Prasetya Online

>

Berita UB

Sebuah Tren Global, Hewan Peliharaan Sebagai Kebutuhan Tersier

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 17 September 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 1418

Acara Bonsai, Bincang dan Obrolan Santai, bersama pakar Universitas Brawijaya (UB) yang diselenggarakan Humas UB pada Jumat (15/09/2017) sekaligus menjadi ajang pisah sambut pimpinan Sub Bagian Kearsipan dan Humas UB. Kepala Sub Bagian Kearsipan dan Humas sebelumnya, Pranatalia Pratami Nugraheny, S.AB dimutasi sebagai Kepala Sub Bagian Kerjasama pada Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan. Sementara Kepala Sub Bagian Kerjasama sebelumnya, Drs. Kotok Gurito, menempati posisi sebagai Kepala Sub Bagian Kearsipan dan Humas. Sehingga keduanya saling bertukar posisi.

Pisah sambut kedua pejabat tersebut dilakukan di hadapan puluhan wartawan yang menghadiri acara Bonsai di Guest House UB.

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, dua orang pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB memaparkan pandangan mereka. Keduanya adalah Drh. Dodik Prasetyo, M.Vet yang menyampaikan isu "Perlindungan Hewan Peliharaan dan Penyakit Hewan Menular", sementara Taufiq Ismail, SE,SS.MM memaparkan pandangan tentang "Kelas Menengah, Kebutuhan Tersier dan Hewan Peliharaan dari Perspektif Pemasaran".

Dalam presentasinya, Dodik menyampaikan lima hal yang harus dipahami pemilik hewan peliharaan yang dikenal dengan "Five Freedom" untuk "Animal Welfare". Kelima hal tersebut adalah hewan peliharaan harus terbebas dari rasa lapar dan haus, terbebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit dan penderitaan, bebas dari rasa takut dan stress serta bebas mengeskpresikan normal behaviour mereka.

Di negara maju seperti Inggris, hewan peliharaan menurut Dodik bisa didaftarkan sebagai anggota keluarga, sehingga perlakuan kepada mereka pun mirip seperti manusia. Tren tersebut kini mulai berkembang di kota besar Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya.

Seperti disampaikan Taufiq Ismail, jika di negara maju hewan peliharaan diperlakukan sebagai anggota keluarga, maka di Indonesia mereka adalah pelengkap.

Seiring dengan pergeseran pendapatan dan tren belanja masyarakat, terutama kelas menengah, maka memiliki hewan peliharaan adalah sebuah kebutuhan tersier yang mengarah pada gaya hidup. Kepemilikan hewan peliharaan sebagai gaya hidup bahkan menurutnya telah menjadi tren global. Di Amerika Serikat ia mencontohkan, sebanyak 88.9 juta anjing dipelihara pada 2017. Harga hewan peliharaan pun fantastis, yang tentu saja menuntut harga perawatan yang fantastis pula. Salah satu bintang mancanegara, Britney Spears, sebagaimana disebutkan Taufiq, bisa menghabiskan 30 ribu USD untuk merawat anjing peliharaannya. Sementara di Swiss, belanja hewan peliharaan mencapai 689 juta dollar dan di Inggris mencapai 34.29 juta poundsterling.

Taufiq kemudian menyimpulkan adanya celah pasar dan potensi ekonomi dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan tersier yang lebih berorientasi pada kesenangan dan prestise, seperti belanja mobil mewah dan hewan peliharaan. Menurutnya hal tersebut merupakan peluang bisnis cukup menjanjikan, yang bisa menggeser pespektif benefit menjadi profit. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID