Prasetya Online

>

Berita UB

Sinergitas Kepolisian dan Sivitas Akademika Jelang Pilpres dan Pileg 2019

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 12 Desember 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 362

Prof. Sjamsiar Sjamsudin (tengah) menghadiri Sinergitas kepolisian dan sivitas akademika di Polda Jatim
Prof. Sjamsiar Sjamsudin (tengah) menghadiri Sinergitas kepolisian dan sivitas akademika di Polda Jatim
Prof. Dr. Sjamsiar Sjamsuddin, Guru Besar Bidang Hukum Administrasi Negara Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) memenuhi undangan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur pada Jum'at (7/12/2018). Acara bertajuk "Sinergitas Sivitas Akademika Dengan Polri dalam Mewujudkan Situasi Kamtibmas Jatim yang Kondusif Menjelang Pileg dan PIlpres Tahun 2019" ini diselenggarakan di Gedung Patuh Mapolda Jatim.

Dalam sambutannya di acara tersebut, Kapolda Jatim Irjen Pol. Drs. Lucky Hermawan mengharapkan adanya sinergitas dan saling kerjasama antara sivitas akademika dan Kepolisian Republik Indonesia dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Jawa Timur yang kondusif menjelang Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019.

Menindaklanjuti kehadirannya di acara tersebut, Kepada PRASETYA Online Prof. Sjamsiar menandaskan perlunya sinergitas dan komunikasi antar aparatur pemerintah, baik sipil, kepolisian maupun militer.

Sinergitas, menurut Prof. Sjamsiar bisa diawali dengan harmonisasi. Terkait hal ini ia mencontohkan penanganan demonstrasi saat ada perbedaan pendapat di kampus. "Jika pihak Rektorat tidak bisa mengatasi maka kepolisian menjadi solusinya," kata Sjamsiar.

Jelang Pemilihan Presiden dan Legislatif, Prof. Sjamsiar selalu menghimbau mahasiswa yang notabene merupakan pemilih millennial, agar lebih cerdas. Karena merupakan ASN, dirinya dituntut untuk bisa netral saat memberi masukan kepada mahasiswa. Ia menghimbau para pemilih untuk bisa mengevaluasi kandidat melalui kinerja, kepemimpinan dan kejujuran.

Sjamsiar menyampaikan, calon Petahana dalam pemilihan presiden dituntut lebih jujur karena lebih rentan menggunakan jaringan petahananya. "Pejabat politik seharusnya mengajukan cuti begitu menyatakan dirinya sebagai calon," katanya. Hal ini, kata dia, berbeda dengan pemilihan Rektor dan Dekan yang tidak ada cuti karena tidak berbasis politik.

Terkait pemilihan legislative, masyarakat yang tidak mengenal si calon diprediksi akan lebih banyak memilih calon nomor 1 (satu). "Calon di Malang saja tidak kenal, apalagi Jawa Timur dan pusat," katanya.

Sinergitas Kepolisian Republik Indonesia dengan sivitas akademika diharapkan Sjamsiar bisa menghasilkan kerjasama yang lebih strategis. Dalam melaksanakan tugasnya, kepolisian dituntut memahami regulasi yang terkait dengan kebijakan publik. Universitas Brawijaya, khususnya Fakultas Ilmu Administrasi dan Fakultas Hukum telah melahirkan alumni perwira tinggi yang melanjutkan studi pascasarjana. Salah satu bimbingan Prof. Sjamsiar adalah AKBP. Christofel Bagaisar, S.Pd., SS., M.Pd yang mengambil program Administrasi Publik di UB. Lulus tahun 2013, Christofel Bagaisar mengambil disertasi berjudul "Kemampuan Perpolisian Masyarakat (Polmas) Berkontribusi Guna Penanggulangan Konflik Antar Kelompok Masyarakat Dalam Perspektif Interactive Governance (Studi Kasus Konflik Antar Kelompok Masyarakat di Kalabahi, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur)". [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID