Prasetya Online

>

Berita UB

Prodi PTI Gelar Upgrading Kemampuan Calon Guru Demi Tingkatkan SDM Indonesia

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh dinaoktavia pada 02 Desember 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 81

Indriyani dan Yayoi Kodama
Indriyani dan Yayoi Kodama
Berdasarkan hasil penelitian para pengamat pendidikan di Indonesia diketahui bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum berjalan dengan baik. Sistem tersebut dianggap belum berjalan optimal karena kualitas guru yang rendah, dan suasana pembelajaran di sekolah yang tidak kondusif. Kualitas guru yang rendah disebabkan oleh masalah efektivitas, efisiensi dan standarisasi pengajaran serta kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa. Hal tersebut salah satunya dikarenakan kurangnya informasi tentang metode pembelajaran ataupun media pembelajaran terkini.

Berniat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia melalui peningkatan kualitas tenaga pengajarnya, Jurusan Sistem Informasi FILKOM UB menyelenggarakan kegiatan upgrading kemampuan calon guru bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (Prodi PTI) yang dipersiapkan sebagai calon pengajar, pada Kamis (22/11/2018).

Sebagai pembicara hadir pada kesempatan tersebut Professor Yayoi Kodama dari University of Kitakyushu Jepang dan Dr.Eng Indriyani Rachman dari FIB UB. Ketua pelaksana kegiatan Faizatul Amalia, S.Pd., M.Pd. mengungkapkan mahasiswa peserta yang hadir adalah mahasiswa prodi PTI semester 5 dan 7 yang sedang dan akan mengambil Skripsi.

Yayoi Kodama sebagai pemateri pertama menyampaikan informasi tentang sistem edukasi yang diterapkan di Jepang. Dijelaskan bahwa pendidikan wajib di Jepang adalah elementary school dan secondary school. Selain mendapatkan pembelajaran akademis para siswa di Jepang juga diajarkan berbagai hal terkait hal non akademis. Para siswa banyak diajarkan tentang hubungan antar makhluk hidup melalui penugasan pada praktek kehidupan sehari-hari, antara lain dengan memberikan tanggung jawab kebersihan pada para siswa. Hal ini akan membuat para siswa sadar bahwa menjaga kebersihan adalah kewajiban setiap orang bukan tanggung jawab salah satu atau beberapa pihak atau institusi saja.

Selain itu dijelaskan pula oleh Yayoi Kodama bahwa kini kurikulum yang diberlakukan di Jepang adalah Education for Sustainable Development yaitu kurikulum yang dibuat dengan melibatkan masyarakat (society). Tujuan pembelajaran yang semula berfokus pada apa yang akan diajarkan oleh pengajar dirubah menjadi berfokus pada apa kemampuan yang diperoleh peserta didik usai pembelajaran diterapkan. Kurikulum ini mencakup environmental education dan education for international understanding. Kurikulum ini juga membuka kesempatan bagi orang tua siswa atau penduduk lokal untuk mengajarI para siswa tentang berbagai hal yang mengandung kearifan lokal seperti sejarah dari wilayah tempat sekolah yang bersangkutan berada.

Sementara itu Dr.Eng Indriyani Rachman sebagai pemateri kedua menyampaikan hasil peneltiiannya mengenai pendidikan lingkungan hidup di Kitakyushu, Jepang. Mengapa Kitakyushu dipilih sebagai obyek penelitian? Indriyani menjelaskan bahwa dahulu pada tahun 1960an Kitakyushu adalah daerah paling terpolusi di Jepang karena merupakan daerah industri yang limbah pabriknya dibuang begitu saja tanpa pengolahan. 

Namun pada tahun 1990an Kitakyushu berhasil menjadi daerah terbersih di Jepang dilihat dari kualitas udara, tanah dan airnya. Hal ini bisa terjadi karena awalnya masyarakat melakukan protes keras sebab limbah pabrik yang menyebabkan polusi lingkungan mengakibatkan anak-anaknya sakit. Karena itu pemerintah kemudian memberlakukan aturan yang ketat bagi perusahaan yang ada di wilayah itu untuk wajib memproses limbahnya hingga menjadi zat yang ramah lingkungan sebelum kemudian dibuang ke alam. Tidak berhenti disitu peran pendidikan juga sangat penting dalam menjaga keberlangsungan lingkungan yang bersih. 

Masyarakat termasuk generasi muda di daerah tersebut diberikan pendidikan lingkungan sedini mungkin. Pada sekolah dasar para siswa sudah diperkenalkan  lingkungan melalui penugasan membuat laporan pertumbuhan tanaman. Selain itu para siswa juga diajarkan tentang bagaimana mengembangbiakkan kunang-kunang yang menjadi tanda sebuah lingkungan sehat, karena kunang-kunang hanya bisa hidup di lingkungan dengan kualitas udara yang baik. 

Pendidikan semacam itulah yang saat ini dibutuhkan di Indonesia yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan namun menanamkan kepribadian dan kepedulian akan terciptanya lingkungan hidup yang lebih baik bagi seluruh makhluk dimuka bumi. Karena pada dasarnya keberlangsungan hidup suatu makhluk termasuk manusia sangat bergantung pada keberadaan makhluk hidup lainnya dan lingkungan. [dna/Humas UB]

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID