Prasetya Online

>

Berita UB

Program Pengabdian Masyarakat oleh FIB UB di Dusun Kapru, Desa Gunungsari

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafib pada 09 Agustus 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 154

Dusun Kapru
Dusun Kapru

Program Pengabdian Masyarakat di Dusun Kapru Desa Gunungsari telah berjalan sejak bulan Juli 2018. Tema yang diusung adalah pelestarian kesenian dan budaya serta potensi alam di Dusun Kapru. Pemilihan tema tersebut karena Dusun Kapru memiliki potensi seni budaya dan juga beberapa potensi alam.

Dusun Kapru, apabila dilihat dari potensi wisatanya, sangatlah kurang jika dibandingkan dengan dusun - dusun lainnya di Desa Gunungsari karena dari luasan lahan, Dusun Kapru tidak memiliki tempat wisata seperti lahan petik apel, jeruk, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Isti Purwaningtyas, M.Pd beserta tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) di Dusun Kapru lebih memusatkan perhatiannya terhadap kesenian dan budaya seperti aktivitas bersih desa, slametan, dan kesenian Reog yang harapannya bisa menjadi potensi wisata Dusun Kapru.

Tim Pengabdian Masyarakat terus berkoordinsi dengan Kepala Dusun Kapru tentang apa yang diinginkan oleh masyarakat setempat. Dari hasil koordinasi tersebut, tercetus bahwa ada potensi makanan khas daerah yang bernama Ladu dapat dikembangkan. Ladu merupakan keripik yang empuk dan gurih. Camilan khas kota Batu  tersebut diharapkan bisa lebih banyak dikenal oleh masyarakat.

Ladu sendiri bukan makanan khas Dusun Kapru, namun Dusun Kapru ingin mengembangkan makanan tradisional tersebut. "Dusun Kapru ingin menjadi sentra produksi Ladu," Isti Purwaningtyas, M.Pd menjelaskan.

Pihak yang terlibat dalam program Pengabdian Masyarakat tersebut yakni Dyah Rahayuningtyas, M.A dari Program Studi (Prodi) Antropologi dan beberapa mahasiswa Prodi Antropologi FIB UB.

Dalam tahapannya, tim mengadakan pembicaraan dengan Kepala Dusun, Karang Taruna dan para aktivis Dusun Kapru dengan mengajukan proposal dalam bentuk program kerja bersama. Mereka membagi pekerjaan bersama tim dan juga para perangkat desa. Setelah itu program pun dapat dijalankan bersama.

Terdapat beberapa kendala dalam menjalankan progam tersebut, namun kendala yang paling besar adalah pola pikir masyarakat Desa Gunungsari (tidak hanya Dusun Kapru) yang kurang terbuka terhadap potensi pariwisata, jadi semuanya masih bersifat agraris.

"Dusun Kapru sendiri, karena mereka tidak terlalu memiliki potensi alam, memerlukan pendampingan dan suntikan motivasi supaya mereka sadar bahwa mereka juga bisa lebih percaya diri dan maju seperti dusun lainnya," Isti Purwningtyas, M.Pd memberi saran.

Isti Purwningtyas, M.Pd juga berharap agar masyarakat Dusun Kapru bisa bergerak dan meningkatkan motivasi sehingga  pengelolaaan pariwisata menjadi lebih baik. Langkah-langkah selanjutnya diperlukan untuk bisa dijalankan oleh masyarakat dan aparat desa secara terus-menurus setelah selesainya progam Pengabdian Masyarakat yang berakhir pada bulan September 2018 ini. (Afandi/DT/MSH/PSIK FIB/Humas UB)

 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID