Prasetya Online

>

Berita UB

Prof Soekartawi: Entrepreneurial University Memang Menjanjikan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetya1 pada 23 Maret 2008 | Komentar : 0 | Dilihat : 7917

Prof. Soekartawi foto bersama
Prof. Soekartawi foto bersama
Konsep entrepreneurial university (EU) sebenarnya menjanjikan kalau dilaksanakan sesuai dengan konsepnya. Sayang, dalam  kenyataan EU sering disalahgunakan. Maka tidak heran kalau banyak kalangan yang menolaknya. Hal ini karena orang mencampuradukkan antara EU dan entrepreneur university. Di Jakarta banyak lembaga pendidikan mendirikan entrepreneur university. Lembaga seperti ini tidak harus berbentuk universitas sebagaimana lazimnya, walaupun ia menamakan entrepreneur university. Aktivitas yang dilakukan terbatas sebagai franchise saja atau sebagai lembaga kursus. Misalnya grup kursus Primagama. Tujuannya, seperti dalam brosur, adalah menciptakan lulusan/pengusaha baru yang mandiri, kreatif dan inovatif. Kegiatan seperti ini dimungkinkan, karena Indonesia menyepakati The General Agreement on Trade in Services (GATS). Di dalam trade in services itu termasuk pula sektor pendidikan.

Demikian pendapat Prof Dr Ir Soekartawi MS, guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, dalam ceramahnya di Program Pascasarjana Universitas Prof Dr Moestopo (UPDM), Jakarta, Sabtu (22/3) kemarin.

Soekartawi membenarkan sinyalemen, banyak universitas di Indonesia salah kaprah menerapkan konsep EU. Karena itu, baik di dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional (Renstra Depdilnas) maupun Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU-Sisdiknas) tahun 2003, sudah tidak lagi digunakan istilah EU. Mengapa? Menurut Soekartawi, karena dikhawatirkan masyarakat akan keliru menerapkan konsep EU tersebut. "Masyarakat khawatir kalau terjadi komersialisasi pendidikan", tegasnya.

Terlepas EU masuk atau tidak dalam Renstra Depdiknas maupun UU-SISDIKNAS, demikian Soekartawi, kenyataan menunjukkan sudah banyak universitas yang menarik biaya masuk dan biaya SPP yang sangat mahal. Masyarakat khawatir kalau pendidikan ini hanya dimiliki orang kaya, sehingga pada masa depan akan semakin besar kesenjangan (gap) antara mereka yang kaya -- dicirikan pendidikan yang tinggi, dan mereka yang lemah -- dicirikan pendidikan yang rendah.

Dalam makalah berjudul "Entreprenurial University: Konsep dan Implementasinya dalam Meningkatkan Manajemen Produktivitas Universitas", Soekartawi berpendapat, EU itu bermanfaat sekali kalau dilaksanakan dengan benar. Karena itu ia menyarankan hendaknya pembuat kebijakan terlebih dahulu mempelajari the state of the art konsep EU, dan mempelajari apakah EU tidak menabrak perundang-undangan dan peraturan yang berlaku di Indonesia.
Soekartawi yang kini staf ahli di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pernah berpengalaman 9 tahun menjabat di Southeast Asia Ministers of Education (SEAMEO) yang beranggotakan 10 negara ASEAN dan 9 negara associate members seperti Australia, New Zealand, Belanda, Jerman, Perancis, Spanyol, Kanada, Timor Leste, dan Norwegia. [Skw]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID