tumbuh sesuai dengan ekosistem yang sehat.

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan kesadaran dan pemahaman untuk saling menghormati, saling bekerjasama, bergotong royong dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Kondisi demikian dapat berkembang melalui budaya politik kewargaan yang demokratis. Budaya politik yang dapat menumbuhkan dan merawat harapan, bukan politik yang menimbulkan ketakutan.

"Melalui peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni 2019, Pancasila perlu dijadikan sebagai sumber inspirasi 'politik harapan' dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita semua harus terus menerus secara konsisten merealisasikan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara dan pandangan dunia yang dapat membawa kemajuan dan kebahagiaan seluruh bangsa Indonesia," pungkasnya. [Irene] 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID