Prasetya Online

>

Berita UB

Pojok Literasi Kartini 'Habis Gelap Belum Tentu Terang'

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 25 April 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 623

FISIP UB Gelar Pojok Literasi Kartini
FISIP UB Gelar Pojok Literasi Kartini

Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar pojok literasi dengan tema “Habis Gelap Belum Tentu Terang”, Jumat, (21/4/2017) di Gazebo belakang Gedung FISIP UB. Acara yang dihadiri oleh segenap dosen dan mahasiswa ini merupakan rangkaian acara kedua pojok literasi FISIP sejak diselenggarakan, Jumat (31/3/2017) silam.

Dosen FISIP UB Primadiana Yunita, MA mengatakan tema “Habis Gelap Belum Tentu Terang” sengaja diangkat melihat banyaknya kondisi dan harapan Kartini di era post modern yang belum sepenuhnya terwujud.

‘Habis Gelap Belum Tentu Terang’ menandakan adanya gap antara harapan Kartini dan kondisi wanita di zaman sekarang. Pemahaman emansipasi dalam Kartini disalahartikan. Nita beranggapan bahwa pemahaman emansipasi Kartini disamakan dengan feminisme yang identik dengan budaya western

“Banyak masyarakat Indonesia menilai paham emansipasi yang dipahami saat ini hanya sebatas kesetaraan gender wanita dalam pekerjaan yang kemudian diversuskan dengan peran laki – laki, padahal emansipasi tidak hanya berbicara tentang itu, emansipasi dalam Kartini lebih berbicara tentang kebebasan wanita dalam mengungkap pendapat, dalam memperoleh hak pendidikan yang sama, bukan hanya berbicara tentang kedudukan wanita yang mendominasi pria,” katanya

Selain itu, dalam pemahaman feminisme Kartini tidak seharusnya secara keseluruhan dipahami dari sudut pandang barat, mengingat Indonesia lebih mengadopsi budaya timur yang ditandai dengan keberagaman agama, budaya, nilai–nilai adat dan sosial di Indonesia.

 “Menurut saya bagaimana paham feminisme yang ingin ditekankan Kartini adalah keinginan agar wanita ingin lebih dilihat perannya, dan dihargai. Hal– hal tersebut juga tidak luput dari nilai sosial dan budaya yang ada di Indonesia,  serta tidak menyalahi dan tidak  keluar dari koridor ketimuran,” Jelas Nita.

Beberapa poin penting yang ingin disalurkan melalui pojok literasi tersebut salah satunya agar kaum pria mengerti tentang paham emansipasi yang diusung Kartini. Selama ini wanita banyak diabadikan melalui hari-hari nasional seperti hari Ibu, hari Kartini, hari Perempuan Nasional.

Melalui hal tersebut wanita lebih ingin dilihat perannya mulai dari yang terkecil seperti ibu yang menjadi tempat pertama penyalur pendidikan untuk anak – anaknya.  

Keinginan wanita agar lebih diperhatikan perannya pernah disampaikan Kartini dalam suratnya pada tanggal 4 Oktber 1902.

Berikut kutipan surat Kartini kepada teman dekatnya Prof. Anton dan Nyonya Abendon dari Belanda:

 “Kartini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan, terutama untuk anak – anak perempuan, bukan sekali-kali karena menginginkan anak-anak perempuan tersebut menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena Kartini yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya untuk menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”-

 

 (Anata/Humas FISIP)

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID