Prasetya Online

>

Berita UB

SAEKOJI (Save Kopi Taji), Kembalikan Kelestarian Lingkungan Desa Taji

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 08 Juni 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 378

Tim PKM SAEKOJI
Tim PKM SAEKOJI
Bukan masalah baru lagi jika jumlah luas hutan-hutan di Indonesia semakin berkurang akibat alih fungsi lahan yang menyebabkan hutan semakin gundul. Rendahnya kesadaran lingkungan serta tuntutan ekonomi yang tinggi menyebabkan warga sekitar hutan mengelola hutan menjadi sumber penghasilan tanpa memikirkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Salah satunya terjadi di desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Desa Taji merupakan desa yang terletak di dataran tinggi dengan luas area hutan yang semakin menipis. Hal ini karena tingginya alih fungsi hutan menjadi pertanian sayur secara konvensional.

Desa Taji yang dahulu penuh akan hutan kayu dengan Kopi Arabika sebagai simbol penghasilan daerah, berubah sejak jatuhnya harga kopi pada tahun 1990-an. Warga beralih tanam dari kopi ke sayur untuk memenuhi ekonomi rumah tangga. Namun akibat jangka panjangnya, kini desa Taji berpotensi bencana longsor.

Berangkat dari hal tersebut, lima mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP-UB) melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan tujuan mendukung keberlanjutan di desa Taji. Mereka adalah Eko Setiyono, Dzikronah, Farika Hani, Alfiana Damayanti, dan Dhita Karunia Vrasna. Dengan bimbingan dosen Dwi Retnoningih, S.P., MP., MBA, mereka menggagas kegiatan tersebut melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh KEMENRISTEK DIKTI.

Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang
Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang
Disampaikan Eko, program ini mendapatkan dukungan langsung dari Perhutani, Babinsa, dan PPL Desa Taji, serta BPP2TP Kementerian Pertanian. Program dilakukan untuk menghijaukan kembali lingkungan berbasis pertanian belanjut dengan aspek ekologi, ekonomi, sosal dan budaya. Masyarakat desa diajak kembali menyehatkan lingkungan hutan tanpa menyebabkan masalah bagi ekonomi rumah tangga dengan beralih tanam sayur menjadi kopi arabika yang dinaungi oleh tanaman hutan kayu.

Melalui program tersebut, mereka mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan serta mengajarkan manajemen agribisnis kopi yang baik mulai dari budidaya kopi hingga pemasaran kopi. Hal ini dilakukan untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai rendahnya potensi ekonomi budidaya kopi serta potensi alam desa. "Semakin tingginya masyarakat yang beralih tanam menjadi kopi dan hutan kayu, diharapkan akan menyembuhkan wilayah hutan yang kini masih sakit, sehingga lingkungan menjadi indah dan akan tetap dapat dinikmati oleh anak cucu nantinya," pungkas Dzikronah. [Dzikronah/Irene] 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID